RADARSEMARANG.ID – Perayaan Hari Raya Idul Adha memiliki sejumlah perbedaan dengan Idul Fitri, salah satunya terkait sunah makan sebelum shalat Id.
Jika pada Idul Fitri disunahkan makan terlebih dahulu, maka pada Idul Adha justru dianjurkan untuk menunda makan hingga selesai pelaksanaan shalat.
Sunah Tidak Makan Sebelum Shalat Idul Adha Berdasarkan Hadits
Rasulullah SAW tidak makan pada pagi hari Idul Adha sampai beliau selesai melaksanakan shalat Id dan menyembelih kurban.
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Buraidah RA: “Nabi Muhammad SAW tidak keluar pada hari Idul Fitri sampai beliau makan, dan beliau tidak makan pada hari Idul Adha sampai beliau kembali (dari shalat)” (HR. Tirmidzi, No. 542; Hasan).
Dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa Rasulullah SAW baru makan dari daging kurbannya sendiri setelah kembali dari tempat shalat (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
Hal ini menunjukkan bahwa menyantap daging kurban sebagai makanan pertama pada Idul Adha adalah bagian dari bentuk kesyukuran atas nikmat Allah SWT.
Makna Simbolik: Menyambut Kurban dengan Hati yang Kosong
Tidak makan sebelum shalat Idul Adha menjadi simbol kesiapan untuk berkurban, menanti rezeki dari Allah, dan menunjukkan bahwa kebahagiaan datang setelah pengorbanan.
Dengan perut kosong, umat Islam diharapkan hadir dalam shalat dengan hati yang tunduk, lalu menyantap hasil kurban dengan penuh rasa syukur dan kesadaran.
Kontras dengan Idul Fitri: Simbol Berakhirnya Puasa Ramadhan
Sementara itu, pada Hari Raya Idul Fitri, disunahkan makan sebelum shalat sebagai tanda bahwa bulan Ramadhan telah berakhir dan hari tersebut adalah hari makan dan minum.
Dalam hadits riwayat Bukhari no. 953 disebutkan: “Rasulullah SAW tidak keluar pada pagi hari Idul Fitri sebelum beliau makan beberapa butir kurma, dan beliau memakannya dalam jumlah ganjil.”
Dua Hari Raya, Dua Makna Besar
Sunah yang berbeda ini mencerminkan makna yang khas dari masing-masing hari raya: Idul Fitri sebagai kemenangan dari puasa, dan Idul Adha sebagai puncak ketundukan dan pengorbanan.
Keduanya saling melengkapi dalam membentuk pribadi Muslim yang bersyukur, sabar, taat, dan penuh keikhlasan dalam beribadah kepada Allah SWT.
Dengan memahami perbedaan ini, umat Islam diharapkan tidak sekadar menjalankan ritual, tetapi juga menghayati pesan spiritual yang terkandung di dalamnya. (bud)
Editor : Baskoro Septiadi