Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Di Purworejo Ternyata Pernah Berdiri Kampung Berisi Orang-orang Afrika, Begini Sejarahnya

Aby Genta Putra Prasetya • Minggu, 1 Desember 2024 | 02:50 WIB
Potret Lawas Anak-anak Indo-Afrika di Purworejo
Potret Lawas Anak-anak Indo-Afrika di Purworejo

RADARSEMARANG.ID - Sebagai negara bekas jajahan Belanda. Indonesia memiliki banyak sejarah yang berkaitan dengan negeri Kincir Angin tersebut.

Salah satu yang cukup menarik ternyata dahulu bukan hanya Indonesia saja yang pernah menjadi koloni dari negara Ratu Wilhelmina, melainkan ada negara-negara lain yang dulunya dikuasai oleh Belanda.

Beberapa koloni lain di Belanda ini adalah negara-negara yang berada di Benua Afrika dan Amerika Selatan. Oleh karena itu, tentunya tak menampik adanya keberadaan para Afrikaaners (Orang Afrika) atau lebih sering disebut masyarakat lokal sebagai Belanda Hitam pernah berada di Indonesia.

Salah satu bukti sejarah keberadaan autentik mereka pernah menghuni salah satu daerah di Purworejo yang kemudian lebih dikenal sebagai Kampung Afrika.

Sejarah Belanda Hitam di Purworejo

Paska Perang Jawa, pihak kolonial kehilangan cukup banyak serdadu yang meninggal dunia ataupun terluka parah sehingga harus dipulangkan ke Belanda.

Karena hal tersebut lah Kerajaan Belanda harus mencari cara lain dalam mengamankan posisinya di Jawa. Memutar otak, akhirnya mereka memutuskan untuk menambah personil lain di ketentaraannya meskipun berasal dari bangsa lain.

Tentunya orang-orang Jawa bukanlah sekutu yang tepat bagi Belanda (meskipun banyak juga pribumi yang memihak kolonial di masa itu) paska ditangkapnya Diponegoro yang merupakan seorang anggota kerajaan, perlu diketahui masyarakat Jawa adalah salah satu suku yang di masa tersebut terkenal paling feodal.

Pilihan Belanda kemudian berlabuh pada orang-orang asal Afrika tepatnya dari Kerajaan Ashanti yang berada di Kota Kumasi (Kini Republik Ghana). Akhirnya mereka pun membeli sekitar kurang lebih 7000 orang Afrika yang kemudian direkrut menjadi tentara.

Alasan Belanda memilih orang Afrika adalah tentunya karena mereka bisa diupah dengan murah, tahan dengan iklim tropis serta terkenal kebengisannya saat menghadapi musuh di medan perang.

Saat sampai di Indonesia, mereka ditempatkan di berbagai kota seperti Bandung, Salatiga, Purworejo dan beberapa bagian di Sumatra Barat. Meskipun begitu, kota yang paling banyak menjadi wilayah penempatan para Afrikaaners ini adalah kota Purworejo.

Kota Purworejo dianggap Belanda sebagai kota yang paling rawan muncul pemberontakan paska Perang Jawa. Khususnya karena kekhawatiran Belanda terhadap pasukan Pangeran Anom, anak dari Pangeran Diponegoro yang berbasis di kota ini.

Baca Juga: Kenapa Warna Oranye Identik Pada Timnas Belanda Meskipun Tak Ada Warna Tersebut di Benderanya?

Penempatan mereka di Purworejo umumnya berada di wilayah Karesidenan Bagelen. Namun, di Kedong Kebo yang menjadi basis tentara kolonial berkulit putih dan pribumi juga harus ditambahi empat kompi prajurit Afrika untuk tambahan keamanan.

Seiring berjalannya waktu paska perang usai, para prajurit asal Afrika ini mulai membaur dengan masyarakat lokal, banyak juga yang menikah dan menetap di Purworejo. Di sini juga muncul istilah Sarina; yakni perempuan pribumi muda.

Para Sarina ini disebut sebagai pengaruh yang cukup besar bagi laki-laki Afrika. Konon, para prajurit ini lebih tunduk dan mendengarkan istri Indonesia mereka timbang tunduk pada peraturan militer.

Pemerintah Hindia Belanda juga disebutkan akan memberikan rumah dinas bagi para tentara berkulit hitam ini jika sudah melakukan pernikahan dan memiliki bukti pernikahan di Hindia Belanda.

Di Purworejo sendiri menjadi tempat lahirnya istilah Londo Ireng berkat ejekan-ejekan rasial dari para pemuda kampung di Sindurjan yang meneriakkan yel-yel yang berbunyi seperti berikut.

" Londo ireng thuntheng, Irunge menthol, Suwarane bindheng" yang berarti ; Belanda hitam legam, Berhidung besar dan suaranya sengau. Bukan tak berdasar, para Afrikaans ini memang terkenal arogan apabila terhadap para pemuda lokal di sekitar mereka.

Dalam jurnal Het onstaan van de Afrikaansche kampong te Poerworedjo yang juga menjadi bukti peninggalan keberadaan anak-anak Indo-Afrika di Purworejo dengan cukup detail.

Dituliskan bahwa di masa tersebut, Gobernemen Hindia Belanda setempat membeli sebidang tanah desa Pangen Djoroetengah ditujukan bagi tempat tinggal para prajurit Afrika bersama keturunannya.

Meskipun Kampung Afrika sudah tidak ada lagi wujudnya, kebanyakan para keturunan Afrika-Indo ini membaur ke masyarakat di kota-kota lain seperti Semarang, Salatiga ataupun Magelang dan lain sebagainya.

Pemukiman ini sekarang sudah menjadi pemukiman biasa pada umumnya yang berisi masyarakat multikultular. Namun, untuk mengenang para Afrikaaners ini, dua gang yang ada disana masih menyandang nama sebagai Gang Afrikan I dan Gang Afrikan II.

Kini kenangan tentang para Belanda Hitam ini tersisa selain dalam nama jalan dan jurnal-jurnal ada pula Elmina Java Museum yang terletak di Afrika. Bagi mereka yang pulang ke Afrika, mereka mengabadikan kenangan abadi saat berada di Jawa dalam museum ini.

Source: Universitas Sebelas Maret, Universitas Gajah Mada, Mengungkap Hilangnya Jejak Londo Ireng Tentara Asal Afrika di Purworejo (Buku)

Editor : Baskoro Septiadi
#Kampung Afrika Purworejo #Kampung Afrika #Sejarah Orang Afrika di Purworejo #Sejarah Afrika Purworejo #Sejarah Purworejo