Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Arti Penting Bulan Juni, Dari Kelahiran dan Kematian Sang Prokamator, Hingga Disebut Bulan Bung Karno

Tasropi • Jumat, 7 Juni 2024 | 04:10 WIB
Ir. Soekarno salah satu tokoh dari 9 tokoh penting dibalik jejak sejarah lahirnya Hari Pancasila.
Ir. Soekarno salah satu tokoh dari 9 tokoh penting dibalik jejak sejarah lahirnya Hari Pancasila.

RADARSEMATRANG.ID, HARI ini 6 Juni 1901 lahirlah si kecil Koesno dengan nama lengkap Koesno Sosrodihardjo.

Lahir  dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai. Soekarno lahir pada 6 Juni 1901 di Surabaya.

Dikemudian hari dia kenar sebagai negarawan, orator ulung, revolusioner dan founding father Indonesia, dialah Soekarno.

Karena jasannya Soekarno disebut sebagai Bapak Proklamator sekaligus presiden pertama Indonesia. Hingga hari kelahirannya sampai sekarang selalu dikenang.

Sebagai warga Indonesia, sudah semestinya kita tahu mengenai kisah hidup dari mantan presiden pertama RI.

Soekarno yang waktu itu masih bernama Koesno hanya beberapa tahun hidup bersama orang tuanya di Surabaya.

Selama ia mengenyam pendidikan sekolah dasar hingga tamat, Soekarno indekos di rumah Haji Oemar Said Tjokroaminoto (HOS Tjokroaminoto), yang merupakan politisi kawakan pendiri Syarikat Islam.

Kemudian Soekarno melanjutkan pendidikan di HBS (Hogere Burger School). Saat mengenyam pendidikan di sana, Soekarno memiliki rasa nasionalisme yang tinggi.

Ketika lulus dari HBS pada 1920, ia pindah ke ibu kota Jawa Barat, dan lanjut ke Technische Hoogeschool atau yang saat ini dikenal dengan Institut Teknologi Bandung

Selama ia mengenyam pendidikan sekolah dasar hingga tamat, Soekarno indekos di rumah Haji Oemar Said Tjokroaminoto (HOS Tjokroaminoto), yang merupakan politisi kawakan pendiri Syarikat Islam.

Kemudian Soekarno melanjutkan pendidikan di HBS (Hogere Burger School). Saat mengenyam pendidikan di sana, Soekarno memiliki rasa nasionalisme yang tinggi.

Ketika lulus dari HBS pada 1920, ia pindah ke ibu kota Jawa Barat, dan lanjut ke Technische Hoogeschool atau yang saat ini dikenal dengan Institut Teknologi Bandung

Soekarno pertama kali mengenal ide-ide nasionalis saat hidup di bawah pemerintahan Oemar Said Tjokroaminoto.

Kemudian, ketika menjadi mahasiswa di Bandung, ia membenamkan dirinya dalam filsafat politik Eropa, Amerika, nasionalis, komunis, dan agama, yang pada akhirnya mengembangkan karyanya memiliki ideologi politik swasembada ala sosialis Indonesia.

Soekarno mulai menata ide-idenya sebagai Marhaenisme, yang diambil dari nama Marhaen, seorang petani Indonesia yang ia temui di wilayah selatan Bandung.

Soekarno memiliki sebidang tanah kecil dan menggarapnya sendiri, sehingga menghasilkan pendapatan yang cukup untuk menghidupi keluarganya.

Di universitas, Soekarno mulai mengorganisir klub belajar untuk mahasiswa Indonesia, Algemeene Studieclub, yang bertentangan dengan klub mahasiswa yang didominasi oleh mahasiswa Belanda.

Lahirnya Pancasila

Pada tanggal 29 April 1945, ketika Filipina dibebaskan oleh pasukan Amerika, Jepang mengizinkan pembentukan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), sebuah kuasi legislatif yang terdiri dari 67 perwakilan dari sebagian besar kelompok etnis di Indonesia.

Soekarno diangkat sebagai ketua BPUPKI dan ditugaskan memimpin pembahasan untuk mempersiapkan dasar negara Indonesia masa depan.

Untuk memberikan platform yang umum dan dapat diterima untuk menyatukan berbagai faksi yang berselisih di BPUPKI, Soekarno merumuskan pemikiran ideologisnya yang dikembangkan selama dua puluh tahun sebelumnya ke dalam lima prinsip.

Pada tanggal 1 Juni 1945, ia memperkenalkan seperangkat lima prinsip, yang dikenal sebagai Pancasila, dalam sidang gabungan BPUPKI yang diadakan di bekas Gedung Volksraad (sekarang disebut Gedung Pancasila).

 

Kematian Sang Proklamator

Kesehatan Soekarno sudah mulai menurun sejak bulan Agustus 1965.

Sebelumnya, ia telah dinyatakan mengidap gangguan ginjal dan pernah menjalani perawatan di Wina, Austria tahun 1961 dan 1964.

Prof. Dr. K. Fellinger dari Fakultas Kedokteran Universitas Wina menyarankan agar ginjal kiri Soekarno diangkat, tetapi ia menolaknya dan lebih memilih pengobatan tradisional.

Ia bertahan selama 5 tahun sebelum akhirnya meninggal pada hari Minggu, 21 Juni 1970 di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta dengan status sebagai tahanan politik.

Jenazah Soekarno pun dipindahkan dari RSPAD ke Wisma Yasso yang dimiliki oleh Ratna Sari Dewi.

Sebelum dinyatakan wafat, pemeriksaan rutin terhadap Soekarno sempat dilakukan oleh Dokter Mahar Mardjono yang merupakan anggota tim dokter kepresidenan.

Tidak lama kemudian dikeluarkanlah komunike medis yang ditandatangani oleh Ketua Prof. Dr. Mahar Mardjono beserta Wakil Ketua Mayor Jenderal TNI dr. Roebiono Kertopati.

Komunike medis tersebut menyatakan hal sebagai berikut:

Pada hari Sabtu tanggal 20 Juni 1970 jam 20.30 keadaan kesehatan Soekarno semakin memburuk dan kesadaran berangsur-angsur menurun.

Tanggal 21 Juni 1970 jam 03.50 pagi, Soekarno dalam keadaan tidak sadar dan kemudian pada jam 07.00 Ir. Soekarno meninggal dunia.

Tim dokter secara terus-menerus berusaha mengatasi keadaan kritis Soekarno hingga saat meninggalnya.

Walaupun Soekarno pernah meminta agar dirinya dimakamkan di Istana Batu Tulis, Bogor, namun pemerintahan Presiden Soeharto memilih Kota Blitar, Jawa Timur, sebagai tempat pemakaman Soekarno.

Hal tersebut ditetapkan lewat Keppres RI No. 44 tahun 1970.

Jenazah Soekarno dibawa ke Blitar sehari setelah kematiannya dan dimakamkan keesokan harinya bersebelahan dengan makam ibunya.

Dengan segala peristiwa penting yang melingkupi Soekarno, maka sudah selayaknyalah bangsa ini memperingati bulan Juni sebagai Bulan Bung Karno.

Editor : Tasropi
#BPUPKI #bapak proklamator #gedung pancasila #presiden pertama indonesia #HOS Tjokroaminoto #Bulan Bung Karno