Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Tak Sekadar Nafkah, Susilo Adi Ayah Hebat yang Hadir di Setiap Fase Tumbuh Anak

Khafifah Arini Putri • Senin, 3 November 2025 | 02:03 WIB
Fasilitator Program PINTAR Tanoto Foundation Susilo Adi Saputro, S.Pd., bersama dengan peserta didiknya di SDN Pandean Lamper 03 Semarang.
Fasilitator Program PINTAR Tanoto Foundation Susilo Adi Saputro, S.Pd., bersama dengan peserta didiknya di SDN Pandean Lamper 03 Semarang.


RADARSEMARANG.ID, Semarang - Momen Hari Ayah Nasional menjadi pengingat pentingnya peran seorang ayah dalam keluarga. Sosok Susilo Adi Saputro, S.Pd., menjadi contoh nyata bahwa tanggung jawab seorang ayah bukan hanya mencari nafkah, tetapi juga turut terlibat aktif dalam pengasuhan anak. Sehingga membentuk karakter dan kebiasaan baik pada anak-anaknya.

Sebagai guru di SDN Pandean Lamper 03, Adi sapaan akrabnya tak hanya mengajarkan nilai disiplin dan tanggung jawab di kelas, tetapi juga menerapkannya di rumah. Ia dikenal sebagai sosok ayah yang hangat dan terlibat penuh dalam tumbuh kembang ketiga anaknya. Adi berbagi peran dengan istrinya dalam menerapkan pola asuh yang mengedepankan disiplin, kasih sayang, dan penerapan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat. Seperti membiasakan bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat hingga tidur cepat.

Meski memiliki kesibukan masing-masing, Adi bersama istri telah menyusun rutinitas harian yang terstruktur. Sehingga anak-anaknya tahu akan pentingnya disiplin dan tanggung jawab.

"Saya dan istri berbagi tugas. Waktu kami terbatas, jadi siapa yang bisa, ya langsung mengambil peran," ungkapnya.

Adi pun bercerita, setiap pukul 04.00 pagi, rumahnya yang berada di kawasan Pedurungan, Kota Semarang, sudah ramai. Lampu kamar menyala, suara ketiga anaknya sudah terdengar. Anak sulung berusia 8 tahun, anak kedua berusia lima tahun, dan si bungsu berumur dua tahun. Mereka bangun bersamaan.

“Kalau satu bangun, yang lain ikut bangun,” kata Adi menjelaskan.

Kebiasaan bangun pagi ini sudah berjalan bertahun-tahun. Rutinitas itu bukan paksaan, melainkan hasil pembiasaan yang ia tanamkan sejak anak pertama lahir.

“Kami di keluarga tidak menulis aturan. Tapi sudah otomatis dari kecil. Pukul empat bangun, jam lima mandi, setengah enam sarapan, dan jam enam sudah siap berangkat,” bebernya.

Pukul empat pagi itulah Adi bersama istri mulai berbagi tugas. Setelah menunaikan ibadah pagi bersama, mereka menyiapkan kebutuhan anak-anak menjelang sekolah. Sang istri menyiapkan sarapan, dan Adi bertugas mengurus anak-anak untuk mandi dan menyiapkan seragam sekolah.

Setelah semuanya siap, pukul 05.30 anak-anaknya mulai sarapan. Bagi Adi, sarapan bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk cinta dan disiplin. Ia percaya, anak yang terbiasa sarapan akan lebih fokus dan bersemangat belajar. Tak kalah penting, Adi selalu menerapkan rasa syukur pada diri anak-anaknya.

“Saya ajarkan mereka makan apa adanya. Jangan menilai makanan dari bentuknya. Coba dulu, baru tahu enaknya,” ungkapnya.

Selepas sarapan, Adi bergegas untuk mengantar anak-anak ke sekolah. Lalu pada sore hari, sekitar pukul 17.00, setelah pulang mengajar, ia kembali menjadi ayah sepenuhnya.

Tak langsung beristirahat, ia mengajak anak-anaknya untuk makan malam, dilanjutkan dengan salat Magrib berjamaah. Di sela waktu itu, Adi juga membimbing anak-anak membaca dan menghafal surat pendek kitab suci.

“Yang besar sudah hafal beberapa surat. Setelah salat Magrib, saya memintanya membaca ulang hafalannya. Saya jadi pendampingnya,” jelas Adi.

