Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Resmi! Inilah Jadwal Sekolah Selama Ramadan 2026: Ada Belajar di Rumah, Masuk Lagi, Lalu Libur Panjang

Deka Yusuf Afandi • Senin, 9 Februari 2026 | 11:40 WIB

 

Wacanakan Libur Sekolah Sebulan Penuh di Bulan Ramadan, Agar Lebih Konsentrasi
Wacanakan Libur Sekolah Sebulan Penuh di Bulan Ramadan, Agar Lebih Konsentrasi

RADARSEMARANG.ID – Penetapan pengaturan pembelajaran dan libur sekolah selama bulan suci Ramadan 2026 menjadi salah satu kebijakan pendidikan yang paling menyita perhatian publik di awal tahun.

Tidak hanya para orang tua dan peserta didik, para guru, pengelola sekolah, hingga pemerhati pendidikan turut menyoroti keputusan pemerintah yang dinilai membawa perubahan signifikan dalam cara sekolah memaknai proses belajar mengajar selama Ramadan.

Pemerintah secara resmi mengumumkan bahwa pembelajaran selama Ramadan 2026 tidak semata berorientasi

pada pencapaian akademik, melainkan diarahkan sebagai momentum besar untuk membentuk karakter, memperkuat nilai spiritual, serta menanamkan empati dan kepedulian sosial sejak usia dini.

Keputusan ini disampaikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, usai pelaksanaan Rapat Tingkat Menteri yang secara khusus membahas arah kebijakan pendidikan selama bulan Ramadan.

alam pernyataannya, Pratikno menegaskan bahwa Ramadan harus ditempatkan sebagai ruang pendidikan yang utuh, bukan sekadar periode penyesuaian jam belajar atau pengurangan beban kurikulum.

Pemerintah ingin memastikan bahwa setiap anak Indonesia, tanpa memandang latar belakang agama dan keyakinan, memperoleh pengalaman belajar yang bermakna, relevan, dan membentuk kepribadian yang lebih baik.

“Ramadan adalah momentum pendidikan karakter. Karena itu, pembelajaran kita arahkan untuk memperkuat nilai keagamaan sesuai agama dan keyakinan murid, sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial dan kebiasaan positif,” ujar Pratikno.

Menurut Pratikno, selama ini pembelajaran di bulan Ramadan kerap dipersepsikan hanya sebagai aktivitas formal yang dijalankan seadanya.

Padahal, Ramadan menyimpan potensi luar biasa untuk menjadi sarana pendidikan karakter, spiritualitas, dan sosial yang tidak selalu bisa diperoleh di bulan-bulan lainnya.

Oleh karena itu, pemerintah mendorong satuan pendidikan untuk mengoptimalkan bulan suci ini sebagai wahana pembelajaran nilai-nilai keimanan, ketakwaan, toleransi, serta kepedulian terhadap sesama.

Dalam kebijakan yang telah disepakati, pemerintah menetapkan skema pembelajaran Ramadan 2026 yang terbagi ke dalam beberapa fase waktu yang jelas.

Pada periode 18 hingga 20 Februari 2026, kegiatan pembelajaran dilaksanakan di luar satuan pendidikan.

Artinya, peserta didik tidak diwajibkan hadir ke sekolah, melainkan mengikuti pembelajaran berbasis rumah dan lingkungan.

Fase ini dirancang untuk memberikan ruang adaptasi awal Ramadan, sekaligus mendorong peran keluarga dalam proses pendidikan anak.

Orang tua diharapkan terlibat aktif mendampingi anak, baik dalam kegiatan belajar maupun dalam pembiasaan ibadah dan aktivitas positif lainnya.

 Baca Juga: Catat! Ini Daftar Libur Nasional dan Cuti Bersama Februari 2026

Memasuki tanggal 23 Februari hingga 16 Maret 2026, pembelajaran kembali dilaksanakan secara tatap muka di sekolah.

