Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Lufi Sulap Kelas Jadi Game Edukasi, Siswa Antusias Belajar Lewat Papan Interaktif Digital

Khafifah Arini Putri • Rabu, 18 Maret 2026 | 14:21 WIB

Guru SMPN 8 Kota Pekalongan Lufianto Dani Permana sedang mengajarkan makna konotasi dan denotasi pada peserta didik
Guru SMPN 8 Kota Pekalongan Lufianto Dani Permana sedang mengajarkan makna konotasi dan denotasi pada peserta didik

RADARSEMARANG.ID, Pekalongan - Suasana berbeda tampak di salah satu ruang kelas SMP Negeri 8 Kota Pekalongan. Bukan hanya papan tulis biasa, di depan kelas terpampang layar besar papan interaktif digital (PID) atau Interactive Flat Panel (IFP). Di sanalah Lufianto Dani Permana, guru Bahasa Indonesia, menghidupkan pembelajaran dengan cara yang menarik.

Pagi itu, siswa kelas 8 tampak bersemangat. Sebelum pelajaran dimulai, mereka kompak menyanyikan lagu Lir Ilir untuk mencairkan suasana. Tak lama kemudian, Lufi, sapaan akrabnya, mulai mengajak siswa masuk ke materi konotasi dan denotasi.

"Kalau konotasi itu makna kiasan, seperti 'tikus kantor'. Kalau denotasi, makna sebenarnya, misalnya 'anak tikus'," jelas Lufi sambil menampilkan contoh di layar.

Sebagai fasilitator daerah Program PINTAR Tanoto Foundation, Lufi aktif mendorong pembelajaran yang berpusat pada siswa, dengan melibatkan mereka secara langsung dalam proses belajar. Untuk mendukung pendekatan tersebut, ia memanfaatkan papan interaktif digital (PID) dalam kegiatan pembelajaran di kelas.

Setelah memastikan pemahaman dasar, pria 33 tahun ini langsung mengajak siswa bermain. Lufi mengemas materi konotasi dan denotasi menjadi permainan kompetitif. Siswa dibagi dalam kelompok dan diminta maju ke depan untuk menjawab soal yang tampil di layar.

Di layar PID itu, muncul pertanyaan-pertanyaan seputar konotasi dan denotasi. Begitu soal terlihat, kedua siswa ini langsung beradu cepat menyentuh jawaban yang benar, layaknya bermain gim edukasi.

Kelompok pertama yang diwakili dua peserta didik bersaing ketat dengan kelompok kedua. Skor pun berubah cepat. Sementara itu, siswa lain yang duduk di bangku ikut bersorak, memberi semangat, bahkan bertepuk tangan setiap kali jawaban tepat berhasil diraih rekan mereka.

Suasana berubah layaknya sebuah game show di televisi. Kompetisi sehat ini jelas memantik antusiasme.

"Inovasi ini bukan sekadar biar ramai, tapi bagaimana anak-anak bisa memahami materi dengan cara yang menyenangkan," ungkapnya.

Menurutnya, pembelajaran berbasis visual dan audio menjadi kebutuhan di era digital. Dengan papan interaktif, guru dapat menggabungkan berbagai media seperti gambar, video, hingga kuis interaktif dalam satu waktu.

Ia juga memanfaatkan berbagai platform pendukung seperti Wordwall, Canva, hingga Padlet untuk memperkaya metode pembelajaran. Dengan demikian, siswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga aktif berpartisipasi.

"Semua sudah terintegrasi di sini. Dari papan tulis, video, sampai permainan. Jadi lebih efisien dan menarik," jelasnya.

Lufi mengungkapkan, inovasi ini mulai ia terapkan secara bertahap sejak semester genap. Kini, penggunaan papan interaktif dilakukan secara rutin dalam beberapa pertemuan setiap pekan.

 

Fasda Program PINTAR Tanoto Foundation Lufianto Dani Permana sedang mengajarkan makna konotasi dan denotasi melalui PID pada siswa.
Fasda Program PINTAR Tanoto Foundation Lufianto Dani Permana sedang mengajarkan makna konotasi dan denotasi melalui PID pada siswa.

Dampaknya pun mulai terasa. Tingkat kehadiran siswa meningkat, terutama saat pembelajaran menggunakan perangkat digital. Selain itu, motivasi belajar juga terlihat lebih tinggi.

"Kalau biasanya yang masuk setengah kelas, sekarang bisa lebih banyak. Ada semangat baru," katanya.

Bagi siswa, metode ini menjadi pengalaman belajar yang berbeda. Mereka merasa lebih tertantang dan mudah memahami materi karena terlibat langsung dalam proses pembelajaran.

Lufi menilai, inovasi seperti ini penting untuk menjawab tantangan zaman, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Ia ingin siswa tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi secara bijak.

"Kalau tidak dikenalkan dari sekarang, mereka bisa tertinggal. Dunia sudah berubah," tegasnya.

Salah satu siswa kelas 8D, Daghfal Al Fajri, mengaku baru pertama kali menggunakan papan interaktif tersebut. Menurutnya, pembelajaran menjadi lebih asyik dan mudah dipahami.

"Seru banget belajarnya, lebih gampang dipahami. Ditambah lebih menantang juga karena ada game," akunya.

Ia pun berharap pembelajaran dengan PID ini juga diterapkan di mata pelajaran lain, sehingga belajar-mengajar tak lagi membosankan.

"Ingin semua pelajaran pakai ini (PID), jadi lebih menyenangkan pembelajarannya, nggak mudah bosan," imbuhnya.

Hal senada disampaikan Muhammad Ridwan. Siswa kelas 8 ini menyebut pembelajaran dengan papan interaktif membuatnya lebih aktif. Selain itu, materi yang disampaikan juga lebih mudah ditangkap.

"Kalau pakai papan interaktif ini, jadi lebih semangat belajar," katanya. (kap)

Editor : Baskoro Septiadi
#program pintar tanoto foundation #Papan Interaktif Digital #Kota Pekalongan #fasilitator daerah #interactive flat panel #tanoto foundation