Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Jadwal Parade Sewu Kupat Muria 2026, Tradisi Penghormatan untuk Ngalap Berkah Sunan Muria

Falakhudin • Sabtu, 28 Maret 2026 | 09:15 WIB
Jadwal Parade Sewu Kupat Muria 2026, Tradisi Penghormatan untuk Ngalap Berkah Sunan Muria
Jadwal Parade Sewu Kupat Muria 2026, Tradisi Penghormatan untuk Ngalap Berkah Sunan Muria

 

RADARSEMARANG.ID — Perayaan Syawalan sebagai bentuk rasa syukur warga setelah menjalani ibadah puasa Ramadan di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, diwarnai dengan Parade Seribu Ketupat.

Tradisi Sewu Kupat atau 1000 ketupat meriahkan syawalan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. 

Tradisi sewu kupat melibatkan 18 desa di Kecamatan Dawe dan dipusatkan di Makam Sunan Muria dan Taman Ria Desa Colo. 

Baca Juga: Surat MenpanRB Terbit Tentang ASN, Kemendikdasmen Respon Keluarkan Surat Edaran CPNS 2026

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus berencana merealisasikan Parade Sewu Kupat Muria tercatat di Rekor MURI pada tahun 2026 . 

Hal ini merupakan tindak lanjut dari rencana Bupati Kudus Sam’ani Intakoris dan Wakil Bupati Kudus Bellinda Birton yang ingin mencatatkan Parade Sewu Kupat Muria ke Rekor Muri.

“Kami akan komunikasikan dengan masyarakat, stake holder terkait bagaimana agar sewu kupat ini bisa tercatat di rekor MURI. Pertama kami buat konsepnya dulu, lalu kami koordinasikan lebih lanjut,” Kepala Disbudpar, Mutrikah.

Ia menjelaskan, jika keunikan Parade Sewu Kupat Muria memiliki daya tarik tersendiri sehingga dapat tercatat dalam rekor MURI. 

”Kami mencoba melihat, bagaimana jika selain di kirab, gunungan kupat lepet dan hasil bumi dalam Parade Sewu Kupat ini, bisa ditata rapi disepanjang jalan arah makam Sunan Muria menuju ke Taman Ria,” ujarnya.

Ia menyebut adanya potensi pemandangan lereng Gunung Muria yang khas semakin melengkapi keindahan prosesi Parade Sewu Kupat Muria.

Sebanyak 23 gunungan yang terdiri atas susunan ketupat yang totalnya 1.000-an buah dan ratusan lepet (jenis makanan dari ketan) diarak dari rumah kepala desa setempat sekitar pukul 07.00 WIB menuju Masjid Sunan Muria.

Baca Juga: Alur Penerbitan SKTP April 2026, Jadwal Pencairan TPG Bulanan Guru Harus Persiapkan Ini

Selanjutnya dilakukan ritual ziarah ke Makam Sunan Muria, dilanjutkan dengan minum air dan cuci kaki serta tangan dengan air dari gentong peninggalan Sunan Muria dan dilanjutkan dengan penyerahan Kupat Gunung dari Ketua Yayasan Makam Sunan Muria kepada rombongan.

Dengan dipimpin oleh tokoh ulama setempat, ratusan warga yang ikut arak-arakan membacakan tahlil dan doa bersama, kemudian melakukan kirab ketupat dari masjid menuju Taman Ria Colo yang berjarak sekitar satu kilometer dari makam.

Bupati Kudus Sam’ani Intakoris di Kudus mengapresiasi penyelenggaraan Parade Sewu Kupat Muria yang terus digelar setiap tahun. 

Menurut dia, Parade Sewu Kupat Muria ini sebagai atraksi wisata di Kabupaten Kudus yang bisa menarik perhatian wisatawan untuk berdatangan.

Baca Juga: Ngalap Berkah Sunan Muria, Jadwal Parade Sewu Kupat Muria 2026 dan 4 Tradisi Kupatan Lainnya

Selain itu kegiatan kali ini juga sebagai bentuk pelestarian tradisi dan budaya di Kudus.

“Tradisi seribu ketupat yang dikemas dalam sebuah parade juga sebagai refleksi dan bentuk rasa syukur masyarakat,” ujarnya.

Sementara Anggota DPR RI Musthofa yang juga penggagas Sewu Kupat sejak 2007 mengapresiasi atas kekompakan berbagai pihak yang sudah melaksanakan tradisi ini.

Apalagi, kata dia, Parade Sewu Kupat Muria ini memiliki makna senada dengan Kabupaten Kudus yang dikenal dengan kota religius.