Namun, pemerintah menegaskan bahwa pola pembelajaran pada periode ini harus disesuaikan dengan konteks Ramadan.

Sekolah diminta untuk lebih fleksibel dalam pengaturan waktu, metode pembelajaran, serta jenis kegiatan yang diberikan kepada peserta didik.

Penekanan utama bukan pada target materi yang padat, melainkan pada proses pembelajaran yang menyenangkan, bermakna, dan selaras dengan suasana Ramadan.

Bagi peserta didik beragama Islam, sekolah diarahkan untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan keagamaan yang bersifat edukatif dan membangun karakter.

Kegiatan seperti tadarus Alquran, pesantren kilat, kajian keislaman, serta diskusi nilai-nilai moral Islam menjadi bagian penting dari proses pembelajaran

 Aktivitas ini tidak hanya bertujuan meningkatkan pemahaman agama, tetapi juga membentuk kebiasaan positif seperti disiplin, kejujuran, dan tanggung jawab.

Sementara itu, peserta didik non-Islam tetap mendapatkan hak pembelajaran yang setara dan relevan dengan keyakinan masing-masing.

Pemerintah memastikan bahwa sekolah wajib memfasilitasi bimbingan rohani dan kegiatan keagamaan sesuai agama yang dianut murid.

Pendekatan ini menjadi wujud nyata komitmen negara dalam menjaga prinsip keberagaman dan toleransi dalam dunia pendidikan

Dengan demikian, Ramadan tidak menjadi ruang eksklusif, melainkan momentum kebersamaan yang memperkuat nilai saling menghormati.

Selain aspek spiritual, pemerintah juga menaruh perhatian besar pada penguatan kepedulian sosial selama Ramadan 2026.

Sekolah didorong untuk menginisiasi berbagai kegiatan sosial yang melibatkan peserta didik secara aktif.

Program berbagi takjil, pengumpulan dan penyaluran zakat, infak, serta santunan kepada masyarakat yang membutuhkan

menjadi bagian dari pembelajaran kontekstual yang diharapkan mampu menumbuhkan empati dan solidaritas sosial sejak dini.

Melalui kegiatan ini, anak-anak diajak untuk tidak hanya memahami konsep berbagi secara teori, tetapi merasakannya secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Beragam kompetisi keagamaan dan edukatif juga dianjurkan untuk digelar selama Ramadan. Lomba adzan,

cerdas cermat keagamaan, hafalan ayat suci, hingga kreativitas seni Islami dipandang sebagai sarana efektif untuk menyalurkan bakat dan minat peserta didik.

Kompetisi ini tidak semata mengejar prestasi, tetapi lebih pada membangun rasa percaya diri, sportivitas, dan semangat berkompetisi secara sehat.

Salah satu poin penting dalam kebijakan Ramadan 2026 adalah penguatan konsep Ramadan Ramah Anak.

Pemerintah ingin memastikan bahwa seluruh aktivitas yang dilaksanakan selama bulan suci tetap memperhatikan kebutuhan, hak, dan perkembangan anak.

Dalam kerangka ini, gerakan satu jam tanpa gawai kembali digalakkan sebagai upaya membangun kebiasaan positif di tengah dominasi teknologi digital.

Anak-anak diajak untuk memanfaatkan waktu tanpa gawai dengan kegiatan produktif seperti membaca, beribadah, berdiskusi dengan keluarga, atau melakukan aktivitas sosial.

Pratikno menekankan bahwa pendidikan karakter tidak bisa dilepaskan dari kebiasaan sehari-hari.

Oleh karena itu, gerakan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat turut diintegrasikan dalam aktivitas Ramadan.

Kebiasaan seperti bangun pagi, beribadah, berolahraga, gemar belajar, makan sehat dan bergizi, bermasyarakat, serta tidur tepat waktu menjadi nilai-nilai yang terus diperkuat selama bulan Ramadan.

