RADARSEMARANG.ID - Pendidikan di pondok pesantren (ponpes) Al Insap Kabupaten Pekalongan tak melulu belajar agama.
Para santri juga dibekali keterampilan (skill) konfeksi. Banyak yang akhirnya langsung kerja, karena lokasi ponpes berada di daerah sentra industri konfeksi.
Ponpes Al Insap berada di Paesan Tengah, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan. Lokasinya di dalam sebuah gang kecil, benar-benar di tengah permukiman.
Baca Juga: Peringatan Hari Santri Nasional Dipusatkan di Demak
Tidak eksklusif dari kehidupan warga. Bangunannya pun terkesan biasa, tidak semegah ponpes-ponpes pada umumnya.
Tapi di balik kesederhanaan itu, ternyata tersimpan komitmen besar Al Insap untuk melahirkan santri-santri mandiri. Ponpes ini punya Balai Latihan Kerja (BLK) konfeksi.
Di sana para santri (yang berminat) digembleng, dibekali skill berwirausaha di bidang itu. Selain tetap mengutamakan pembelajaran ilmu agama.
"BLK konfeksi ini diajar oleh pengurus yang sudah melalui proses diklat secara berkala di bidang itu," kata salah seorang pengurus Ponpes Al Insap Ahmad Saifullah.
Hasil dari BLK itu sudah terbukti. Meski ponpes belum sampai menelurkan produk atau brand konfeksi sendiri.
Tapi banyak di antara santri (yang sudah tidak sekolah formal), akhirnya menyambi bekerja di industri konfeksi di sekitaran ponpes.
"Malah ada yang sudah lulus, kemudian dapat istri anak juragan konfeksi. Ini kan berarti ngiras-ngirus (mengerjakan suatu pekerjaan sambil mengerjakan pekerjaan lain), dan ngiris," seloroh Saiful.
Menurut Saiful, berjalannya BLK konfeksi itu juga berkat manajemen ponpes yang tak mau ekslusif dari lingkungan.
Lokasi pondok yang berada di tengah kampung juga merupakan kelebihan tersendiri. Ponpes tidak pernah melarang santri berbaur dengan warga dalam kegiatan apa pun.
"Warga bahkan mengenal santri satu per satu, by name. Jadi kalau ada urusan apa-apa, termasuk mau kerja, jadi gampang. Banyak yang akhirnya jadi warga sini," ujarnya.
Dalam mendidik, Al Insap menekankan santri tidak bermental gengsi mengerjakan apa pun. Bahkan untuk pekerjaan yang dianggap rendahan.
Tapi Al Insap juga menekankan santri berproses. Tak lain agar santri siap menghadapi kehidupan tanpa instan.
"Di sini dididik mengerjakan apa pun, jadi santri di sini insyaallah serba bisa. Sering dimintai tolong warga. Konfeksi itu hanya salah satu. Nanti dalam perjalannya, santri akan menemukan sendiri yang dia rasa passion," ucap Saiful.
Al Insap juga tidak menyediakan kantin ponpes. Santri diminta membeli makan atau jajan di warung-warung sekitar.
Tujuannya agar usaha-usaha warga hidup. "Ini juga yang membuat santri jadi dikenal warga," katanya.
Keberadaan Ponpes Al I
nsap tak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan Rifa'iyah di Kabupaten Pekalongan. Embrio ponpes ini dibawa oleh Kiai Abu Salim, murid KH Ahmad Rifa'i angkatan pertama. Ia membangun majelis dakwah di Paesan pada kurun waktu tahun 1870-1900.
Ponpes Al Insap kemudian berdiri pada 1970-an oleh Kiai Ahmad Nasikhun. Terus berkembang hingga sekarang. Insap merupakan akronim dari Ikatan Santri Paesan.
Kini Al Insap diasuh oleh Kiai Abdul Basith yang baru-baru ini dilantik sebagai Ketua PD Rifaiyah Kabupaten Pekalongan. (nra)
Editor : Agus AP