Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Profesionalisme Guru dan Kurikulum Cinta Diangkat sebagai Fondasi Reformasi Pendidikan

Dhinar Sasongko • Senin, 4 Agustus 2025 | 16:28 WIB
Prof. Dr. Rasimin, M.Pd., Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Salatiga, saat menjadi narasumber dalam Seminar Pendidikan bertajuk Peluang dan Tantangan Guru Profesional di Era Digital
Prof. Dr. Rasimin, M.Pd., Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Salatiga, saat menjadi narasumber dalam Seminar Pendidikan bertajuk Peluang dan Tantangan Guru Profesional di Era Digital

RADARSEMARANG.ID, SALATIGA -
“Menjadi guru bersertifikasi adalah tekad untuk menyalakan obor profesionalisme di tengah tsunami perubahan pendidikan,” ujar Prof. Dr. Rasimin, M.Pd., Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Salatiga, saat menjadi narasumber dalam Seminar Pendidikan bertajuk Peluang dan Tantangan Guru Profesional di Era Digital yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Palopo, Sulawesi Selatan, Minggu (3/8).

Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 200 peserta yang terdiri atas guru, dosen, serta mahasiswa dari berbagai daerah.

Forum tersebut menjadi ruang temu gagasan yang memantik refleksi tentang tantangan pendidikan masa kini dan arah pembaruan yang berakar pada nilai.

Rasimin menegaskan bahwa sertifikasi guru merupakan bentuk pengakuan negara atas kompetensi pendidik.

Status ini membuka akses terhadap peningkatan kesejahteraan melalui tunjangan profesi, jalur pengembangan karier, juga penguatan posisi guru sebagai figur profesional dalam ekosistem pembelajaran.

“Guru bersertifikat memikul tanggung jawab besar dalam menjaga mutu serta integritas pendidikan di tengah arus transformasi sosial dan teknologi,” tegasnya.

Ia menyoroti pentingnya kesiapan guru dalam merespons pergeseran tatanan pendidikan yang kian digital.

Menurutnya, penguasaan perangkat belumlah cukup; guru juga perlu menjadikan teknologi sebagai jembatan untuk menghangatkan relasi belajar.

“Di tengah revolusi digital, guru mesti lentur dalam berpikir, tangguh dalam merespons perubahan. Teknologi memang berkembang, tetapi nilai-nilai harus tetap menyala,” ujarnya.

Lebih jauh, Rasimin mengingatkan pentingnya pelatihan berkelanjutan, keterlibatan dalam komunitas seperti MGMP dan KKG, serta pendokumentasian praktik mengajar yang rapi dan reflektif.

Ia mencermati tantangan struktural seperti beban administrasi tinggi, distribusi tunjangan yang belum merata, hingga hambatan akses pelatihan di wilayah tertentu.

Semua itu, katanya, menuntut ketabahan serta semangat untuk tetap melayani dengan mutu terbaik.

Pada sesi berikutnya, MS Viktor Purhanudin, M.Pd., dosen FTIK UIN Salatiga, memperkenalkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang digagas oleh Kementerian Agama Republik Indonesia dan mulai diperkenalkan secara nasional sejak 24 Juli 2025.

Kurikulum ini dirancang untuk menciptakan ruang belajar yang memberi tempat bagi kemanusiaan, kelembutan hati, serta daya peduli.

Viktor menjelaskan bahwa KBC mengedepankan lima nilai utama yang dikenal sebagai Panca Cinta: cinta kepada Tuhan, sesama, ilmu pengetahuan, lingkungan hidup, dan bangsa.

Nilai-nilai tersebut terjalin dalam seluruh proses pembelajaran maupun relasi antarindividu di satuan pendidikan Islam.

Kurikulum ini lahir dari proses kolaboratif bersama tokoh-tokoh nasional seperti Prof. Yudi Latif, Alissa Wahid, Haidar Bagir, dan Fasli Jalal.

Implementasinya dilakukan secara bertahap melalui pelatihan guru lewat platform MOOC PINTAR, program MAGIS, serta penyusunan modul pembelajaran berbasis nilai yang disesuaikan dengan konteks peserta didik.

Viktor menegaskan bahwa KBC diformulasikan untuk memperkuat dimensi batin dalam pendidikan.

Ia menekankan pentingnya relasi hangat antara guru dan murid.

“Kurikulum cinta menghidupkan kembali nurani dalam proses belajar. Dalam konteks ini, tugas guru bukan sekadar mentransfer pengetahuan, melainkan menumbuhkan kesadaran, empati, serta keadaban,” ungkapnya.

Rektor Universitas Muhammadiyah Palopo, Prof. Dr. H. Suhardi, M.S., dalam penutupan seminar menyampaikan bahwa kekuatan pendidikan bertumpu pada keberanian guru menjaga nilai, serta kelenturan kurikulum dalam memperkuat karakter.

Ia menilai lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG) memiliki fondasi pedagogis yang kokoh, sementara Kurikulum Cinta memberi arah yang menyentuh sisi kemanusiaan pendidikan.

“Pendidikan bermula dari nilai, tumbuh melalui cinta, lalu berbuah dalam karakter. Bila guru mengajar dengan kepekaan dan kurikulum menyemai makna, ruang belajar akan menjelma taman bagi akal sekaligus nurani,” ujarnya.

Seminar ini menjadi ruang penguatan bagi para pemangku kependidikan yang tengah menapaki lintasan perubahan.

Kolaborasi antara pendidik berkomitmen dengan kurikulum bernapas nilai diyakini mampu memelihara pendidikan yang utuh, membumi, serta berdaya membentuk generasi jernih pikir dan bening hati.(sas)

Editor : Tasropi
#Rasimin #UIN Salatiga #KKG #mgmp