“Sehingga di momen Idul Fitri ini, Sewu Kupat juga menjadi ajang silaturahmi berbagai elemen masyarakat dan membentuk karakter yang baik,” ujarnya.

Ia bersyukur secara konsisten masyarakat tetap kompak mengadakan tradisi Sewu Kupat ini.

Diharapkan agar tradisi ini bisa terus dilaksanakan dan sebagai bentuk mengharap berkah.

Baca Juga: Link Penerimaan Pendaftaran Calon Anggota Polri 2026 Jalur AKPOL, Bintara dan Tamtama

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus Mutrikah mengungkapkan pihaknya akan menyusun konsep untuk merealisasikan Parade Sewu Kupat Muria tercatatkan di Rekor MURI pada tahun 2026.

Hal ini, kata dia, merupakan tindak lanjut dari rencana Bupati Kudus Sam’ani Intakoris dan Wakil Bupati Kudus Bellinda Birton yang ingin mencatatkan Parade Sewu Kupat Muria ke Rekor MURI.

“Kami akan berkomunikasi dengan masyarakat, pemangku kepentingan agar seribu kupat ini bisa tercatat di rekor MURI. Pertama kami buat konsepnya dulu, lalu kami koordinasikan lebih lanjut,” ujarnya.

Menurut dia, keunikan Parade Sewu Kupat Muria memiliki daya tarik tersendiri.

Sehingga untuk merealisasikan Parade Sewu Kupat tercatat dalam rekor Muri bisa dengan berbagai opsi.

“Kami mencoba melihat, bagaimana jika selain di kirab, gunungan kupat lepet dan hasil bumi dalam Parade Sewu Kupat ini, bisa ditata rapi di sepanjang jalan arah makam Sunan Muria menuju ke Taman Ria,” ujarnya.

Apalagi, sambung dia, potensi pemandangan lereng Gunung Muria yang khas semakin melengkapi keindahan prosesi Parade Sewu Kupat Muria.

“Kudus punya Sunan Muria, pemandangan alam Gunung Muria, dan jalan berkelok yang tidak ditemukan di daerah lain, ketika dipadupadankan dengan Parade Sewu Kupat Muria. Ini akan menjadi sesuatu yang sangat unik,” ujarnya. 

Tradisi budaya tahunan Parade Sewu Kupat Muria kembali disiapkan secara matang oleh panitia bersama berbagai elemen masyarakat di Desa Colo, Kecamatan Dawe.

Kegiatan yang sarat nilai kebersamaan ini dijadwalkan berlangsung pada 27–28 Maret 2026 dengan melibatkan partisipasi luas dari warga dan instansi terkait.

Ketua Panitia, Suwanto, mengatakan persiapan pelaksanaan terus dimatangkan melalui rapat koordinasi yang melibatkan Forkopincam Dawe, Dinas Pariwisata, pemerintah desa, hingga karang taruna dan masyarakat setempat.

Baca Juga: Bus Widji Lestari Sundul Bokong Truk Tronton, Ringsek Bagian Depan, Dua Luka

Menurutnya, tradisi Sewu Kupat tidak sekadar menjadi agenda seremonial, tetapi menjadi simbol kuat gotong royong masyarakat Desa Colo dalam menjaga warisan budaya leluhur.

Empat tradisi kupatan

Selain itu sebanyak empat tradisi kupatan akan berlangsung secara serentak di sejumlah wilayah, yakni :

- Sewu Kupat di Desa Colo, Kecamatan Dawe,

- Tradisi Bulusan di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo,

- Gebyar Kupatan di Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo,

- serta Syawalan Sendang Jodo di Desa Purworejo, Kecamatan Bae.

Masing-masing tradisi menawarkan keunikan tersendiri yang menjadi daya tarik masyarakat.

Sewu Kupat, misalnya, akan dipusatkan di Taman Ria Colo dengan diawali kirab gunungan ketupat dari kawasan Makam dan Masjid Sunan Muria menuju lokasi acara.

Puncak kegiatan ditandai dengan grebeg ketupat yang selalu dinanti warga.

Sementara itu, Tradisi Bulusan di Hadipolo akan berlangsung dengan nuansa sakral di Balai Bowo Leksono.

Baca Juga: TPG April 2026 Cair Kapan? Ini Jadwal Resmi Terbaru, Batas Krusial 15 April yang Sering Diabaikan Guru Bisa Jadi Penyebab Gagal Cair

Selain kirab ketupat, kegiatan ini juga diisi dengan ritual memberi makan bulus serta pertunjukan wayang yang menambah kekayaan nilai budaya dan spiritual.

