RADARSEMARANG.ID, Magelang — Perasaan cemas menyelimuti pikiran Arif Riyanto saat mendapat kabar putra bungsunya, Arshaka Muhammad Narendra, mengalami patah tulang tangan kiri.
Sang anak terjatuh saat bermain di tempat tidur setinggi sekitar 50 sentimeter.
Saat loncat-loncat di atas tempat tidur, kakinya tersangkut sprei hingga hilang keseimbangan.
Tubuhnya jatuh ke lantai keramik, dalam posisi tangan kiri menahan tubuh. Seketika, bocah 5 tahun itu menangis kesakitan.
“Siku tangannya langsung lebam sedikit membiru,” kata Arif ditemui di kantornya yang berada di sekitar Potrobangsan, Kota Magelang, Rabu (3/4/2024).
Semula Istri Arif mengira tangan putranya itu hanya kesleo biasa. Sempat dikasih minyak gosok. Namun ternyata lebamnya semakin parah. Arif sendiri tak bisa berbuat banyak.
Karena saat itu, posisinya sedang bekerja di Magelang, dan tak bisa ditinggalkan. Sedang anak dan istrinya tinggal di Kota Semarang.
Dibantu saudaranya, Arshaka pun dilarikan ke salah satu rumah sakit swasta. Arif mengaku, memang ada tetangga yang menyarankan Arshaka dibawa ke sangkal putung atau terapi pijat.
Namun sang istri, Ariyani, tidak tega. Selain itu, ia juga khawatir penanganan di sangkal putung tidak maksimal.
Karena ia dapat informasi, ada beberapa kasus patah tulang bisa sembuh di sangkal putung, namun posisi tulangnya malah tidak pas. Ada yang menonjol tulangnya dan yang paling parah tangan menjadi bengkok alias ceko.
“Karena alasan itu, saya pun memutuskan penanganan secara medis,” ujarnya.
Nah, setelah dilakukan pemeriksaan, rontgen dan sebagainya, kondisi tulang di atas atas siku tangan kiri Arshaka memang patah. Dan, penanganannya perlu dilakukan tindakan operasi pemasangan pen.
Saat itu, dokter spesialis tulang yang menangani sempat mengatakan jika operasi tanpa penjaminan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, biayanya bisa sampai Rp 25 juta. Arif kaget bukan kepalang. “Saya kaget, kok biayanya besar sekali,” ucapnya.
Karena itu, dokter spesialis tulang itu menyarankan agar Arif memanfaatkan BPJS Kesehatan, karena bisa nol biaya alias gratis. “Karena yang menyarankan dokter, saya jadi mantap, karena pasti itu yang terbaik,” imbuhnya.
Untung saja, Arshaka sudah terdaftar sebagai peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola BPJS Kesehatan.
Kebetulan keluarga Arif yang terdiri atas istri dan tiga anak, semuanya sudah terdaftar sebagai peserta JKN.
Sehingga meski sedih dengan kondisi anaknya yang saat itu menangis karena kesakitan, Arif yang belum sempat pulang ke Semarang bisa lega, karena tak memikirkan lagi biasa operasi pemasangan pen.
“Di rumah sakit, tinggal menunjukkan kartu JKN, pihak rumah sakit langsung menangani,” terangnya.
Karyawan sebuah perusahaan swasta yang berkantor di Kota Magelang ini juga mengaku tak menemui kesulitan saat mengurus penggunaan BPJS Kesehatan.
“Prosedur yang dijalani istri saya dari mencari rujukan sampai ke rumah sakit relatif singkat,” akunya.
Menurutnya, program JKN sangat membantu untuk masyarakat. Bahkan seperti dirinya yang jauh dari keluarga.
“BPJS Kesehatan benar-benar sangat membantu warga yang sakit, termasuk bagi keluarga saya,” tambah pria kelahiran Sukoharjo ini.
Setelah mendapatkan jadwal operasi dan kamar rawat inap, proses operasi pemasangan pen pun berjalan lancar.
Tiga malam menginap di rumah sakit, anaknya diizinkan pulang, dan melakukan kontrol seminggu kemudian.
Lagi-lagi, Arif sangat berterima kasih dengan BPJS Kesehatan, karena semua biaya kontrol dan obat rawat jalan ditanggung oleh BPJS Kesehatan.
“Selama kontrol, semuanya ditangani istri saya. Saya di Magelang jadi tenang. Karena seluruh biaya sudah ditanggung BPJS Kesehatan,” katanya.
Arif mengaku, pelayanan BPJS Kesehatan semakin baik. Termasuk kesigapan pihak rumah sakit sebagai mitra BPJS Kesehatan dalam melayani pasiennya.
Pengalaman baik ini pun ia bagikan kepada masyarakat. Supaya masyarakat memahami bahwa ketika berobat menggunakan penjaminan dari BPJS Kesehatan, maka harus mengikuti prosedur yang ditetapkan.
Saat ini, kondisi kesehatan Arshaka sudah membaik. Tangan kirinya juga berfungsi normal. Arif merasa beruntung terdaftar sebagai peserta JKN.
Karena kesehatan ia dan keluarganya sudah terlindungi program JKN. Iuran JKN yang ia bayar melalui pemotongan gaji di perusahaannya juga berguna untuk membantu peserta lain yang membutuhkan. (aro/put/web/bas)
Editor : Baskoro Septiadi