Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Maestro Seni Rupa Indonesia Berpulang, Jadi Lampu Malioboro Terakhir Djoko Pekik

Agus AP • Minggu, 13 Agustus 2023 | 16:07 WIB
Djoko Pekik
Djoko Pekik

BANTUL – Setiap kali dari bepergian, Djoko Pekik selalu minta dilewatkan Malioboro untuk kembali menuju rumahnya.

Dan, seperti hari-hari sebelumnya, kawasan legendaris di pusat Kota Jogjakarta itu pula yang dilalui sang maestro lukis tersebut yang kemarin (12/8) berpulang.

”Jadi, bapak itu kalau pergi ke mana saja, itu pasti pulangnya minta lewat Malioboro. Enggak peduli itu mau macet, harus lewat Malioboro,” ungkap Inten Lugut Lateng, anak ketiga Djoko Pekik.

”Beliau paling seneng lihat lampu-lampu di Malioboro,” sambungnya.

Kebiasaan itu yang oleh pihak keluarga tetap dijalankan ketika membawa jenazah Djoko Pekik dari RS Panti Rapih Jogjakarta menuju rumah duka di Bantul. Iring-iringan kendaraan juga sempat melewati rumah Djoko Pekik di Wirobrajan.

Dilansir dari Radar Jogja, seniman lukis senior Djoko Pekik meninggal dunia pada usia 86 tahun Sabtu (12/8) pagi. Djoko Pekik tidak menjalani perawatan sebelum meninggal.

”Baru tadi pagi (kemarin pagi, Red) dibawa ke Panti Rapih dari rumah karena badannya anget dan muntah-muntah. Tapi, ternyata di perjalanan bapak meninggal. Jam 08.10,” jelas Inten saat ditemui di RS Panti Rapih.

Tiga pekan lalu, sang ayah sempat opname. Dia jatuh dan mengalami patah pada tulang tangan sebelah kiri. ”(Dirawat) di sini juga. Opname cuma dua hari, digips terus pulang,” paparnya.

Di rumah duka, putra pertama Djoko Pekik, Gogor Bangsa, menerangkan, ayahnya sakit karena memang sudah berusia lanjut.

Untuk beraktivitas sehari-hari menggunakan kursi roda. ”Ya pada umumnya orang tua. Badannya bapak sudah melemah,” ujarnya.

Meski sudah sepuh, Djoko Pekik tetap produktif melukis. Tahun lalu dia masih menggelar pameran tunggal di Bentara Budaya Yogyakarta. ”Tahun 2022 bulan Maret itu adalah pameran tunggal bapak yang terakhir,” ungkapnya.

Kali terakhir, lanjut Gogor, ayahnya sempat melukis potret dirinya sendiri. Lukisan tersebut sudah laku dibeli kolektor. Gogor mengatakan, ada tiga sampai empat lukisan yang dibuat ayahnya pada tahun ini.

”Pokoknya pas awal tahun bapak itu masih aktif melukis,” ucapnya.

Kepergian Djoko Pekik yang terkenal dengan karyanya berjudul Berburu Celeng –yang laku hingga Rp 1 miliar tersebut– tidak hanya meninggalkan kesedihan bagi keluarga, tetapi juga para seniman.

Bukan hanya seorang maestro, Djoko Pekik telah dianggap sebagai orang tua sekaligus guru bagi para perupa.

”Dia guru, banyak mengajarkan orang berkeseniannya itu sandarannya benar. Artinya, kemanusiaan dikedepankan, dari proses berkesenian ada yang dibela dengan karyanya, yaitu masyarakat marginal,” tegas seniman lukis Jogja Nasirun.

Menurut dosen ISI Jogja Suwarno Wisetrotomo, Djoko pekik adalah pemeluk teguh ideal berkesenian.

Ide yang kuat, berpihak pada ke manusia dan kemanusiaan lapis bawah, menyuarakan realitas sosial dan politik yang mengabaikan kemanusiaan, menertawakan oknum atau manusia culas, korup, dan menindas.

”Beliau menyuarakan dengan metafor yang kuat, sikap yang kukuh,” kata Suwarno.

Pada 1998 nama seniman Djoko Pekik mengguncang jagat seni rupa Indonesia. Pada 16–17 Agustus tahun itu, dia memamerkan hanya satu buah lukisan dan dalam durasi 24 jam atau sehari semalam saja di gedung Bentara Budaya Yogyakarta.

”Hal yang lebih menghebohkan lagi, karya tersebut, yang bertajuk Berburu Celeng, berpindah ke tangan seorang kolektor dengan harga transaksi sebesar 1 miliar rupiah! Itulah harga tertinggi sebuah karya seni lukis di Indonesia pada waktu itu,” ucap salah seorang kurator seni rupa Kuss Indarto.

Pencapaian yang diperoleh Djoko Pekik pada waktu itu, ungkap Kuss, mengalahkan harga karya para seniman maestro yang lebih senior dan telah mengisi jejak penting sejarah seni rupa Indonesia.

Di mata Mikke Susanto, kurator Galeri Nasional Indonesia dan dosen ISI Jogja, Djoko Pekik telah menghadapi situasi yang pelik sepanjang hidupnya.

Dia mengalami masa sulit selama masa awal kuliah di ASRI Yogyakarta yang serba kekurangan. Termasuk cita-cita sebagai pelukis di zaman profesi ini sama sekali tidak dianggap penting.

Masa sulit berikutnya adalah menghadapi rezim yang otoriter terhadap ideologi kiri yang dianutnya.

Sampai dia terkadang bingung menghadapi masa kebebasan kapitalisme pasar yang membuatnya harus mampu membaca arus.

”Sepertinya aliran hidupnya memang diselamatkan oleh rasa pasrah dan rendah hatinya. Dia menerima apa yang didapatkan sekaligus tetap menjaga kodratnya sebagai seniman yang tak mudah berubah haluan dan idealisme,” katanya.

Sementara itu, Agus Dermawan T., kritikus seni, penulis buku-buku budaya dan seni, menilai Djoko Pekik sebagai pelukis penanda sejarah yang unik.

Naluri seninya bisa memilih mana sejarah yang harus ditandai dengan lukisan dan mana sejarah yang hanya perlu ditandai dengan ingatan.

”Naluri itu yang mendorong dia melukis serial celeng, yang berkaitan dengan sejarah kekuasaan Orde Baru dan Soeharto. Naluri yang tajam itu diimbuhi kekuatannya bermetafora dalam rupa,” terangnya. (ayu/dwi/c9/fal)

Editor : Agus AP
#maestro seni rupa #djoko pekik meninggal #Djoko Pekik