Tak kalah semarak, Gebyar Kupatan di Desa Kesambi akan menghadirkan kirab ketupat dari balai desa menuju objek wisata Mbalong Sangkal Putung.

Pengunjung juga dapat menikmati suasana wisata air yang berada di tengah area persawahan.

Di sisi lain, Syawalan Sendang Jodo di Desa Purworejo tetap menjadi magnet tersendiri setiap tahunnya.

Tradisi ini akan dimeriahkan dengan kirab budaya serta pementasan teatrikal Ande-Ande Lumut yang sarat pesan moral sekaligus hiburan bagi masyarakat.

“Ini adalah wujud kebersamaan dan gotong royong untuk menjaga budaya yang sudah dilakukan para pendahulu,” tambahnya (19/3/2026).

Dalam konsep yang telah disusun, parade akan menampilkan tandu utama berisi ketupat lepet serta tandu kedua berisi hasil bumi.

Selain itu, akan dihadirkan empat gunungan campuran ketupat dan hasil bumi dari empat RW di Desa Colo.

Partisipasi juga datang dari 17 desa se-Kecamatan Dawe yang akan menghadirkan tandu gunungan dengan ukuran sekitar panjang 60 sentimeter, lebar 50 sentimeter, dan tinggi 90 sentimeter.

Setiap tandu akan diiringi maksimal 20 orang dengan mengenakan pakaian adat Nusantara.

Peserta kirab juga melibatkan pelajar dari sekolah dan madrasah se-Desa Colo, serta organisasi masyarakat dengan masing-masing sekitar 30 orang peserta.

“Parade kupat ini bukan sekadar acara, tetapi pengingat bahwa budaya mengajarkan kita tentang kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur. Nilai-nilai itu yang ingin terus kami wariskan kepada generasi muda,” jelas Suwanto.

Baca Juga: One Way Nasional Arus Balik Mulai Dibuka, Gubernur Luthfi: Sekitar 1,6 juta Kendaraan Pemudik Masih Berada di wilayah Jawa Tengah

Jadwal Parade Sewu Kupat Muria 2026

Rangkaian kegiatan akan diawali pada Jumat, 27 Maret 2026 dengan doa bersama (istigasah) yang digelar pukul 18.00–19.00 WIB di Taman Ria Colo.

Kegiatan dilanjutkan dengan ziarah panitia serta penyerahan tampah pataka kepada pengurus YM2SM di area Masjid dan Makam Sunan Muria mulai pukul 19.00 WIB hingga selesai.

Sementara itu, puncak acara akan berlangsung pada Sabtu, 28 Maret 2026.

Sejak pukul 07.00 WIB, seluruh peserta tandu dan pengiring telah berada di titik kumpul yang ditentukan, yakni di Puri Colo dan Halaman Kediaman Mustiko.

Kegiatan diawali dengan wilujengan di wilayah masing-masing pada pukul 06.00–06.30 WIB, dilanjutkan persiapan panitia hingga pukul 07.00 WIB.

Selanjutnya, tandu utama, tandu hasil bumi, serta para pengiring bergerak menuju Area Gentong, dilanjutkan wilujengan bersama serta ziarah ke Makam Sunan Muria.

Memasuki inti acara, pada pukul 07.50–08.00 WIB dilakukan prosesi pemberangkatan tandu menuju lokasi kirab.

Seluruh gunungan kupat dan hasil bumi diarak oleh para peserta yang mengenakan busana adat Nusantara, menciptakan suasana semarak khas tradisi.

Selanjutnya pada pukul 08.00–08.15 WIB dilakukan persiapan kirab, sebelum prosesi kirab resmi dimulai pada pukul 08.15–08.30 WIB.

Dalam kirab ini, tandu utama, tandu hasil bumi, serta gunungan dari berbagai desa diarak bersama diikuti ratusan pengiring.

Setelah kirab, acara dilanjutkan dengan penyerahan dan pembacaan pataka pada pukul 08.30–08.40 WIB sebagai simbol dimulainya puncak perayaan.

Kemudian, pada pukul 08.40–08.50 WIB, Ketua Panitia Suwanto menyampaikan sambutan, disusul sambutan Bupati Kudus Sam’ani Intakoris pada pukul 08.50–09.00 WIB.

Puncak acara berlangsung pada pukul 09.15–09.30 WIB melalui prosesi Grebek Ketupat.

Dalam momen ini, masyarakat bersama-sama berebut gunungan ketupat dan hasil bumi sebagai simbol rasa syukur serta harapan akan keberkahan. (fal)

 

Editor : Baskoro Septiadi
#lebaran 2026 #ngalap berkah #puasa ramadan #sunan muria #Parade Seribu Ketupat #Syawalan