Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengaku, peran NU untuk negara Indonesia diawali sebelum bangsa ini merdeka.
Para nahdliyin atau anggota NU benar-benar membantu Indonesia melawan penjajah. Di sisi lain juga tetap konsisten mengembangkan dakwah keislaman di pondok pesantren.
“Kiprah NU sudah tidak kita ragukan lagi. Baik selaku jamiyah secara organisasi atau gerakan sosial yang dilakukan oleh para nahdliyin. Juga dilakukan para ulama saat ini membantu pemerintah. Baik itu menguatkan dari segi pendidikan, juga di pemerintahan sendiri,” kata Taj Yasin Maimoen saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di Rumah Dinas Wagub Jateng Jalan Rinjani, Semarang, kemarin.
Gus Yasin --sapaan akrabnya—mengaku, peran NU adalah membuat negara ini kondusif. Dalam artian, menyiapkan generasi muda dan peningkatan perekonomian.
Sehingga sangat dibutuhkan masyarakat. Perjuangan nahdliyin terdahulu harus diteruskan. Caranya, dengan terlibat langsung ke dalam perjuangan tersebut. Misalnya, menjadi pengajar ataupun menjadi wakil rakyat di pemerintahan.
“Saya sebagai kader NU atas nama pemerintah berharap perjuangan para pendahulu kita perlu diteruskan. Seiring dengan berjalannya waktu, tentu kita berpedoman bahwa setiap masa itu ada pemimpinya. Kita tidak bisa serta-merta sama dengan perjuangan hadratussyaikh. Kita harus memiliki inovasi, memiliki ide-ide kreatif bagaimana menyatukan umat,” ujar suami dari Ning Nawal ini.
Apalagi di tahun politik, kata dia, harus diisi dengan kebersamaan. Cara menyikapi perbedaan pendapat pada sebuah konsistensi pemilihan presiden maupun kepala daerah harus netral.
Pihaknya juga mengimbau agar masyarakat tidak men-justice orang yang tidak sepemahaman dengan mereka. Yakni, dengan mengedepankan toleransi rahmatan lil alamin.
Sendi-sendi NU ada di setiap daerah di Indonesia, baik di Papua, Aceh, Jawa, dan daerah lainnya. Keterlibatan dalam dunia pemerintahan di berbagai tingkatan juga menjadi torehan lain. Dibuktikan dengan banyak kader yang mempunyai jabatan tinggi di pemerintahan.
“Ini menunjukan bahwa dedikasi Nahdlatul Ulama sangat berarti untuk keberlangsungan negara Republik Indonesia ini menjadi Baldatun Toyyibatun Warrobbun Ghofur,” imbuhnya.
Di sisi lain, kata dia, emansipasi perempuan yang diperjuangkan oleh syariat agama Islam juga diteruskan oleh para pendiri NU. Gus Yasin mengaku tantangan ke depan bagi NU adalah merangkul semua umat untuk mengedepankan toleransi, dan menggaet generasi milenial untuk berbudi pekerti baik.
Tokoh lintas agama berserta organisasi masyarakat juga digandeng untuk duduk bersama mencari solusi. Tentu dengan mengedepankan Bhinneka Tunggal Ika.
“Kita sering duduk bersama. Kita harus menyatukan bahwa perbedaan antar agama, perbedaan antar kelompok, itu pasti akan muncul. aAan tetapi karena cita-cita kita sama yaitu membangun peradaban, membangun negara kita, makanya di negara kita ini ada yang namanya Bhineka Tunggal Ika,” tegasnya.
Cara menggaet generasi milenial sebagai penerus bangsa juga sudah dilakukan NU dalam 10 tahun terakhir. Yakni, dengan mengajak pemuda untuk aktif terlibat memberantas narkoba dan tawuran antar geng.
“Mereka sudah kita libatkan semuanya dan dari Nahdlatul Ulama sendiri banyak tokoh-tokoh muda yang saat ini mengisi di organisasi pemerintahan,” katanya. (kap/aro) Editor : Agus AP