Pemerintah berharap, kebiasaan ini tidak berhenti setelah Ramadan berakhir, tetapi menjadi bagian dari gaya hidup anak Indonesia.

Setelah berakhirnya masa pembelajaran tatap muka Ramadan, pemerintah menetapkan libur pasca-Ramadan pada 23 hingga 27 Maret 2026.

Masa libur ini dimaksudkan untuk memberikan waktu istirahat bagi peserta didik sekaligus kesempatan bagi keluarga untuk mempererat kebersamaan setelah menjalani rangkaian ibadah Ramadan.

Libur pasca-Ramadan juga menjadi ruang transisi sebelum kembali ke ritme pembelajaran normal di bulan-bulan berikutnya.

Kebijakan ini mendapatkan beragam respons dari masyarakat. Sebagian orang tua menyambut positif karena menilai pengaturan ini lebih manusiawi dan sesuai dengan kebutuhan anak selama Ramadan.

Mereka melihat adanya keseimbangan antara aspek akademik, spiritual, dan sosial. Di sisi lain, ada pula yang menyoroti kesiapan sekolah dalam mengimplementasikan kebijakan ini secara merata, terutama di daerah dengan keterbatasan sarana dan sumber daya.

Pemerintah menyadari tantangan tersebut dan menegaskan pentingnya peran seluruh pemangku kepentingan pendidikan.

Guru, kepala sekolah, orang tua, dan pemerintah daerah diharapkan dapat bekerja sama memastikan kebijakan ini berjalan efektif.

Fleksibilitas menjadi kunci, mengingat kondisi dan karakteristik setiap daerah berbeda-beda.

Namun, prinsip dasarnya tetap sama, yaitu menjadikan Ramadan sebagai momentum pendidikan yang utuh dan bermakna.

Dengan pengaturan pembelajaran dan libur sekolah Ramadan 2026 ini, pemerintah ingin mengirimkan pesan kuat bahwa pendidikan bukan hanya soal angka dan nilai rapor.

Pendidikan adalah proses membentuk manusia seutuhnya, yang beriman, berkarakter, peduli terhadap sesama, dan siap hidup dalam masyarakat yang beragam.

Ramadan 2026 diharapkan menjadi tonggak penting dalam upaya membangun ekosistem pendidikan yang lebih berorientasi pada nilai dan kemanusiaan.(dka)

Editor : Baskoro Septiadi
#jadwal libur sekolah 2026 #pendidikan karakter anak bermasalah #aturan pemerintah sekolah ramadan 2026 #jadwal sekolah sd smp sma ramadan 2026 #aturan pembelajaran Ramadan 2026 #kapan sekolah libur ramadan 2026 #aturan sekolah ramadan 2026 #libur sekolah pasca ramadan 2026 #jadwal sekolah bulan puasa 2026 #sekolah selama ramadan 2026 #pratikno #kebiasaan anak Indonesia hebat #aturan pembelajaran ramadan #Pendidikan karakter anak usia dini #jadwal masuk sekolah ramadan 2026 #kemenko pmk #Ramadan Ramah Anak #kegiatan sekolah selama ramadan #kegiatan ramadan sekolah #pembelajaran ramadan 2026 #kebijakan pendidikan ramadan #kemenko pmk ri #jadwal belajar siswa ramadan #jadwal masuk sekolah setelah ramadan 2026 #rapat tingkat menteri bahas bpnt #pesantren kilat sekolah 2026 #rapat tingkat menteri #menko pmk #pendidikan iman dan takwa #gerakan satu jam tanpa gawai #libur sekolah Ramadan 2026 #jadwal sekolah Ramadan 2026 #Pendidikan Karakter Anak #aturan pemerintah terbaru 2026 #Instruktur keselamatan berkendara dari Indonesia #jadwal belajar sekolah selama puasa 2026 #apakah sekolah libur saat ramadan 2026 #rapat tingkat menteri membahas pemulihan pascagempa ntb