RADARSEMARANG.ID - Bayangan serigala tentunya tak mungkin sedikitpun terlintas dibenak saat membahas tentang hutan hujan tropis yang ada di Indonesia.
Serigala yang kita kenal identik dengan hutan tundra dan hutan bersalju di kawasan hutan-hutan Eropa dan Amerika Utara.
Penggambaran budaya pop melalui film dan media biasanya hanya mengenalkan bentuk serigala khas bumi bagian utara dengan bulu yang panjang dan badan yang tegap.
Namun, di Indonesia sendiri aslinya juga terdapat satu jenis spesies anjing serigala yang berkeliaran di hutan-hutan Jawa, Sumatera dan hampir seluruh pulau besar yang ada di Indonesia.
Nama dari spesies ini adalah Ajag (Cuon Alpinus) merupakan jenis sub-spesies dari keluarga anjing liar yang banyak ditemui di Asia Selatan, Asia Tenggara dan Australia.
Ada dua subspesies Ajag yang berada di wilayah Indonesia, yakni Ajag Sumatera (Cuon Alpinus Sumatrensis) dan Ajag Jawa (Cuon Alpinus Javanicus).
Secara fisik, Ajag memiliki perawakan sedang dengan warna bulu coklat kemerahan yang terang, di bagian perut dan leher dihiasi corak keputihan hingga sebagian kaki.
Meskipun wilayah persebarannya cukup luas, namun anjing liar ini cukup sulit ditemukan saat berada di hutan tempat asli habitatnya, bisa dibilang mereka makhluk yang cukup misterius.
Saking misteriusnya, bahkan penelitian tentang jenis anjing liar ini di Indonesia masih sangat terbatas. Namun dipastikan ruang lingkup anjing ini dapat ditemukan di Taman Nasional Alas Purwo, Baluran, Gede Pangrango, Halimun Salak dan Leuser.
Anjing hutan ini merupakan karnivora yang berperan sebagai pengendali populasi , mereka adalah predator puncak yang menguasai rantai makanan di hutan-hutan bersama dengan karnivora lainnya seperti Macan Tutul Jawa ataupun Harimau Sumatera.
Mereka secara khusus menargetkan buruannya pada binatang-binatang yang lebih besar dari tubuhnya. Secara bersamaan Ajag mampu menjatuhkan babi hutan (celeng), rusa ataupun kerbau.
Namun, tak menutup kemungkinan spesies ini juga melakukan perburuan terhadap binatang-binatang kecil seperti ayam hutan, kancil ataupun kelinci hutan.
Baca Juga: Rusa Jawa, Spesies Endemik Asal Indonesia yang Diperkenalkan ke Benua Australia dan Selandia Baru
Di Jawa sendiri, Anjing Ajag kerap disebut sebagai Asu Kikik yang berarti Anjing Ketawa karena lolongannya yang menyerupai suara orang tertawa dengan nyaring.
Harap waspada jika mendengarkan bunyi Kik Kik Kik yang berasal dari hutan belantara tempat populasi Ajag berada, bisa dipastikan seekor ataupun sekawanan Ajag berada di sekitar dan menargetkan anda sebagai buruan mereka.
Menurut kisah legenda yang beredar di masyarakat Jawa, keberadaan Ajag juga menciptakan sebuah urban legend tentang makhluk penghisap darah yang menyerang ternak warga.
Sosok mistik ini disebut dengan Siluman Ajag, dengan perawakan yang serupa hybrid manusia-ajag seperti Werewolves di kebudayaan barat, namun memiliki kemiripan dengan legenda Chucacabra, sosok penghisap darah asal Mexico (America Latin).
Ajag merupakan binatang yang hidup bersosial, sama seperti kebanyakan spesies anjing lainnya. Namun, mereka dapat ditemukan hidup secara soliter dalam kondisi-kondisi tertentu.
Berdasarkan IUCN, populasi Ajag di Indonesia diperkirakan kurang dari 2.200 ekor bahkan jauh lebih kurang dari nominal tersebut.
Ditambah perspektif mistik tadi, masyarakat juga masih banyak yang memburu spesies ini karena kerap menyerang ternak warga.
Source: Mongabay, Greeners, Forestation UGM
Editor : Baskoro Septiadi