Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Moving Room Band Pilih Usung Tema Tongkrongan Asyik Ketimbang Politik

Nanang Rendi Ahmad • Minggu, 24 September 2023 | 19:14 WIB

Penampilan Moving Room pada sebuah acara musik di Pekalongan.
Penampilan Moving Room pada sebuah acara musik di Pekalongan.
 

RADARSEMARANG.ID - Dalam berkarya, band Moving Room ingin lebih banyak berbicara tentang tongkrongan yang asyik.

Sebisa mungkin, band bergenre celtic punk asal Pekalongan ini akan menghindari penulisan lirik bertema politik.

Nama Moving Room boleh dikatakan sedang moncer di kalangan anak-anak muda Pekalongan dan sekitarnya.

Beberapa bulan terakhir, namanya kerap nangkring di selebaran-selebaran acara musik. Di bulan ini saja, pernah tampil di dua panggung dalam sehari.

Saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di sebuah coffee shop di daerah Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, Jumat (15/9) malam lalu, mereka juga sedang persiapan latihan untuk manggung besoknya.

Ada Andre (vokal), Edo (gitar), Helmi (bass), Amri (drum), Dadang (tin whistle), Budi (banjo), dan Ricco (akordeon). Satu lagi belum hadir saat itu, yakni Ari (violin), karena sedang dalam perjalanan dari luar kota.

Dari delapan nama itu, Andre dan Helmi adalah yang membidani Moving Room pada 2020 bersama satu personel yang kini sudah hengkang.

Dulu, Moving Room dengan tiga personel itu masih beraliran punk rock. Pada 2021, setelah Dadang bergabung, sepakat beralih ke genre celtic punk.

Boleh dikatakan, Moving Room akhirnya menjadi band beraliran celtic punk pertama di Pekalongan yang muncul ke permukaan.

Keputusan mereka memilih musik tradisional negeri Irlandia itu bukan karena pertimbangan pasar. Melainkan lebih karena eksperimentasi para personel.

"Waktu itu saya punya beberapa instrumen tradisional luar negeri. Kemudian saya coba bawa ke Moving Room. Setelah diskusi, yang paling memungkinkan untuk dimainkan, ya, celtic punk itu," jelas Dadang.

Meski berganti genre, namun 'Moving Room' tetap dipertahankan sebagai nama band. Menurut Dadang, itu karena nama tersebut masih relevan digunakan. Lantaran beberapa personel merupakan pindahan dari band lain.

Di antaranya Andre dari band Anti Peluru, Edo dari Chigura, kemudian Dadang dan Budi dari Space Rocket Passenger. Band-band ini juga cukup punya nama di Pekalongan dan sekitarnya.

"Nah, Moving Room masih tetap dipakai karena harapannya ini jadi ruang perpindahan kami  untuk mencoba hal baru," jelas Dadang.

Hingga kini Moving Room sudah meluncurkan dua single dan satu mini album berjudul "Paradigmatic" berisi lima lagu. 

Semua lirik ditulis oleh Andre. Ia mengaku, proses kreatif menulis lirik itu semuanya bermula dari obrolan dan dinamika di tongkrongan.

Sebut saja pada lagu "Rayakan Pertemuan", "Balada Masa Muda", "Waktu", dan "Romansa Kampung Halaman".

"Rayakan Pertemuan", kata Andre, boleh dikatakan bercerita soal awal mula berdirinya Moving Room. Para personel yang lama tidak jumpa, kemudian nongkrong bareng.

Dari sana lalu muncul obrolan soal masa muda, cerita-cerita romansa kampung halaman, dan seterusnya.

"Dalam lirik kami akan lebih banyak berbicara soal tongkrongan yang asyik sih. Kalau politik, kayaknya enggak akan kami bawa ke lirik," ujarnya. (nra/ton)

 

Editor : Baskoro Septiadi
#punk #Band