RADARSEMARANG.ID — Musim libur Natal dan Tahun Baru selalu menjadi ladang subur bagi film komedi Indonesia. Tahun ini, satu judul tampil mencolok di antara deretan film hiburan keluarga: Modual Nekad.
Bukan sekadar sekuel dari Modal Nekad (2024), film ini hadir dengan napas yang lebih panjang, warna yang lebih berani, dan muatan isu sosial-politik yang terasa sangat dekat dengan keseharian penonton.
Diproduksi oleh Starvision bersama Pabrik Cerita, Modual Nekad resmi tayang serentak di bioskop Indonesia sejak 31 Desember 2025. Kursi-kursi bioskop kembali dipenuhi tawa, namun kali ini tawa itu sering disertai anggukan—karena yang ditertawakan adalah potret hidup itu sendiri.
Sebagai film lanjutan, Modual Nekad menunjukkan kecerdasan dalam menyusun narasi. Penonton yang belum menyaksikan film pertamanya tetap bisa menikmati cerita tanpa kebingungan. Rangkuman singkat kisah Modal Nekad disisipkan secara halus, membuat alur tetap mengalir tanpa terasa dipaksakan.
Beberapa tokoh lama kembali hadir, membawa konflik yang belum benar-benar selesai. Namun, film ini tak terjebak nostalgia. Ia melangkah maju, memperbesar taruhannya, sekaligus memperdalam relasi antar karakter.
Kisah masih berpusat pada tiga bersaudara, Saipul (Gading Marten), si sulung yang sok bertanggung jawab.
Jamal (Tarra Budiman), si penengah yang sering salah ambil keputusan. Marwan (Fatih Unru), si bungsu dengan kepolosan berbahaya.
Jika di film pertama mereka nekat mencuri televisi demi bertahan hidup, di Modual Nekad mereka terseret dalam kekacauan yang jauh lebih besar: koper berisi uang miliaran rupiah dan rencana perampokan bank yang penuh salah perhitungan.
Di sinilah komedi bekerja bukan hanya lewat slapstick, tetapi melalui ketololan manusia saat berhadapan dengan uang, kuasa, dan mimpi hidup instan.
Baca Juga: Tak Selalu Lucu, Film Suka Duka Tawa Ungkap Luka Komika di Balik Panggung
Salah satu kekuatan terbesar Modual Nekad adalah keberaniannya menyelipkan isu sosial-politik terkini.
Dialog dan situasi dalam film ini terasa seperti potongan headline berita: tentang ekonomi yang serba sulit, birokrasi yang absurd, hingga mentalitas instan yang menjangkiti masyarakat.
Uniknya, semua itu dibungkus ringan. Tidak ada ceramah. Tidak ada jargon berat. Yang ada adalah tawa pahit, tawa yang lahir karena penonton merasa, “Ini kok seperti hidup kita?”. Film ini seolah berbicara: komedi tidak harus lari dari kenyataan—ia justru bisa menjadi cermin yang paling jujur.
Di balik segala kegilaan, Modual Nekad tetap setia pada akarnya: cerita keluarga. Hubungan Saipul dan Gina (Gisella Anastasia) yang kembali rujuk setelah konflik panjang di film pertama menjadi salah satu poros emosional cerita.
Perubahan karakter Gina—termasuk keputusannya mengenakan hijab—bukan sekadar gimmick visual. Ia menjadi simbol fase hidup baru, penerimaan diri, dan upaya berdamai dengan masa lalu. Komedi tetap mengalir, namun kini disertai lapisan emosi yang lebih matang.
Imam Darto kembali menunjukkan ciri khasnya: humor absurd, dialog cepat, dan situasi yang terasa spontan. Namun di film ini, gaya tersebut terasa lebih terkontrol. Kekonyolan tidak berdiri sendiri, melainkan menyatu dengan cerita.
Sebagian adegan bahkan terasa seperti improvisasi yang sengaja dibiarkan liar—memberi kesan segar dan organik, seolah penonton sedang mengintip kekacauan hidup orang lain dari jarak aman.
Catatan penting bagi penonton bioskop: jangan langsung berdiri saat lampu menyala. Modual Nekad menyimpan kejutan di balik kredit title berupa adegan blooper yang tak kalah—bahkan bisa dibilang lebih—kocak dari film utamanya.(han)
Di sinilah film ini seperti berkata: tawa belum selesai, jangan buru-buru pulang.
Banyak penonton menyebut Modual Nekad sebagai hiburan keluarga paling relevan di akhir 2025. Humor yang absurd namun akrab, konflik yang kacau tapi manusiawi, membuat film ini mudah diterima lintas generasi.
Beberapa penonton menilai sekuel ini lebih “hidup” dibanding film pertama, karena berani menyentuh isu yang selama ini hanya dibicarakan di luar layar. "Isu ceritanya lebih update, lucunya mengalir. Awalnyabiasa saja. Lama-lama kok jadi lucu," ucap Aam, salah satu penonton.
Selain trio keluarga utama, Modual Nekad diperkaya oleh deretan komika dan aktor pendukung yang hadir seperti percikan tawa di sela cerita. Ananta Rispo tampil dengan humor khas generasi media sosial—karakternya kerap datang tak pada waktunya, namun justru itulah yang membuat setiap kemunculannya mencuri perhatian. Rigen Rakelna membawa gaya absurd dan improvisasi spontan, menghadirkan tawa yang sederhana namun membekas.
Andre Taulany menyuntikkan komedi verbal yang berpadu dengan mimik wajah jenaka, menjadikan dialog-dialognya hidup dan renyah. Surya Insomnia hadir dengan gaya santai yang mengalir, menjadi jembatan halus antaradegan humor. Ananda Omesh menambahkan warna slapstick yang meledak-ledak, terutama di momen kekacauan keluarga yang kian liar.
Sementara Roy Marten, sebagai aktor senior, menghadirkan sentuhan komikal yang matang—figur berwibawa yang kerap “kecele” oleh tingkah laku generasi di bawahnya. Deretan nama lain seperti Ira Wibowo, Sahila Hisyam, Budi Ros, Sadana Agung, dan para pemeran pendukung lainnya melengkapi mozaik cerita, menghadirkan komedi situasi dan drama keluarga yang kadang datang diam-diam, namun selalu meninggalkan senyum tak terduga.(han)
Editor : Baskoro Septiadi