Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Setor Rp 90 Juta, Pemuda Asal Purwokerto Ini Gagal ke Australia

Agus AP • Kamis, 22 Juni 2023 | 16:29 WIB
Para korban perdagangan orang saat menceritakan pengalaman mereka. (MUHAMMAD HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Para korban perdagangan orang saat menceritakan pengalaman mereka. (MUHAMMAD HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RADARSEMARANG.ID, Semarang - Andre Pradana Putra, pemuda asal Purwokerto ini hanya pasrah. Impiannya untuk bekerja di Australia belum kesampaian lantaran menjadi korban TPPO oleh jasa penyalur tenaga kerja. Padahal ia sudah menyetorkan uang sebanyak Rp 90 juta.

"Saya masih syok, malu, bingung, uangnya bisa kembali apa tidak. Padahal uang itu dari orang tua, hasil jual tanah, jual emas sama jual kendaraan," ungkapnya saat di Mapolda Jateng Rabu (21/6).

Andre menyetorkan uang mencapai puluhan juta tersebut setelah bertemu dengan seseorang bernama Adi, pada akhir Desember 2021. Ia dirayu untuk bekerja di luar negeri dengan tujuan ke Australia. Setelah terbujuk, kemudian Andre diperkenalkan dengan seseorang bernama Suciati.

"Diiming-imingi gaji Rp 30-an juta sebulan. Terus ditemukan sama Bu Uci. Pikiran saya bayarannya lumayan, tapi belum tahu kerja apa. Cuma dikasih tahu kerjanya lewat video, diperlihatkan oleh Bu Uci," jelasnya.

Korban yang semakin terbujuk rayu kemudian diminta untuk menyerahkan uang sebesar Rp 15 juta. Alasannya uang tersebut untuk mengurus administrasi termasuk paspor dan lainnya. Setelah tiga bulan jadi, kemudian diterbangkan ke Australia. "Menyerahkan uang bertahap, pertama 15 juta, kedua sampai berikutnya totalnya Rp 90 juta. Dijanjikan administrasi secepatnya, katanya tiga bulan terbang, sekitar Maret 2022," jelasnya.

Selama menunggu proses administrasi, Andre juga diminta untuk datang ke tempat latihan kerja. Namun ketika datang beberapa kali, tidak ada kegiatan apapun. Melainkan hanya pengarahan dan janji-janji manis yang disampaikan oleh Suciati. "Latihan kerja Januari 2022. Tapi tidak ada kegiatan, cuma dikasih arahan sama nunggu nunggu saja. Kemudian menjanjikan keberangkatan ke Australia. Katanya kalau tidak jadi berangkat uang bisa kembali. Tapi nyatanya sampai sekarang, uang tidak kembali," Bebernya.

Kala itu, Andre masih bersabar untuk menjemput impiannya kerja di Australia. Sembari berkomunikasi dengan Suciati menggunakan aplikasi Line. Mereka tidak menggunakan aplikasi WhatsApp pada umumnya. "Alasannya nomornya rusak. Kemudian pakai aplikasi Line. Kalau ditanya ya hanya janji-janji, menunda alasannya nunggu tiket turun, visanya turun. Tapi hanya janji-janji saja," katanya.

"Setelah itu gak ada kabar, nunggu janji-janji, sampai besok bulan Juni ini berangkat. Nunggu lagi tidak ada kabar. Terus dijanjikan lagi berangkat Agustus, tapi naik kapal laut. Terus saya gak mau, janjinya awalnya naik pesawat," sambungnya.



Andre juga mengaku geram lantaran Suciati selalu menghindar dan susah untuk diajak komunikasi. Lantaran kesal, akhirnya Andre melaporkan Suciati ke Polres Purwokerto. Hingga akhirnya Suciati berhasil diringkus petugas di sebuah mal di Purwokerto. "Setelah laporan, esok harinya saya ajak janjian, saya rayu-rayu. Kemudian ketemu di Rita Mall Purwokerto, malam hari ditangkap," jelasnya.

Tak hanya dari Magelang, ternyata korban ada juga yang dari luar Pulau Jawa. Ada juga yang dari Kalimantan dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Korbannya seorang perempuan. "Saya dari Lombok ke Magelang, dijanjikan akan kerja di Singapura. Kemudian dikumpulkan di Magelang," katanya.

Sementara, tersangka Sudirman mengakui perbuatanya sebagai penyalur tenaga kerja. Ia juga mengaku mantan kepala desa Ngepanrejo periode 2013-2019. Meski tidak memiliki perusahan, Sudirman berani menjadi penyalur tenaga kerja.

"Satu periode, enam tahun. Setelah itu nyalon lagi, tidak ada yang milih. Kemudian jualan buah di Batam lalu pindah ke Johor (Malaysia). Baru dua kali memberangkatkan lima orang ke Malaysia. Orang dari Temanggung dan Magelang. Ya, saya kabur karena takut ketangkap polisi," imbuhnya. (mha/ton)  Editor : Agus AP
#top #PENIPUAN #KRIMINALITAS SEPARANG #TPPO #KRIMINALITAS #Perdagangan orang