Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Dari Salatiga untuk Dunia: Wacana Agama dan Dekolonialitas dalam Sorotan Internasional

Dhinar Sasongko • Jumat, 2 Mei 2025 | 23:08 WIB
UIN Salatiga kembali meneguhkan posisinya sebagai pusat diskusi akademik global dengan menyelenggarakan Interdisciplinary Colloquium bersama Mita dari UKSW.
UIN Salatiga kembali meneguhkan posisinya sebagai pusat diskusi akademik global dengan menyelenggarakan Interdisciplinary Colloquium bersama Mita dari UKSW.

RADARSEMARANG.ID, SALATIGA - Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga kembali meneguhkan posisinya sebagai pusat diskusi akademik global dengan menyelenggarakan Interdisciplinary Colloquium bertajuk "Religion and Decolonial Studies".

Acara ini digelar di Aula Lantai 3 Gedung Pascasarjana Kampus 1 UIN Salatiga dan dihadiri oleh lebih dari 200 peserta, termasuk pengelola pasca, dosen, mahasiswa program Doktor dan Magister, serta mitra akademik dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW).

Kegiatan ini menghadirkan dua tokoh internasional sebagai narasumber utama, yakni Prof. Salman Sayyid dari University of Leeds, UK dan Prof. Lena Salaymeh dari Université Paris Sciences et Lettres, France, yang dikenal luas atas kontribusinya dalam wacana dekolonial, studi agama, dan kritik terhadap sekularisme.

Dalam sambutannya, Prof. Asfa Widiyanto, Direktur Pascasarjana UIN Salatiga, menyampaikan bahwa kolokium ini merupakan bagian dari upaya untuk memperluas cakrawala keilmuan dan mendorong keterlibatan aktif sivitas akademika dalam wacana global yang kritis dan transformatif.

“Kita perlu menggeser posisi kita dari konsumen pengetahuan menjadi produsen gagasan, terutama dalam membongkar warisan kolonial dalam cara kita berpikir,” ujarnya.

Di akhir, Prof Asfa Selaku Direktur Pascasarjana UIN Salatiga mengucapkan terimakasih atas kehadiran kedua Narasumber yang akan menjadi sumber inspirasi pengetahuan bagi semuanya.

Prof. Salman Sayyid dalam pemaparannya mengangkat pentingnya memahami kolonialitas sebagai sistem kekuasaan yang masih hidup dalam cara kita memahami agama dan identitas non-Barat.

Ia menyerukan perlunya epistemic insurrection—pemberontakan terhadap dominasi pengetahuan Barat—agar agama tidak terus-menerus diposisikan sebagai objek, tetapi sebagai subjek yang aktif dalam memproduksi makna dan wacana global.

Sementara itu, Prof. Lena Salaymeh, dalam paparannya, mengkritisi sekularisme sebagai salah satu warisan kolonial yang sering dianggap netral padahal sarat muatan ideologis.

Ia menekankan bahwa sekularisme digunakan oleh kolonialisme sebagai alat untuk mendefinisikan ulang peran agama dalam masyarakat terjajah. “Dekolonisasi pengetahuan berarti juga membongkar kerangka sekularisme yang dipaksakan sebagai norma universal,” tegasnya.

Baik Prof. Salman Sayyid maupun Prof. Lena Salaymeh sama-sama menegaskan bahwa proyek dekolonial bukan sekadar agenda intelektual, tetapi adalah kerja politik-epistemik yang menuntut reposisi Islam sebagai subjek yang otonom dalam wacana global.

Dekolonisasi bukan berarti menolak modernitas, tetapi membongkar siapa yang memiliki otoritas untuk mendefinisikan modernitas dan bagaimana Islam dapat hadir secara bermartabat di dalamnya.

Diskusi berlangsung dinamis, dengan peserta mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis seputar relevansi pendekatan dekolonial dalam konteks pendidikan tinggi Indonesia, serta tantangan membangun kurikulum dan riset yang bebas dari pengaruh struktur pengetahuan kolonial.

Kegiatan ini menegaskan komitmen Pascasarjana UIN Salatiga dalam memperkuat kerja sama internasional, memperluas dialog lintas disiplin, dan membangun basis keilmuan yang lebih adil secara epistemik.

Melalui forum seperti ini, UIN Salatiga tidak hanya memperkuat posisinya dalam kancah akademik nasional, tetapi juga turut serta dalam percakapan intelektual global yang progresif. (sas)

Editor : Tasropi
#UIN Salatiga #Gedung Pascasarjana #Diskusi akademik