Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Jelang Tahun Ajaran Baru, Intip Perbedaan Budaya Belajar SMA Korea Selatan dan Indonesia Lewat Pengalaman Xaviera Putri

Magang Radar Semarang • Jumat, 11 Juli 2025 | 15:20 WIB
Xaviera sedang menjelaskan pengalamannya belajar di Korea di podcast Raditya Dika (Sumber: YouTube)
Xaviera sedang menjelaskan pengalamannya belajar di Korea di podcast Raditya Dika (Sumber: YouTube)

RADARSEMARANG.ID – Indonesia saat ini sedang berada dalam periode penerimaan siswa baru yang merupakan langkah awal kehidupan pembelajaran eksklusif.

Baik siswa maupun mahasiswa akan segera menjalani kegiatan belajar di tingkatan-tingkatan baru.

Budaya belajar di setiap negara memiliki perbedaan. Seperti kegiatan belajar bagi siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) di Korea Selatan.

Xaviera Putri Ardianingsih Listyo membagikan pengalamannya merasakan budaya belajar selama menjadi siswa di SMA Korea Selatan.

Xaviera merupakan seorang content creator, penulis, Youtuber, dan salah satu peserta Clash of Champions Ruangguru musim pertama.

Melalui podcast di kanal YouTube Raditya Dika, Xaviera dengan antusias menceritakan lika-liku kehidupannya menjadi siswi internasional di  Korea Science Academy of KAIST.

KAIST atau Korea Advanced Institue of Science and Technology merupakan sebagai salah satu kampus bergengsi di Korea Selatan bahkan di dunia.

Xaviera menjabarkan bahwa kebanyakan siswa Korea Selatan telah mengikuti semacam bimbingan belajar (bimbel) di luar sekolah formal sejak kecil.

Mulai dari Taman Kanak-Kanak hingga SMA, banyak orang tua di Korea Selatan memberikan bimbel tambahan pada anak mereka supaya mampu bersaing secara akademik.

“Di Korea (Selatan, red) itu ada culture yang namanya hagwon. Hagwon itu kayak sekolah kedua. Jadi kamu selesai sekolah biasa, langsung ke situ (hagwon, red) sampai malam,” tutur Xaviera.

Bahkan, Xaviera mengaku kaget dan sedikit kesulitan karena fenomena hagwon ini. Di hari pertamanya bersekolah, Xaviera menyebut mayoritas siswa Korea Selatan dapat langsung memahami pelajaran yang diberikan.

Baca Juga: Hari Terakhir SPMB Tahap II, Program Sekolah Kemitraan Gubernur Ahmad Luthfi Sudah Serap 2.238 Siswa Miskin

Hal itu disebabkan pelajaran sekolah umum biasanya telah diajarkan lebih dulu melalui hagwon sehingga kemampuan siswa cenderung lebih unggul.

Xaviera juga menyebut waktu belajar siswa Korea Selatan cukup ekstrem. Setiap pulang sekolah, sekitar pukul 17.00, para siswa diwajibkan untuk belajar mandiri mulai pukul 19.00—22.00.

Kegiatan belajar mandiri ini merupakan bagian dari peraturan sekolah sehingga wajib diikuti.

Kendati demikian, nyatanya mayoritas siswa Korea Selatan akan melanjutkan belajar meskipun waktu belajar mandiri telah usai.

“Aku lagi salat Subuh jam 5 pagi. Aku lagi wudu, aku kaget dan teriak di toilet (karena, red) ada temen aku duduk di pojokan shower. Lagi belajar, baca buku pakai lampu,” ungkap Xaviera.

Sebagai warga Indonesia, Xaviera mengaku tidak dapat menerapkan sistem belajar teman-temannya yang tidak biasa.

Konsep belajar yang lebih dipilih Xaviera adalah mempersiapkan dari jauh-jauh hari ketimbang harus bergadang.

Budaya Indonesia yang santai dapat tetap diterapkan tanpa mempengaruhi kualitas belajarnya.

“Aku tipe yang gak bisa bergadang. Justru kalau aku bergadang malah performa aku turun. Jadi, aku tipe anaknya yang dari jauh hari udah nyiapin.”

Di SMA-nya juga, Xaviera menjelaskan paket pembelajaran antara tahun pertama dan berikutnya cukup berbeda.

Di tahun pertama, seluruh pelajaran SMA selama tiga tahun akan tuntas dipelajari. Kemudian, di tahun kedua dan ketiga, pelajaran akan berfokus pada mata kuliah-mata kuliah di perguruan tinggi.

Perbedaan budaya belajar ini memperlihatkan sisi Korea Selatan yang memang sangat serius mengatur kualitas sumber daya manusianya. (mg2)

Editor : Baskoro Septiadi
#pelajaran #xaviera #SMA #BUDAYA #SEKOLAH #belajar #Siswa #korea selatan