Kedekatan itu terasa nyata. Anak-anak tak hanya mengenal ayah mereka sebagai sosok yang disiplin, tapi juga hangat dan sabar. Setelah Magrib, mereka lanjut salat Isya berjamaah, lalu belajar bersama. Di rumah, ada tiga meja kecil sejajar, masing-masing milik satu anak, agar mereka tidak rebutan.

Meski sudah mengajar di sekolah, Adi tetap menyediakan waktu mendampingi anak-anak belajar di rumah. Ia tahu pentingnya membangun fondasi literasi dan numerasi sejak dini. Hal itulah yang diajarkan pada anaknya sesuai dengan pembelajaran mereka di sekolah.

“Anak TK saya latih mengenal huruf dan angka. Yang SD saya ajarkan mendikte. Saya bacakan kalimat dari buku cerita, dia menulis. Itu melatih pendengaran sekaligus kemampuan menulis,” papar Adi.

Menurutnya, kemampuan calistung (baca tulis hitung) bukan sekadar tugas sekolah, tapi modal penting menghadapi masa depan.

“Kalau dasarnya kuat, nanti tahapan selanjutnya pasti lebih mudah,” katanya.

Ia juga kerap melibatkan unsur bermain dalam belajar. Misalnya, menggunakan potongan huruf warna-warni atau biji-bijian untuk berhitung.

“Belajar jangan bikin stres. Anak-anak harus senang dulu,” tambah guru yang juga menjadi fasilitator program PINTAR Tanoto Foundation itu.

Pukul 20.00 malam, lampu kamar anak-anak mulai diredupkan. Tak ada televisi menyala, tak ada gawai di tangan. Semua sudah tahu aturan, tidur lebih awal supaya bisa bangun pagi.

“Jadi pukul 19.30 itu mereka sudah tidur paling malam pukul 20.00. Kalau mereka tidur larut, paginya susah bangun. Jadi saya biasakan paling lambat jam delapan malam sudah tidur,” kata Adi.

Ia menanamkan disiplin dengan cara lembut. Tak perlu marah, cukup dengan contoh.

“Anak itu meniru. Kalau orang tuanya disiplin, anak juga ikut, tegasnya.

Meski disiplin soal belajar dan ibadah, anak-anak Adi tak kehilangan keceriaan. Mereka bebas bermain pada pukul 14.00 hingga 15.00. Setiap sore anaknya suka bermain bola dengan teman-teman sebayanya. Kebiasaan ini sesuai dengan Kebiasaan Anak Indonesia Hebat tentang bermasyarakat. Mereka juga akrab dengan tetangga sekitar.

“Yang sulung itu sering main sepak bola di rumah, saya bebaskan mereka untuk bersosialisasi," ungkapnya.

Anak sulungnya bahkan aktif di sekolah sepak bola (SSB). Latihan diadakan tiap Rabu, Jumat, dan Minggu sore. Adi selalu mengantar dan menunggui hingga selesai.

“Saya ingin mereka tahu, ayahnya peduli. Meski capek, saya nikmati. Jadi setelah selesai ngajar kalau hari Rabu dan Jumat, saya menyusul ke tempat latihan anak bersama istri,” ujarnya.

Menurutnya, aktivitas luar ruangan juga penting untuk membentuk mental kuat dan kerja sama. Menariknya Adi juga menerapkan waktu untuk quality time saat weekend. Tak selalu pergi jauh, kadang hanya jalan ke taman dekat rumah atau membeli es krim di warung. Tapi bagi anak-anak, itu momen berharga.

“Yang penting mereka merasa dekat dengan orang tuanya, karena anak saya suka es krim, paling keluar ke taman dan beli es krim,” tutur Adi.

Bagi Adi, menjadi ayah bukan sekadar bekerja mencari uang. Ia lebih bangga disebut “ayah yang hadir”. Menurutnya kehadiran dan keterlibatan langsung mengasuh anak jauh lebih berharga.

“Saya ingin memberikan yang dulu saya tidak dapatkan. Kedekatan dengan anak itu enggak bisa diulang,” ucapnya pelan.

Ia sadar, masa kecil anak hanya datang sekali. Maka selama bisa, ia ingin benar-benar mendampingi dalam beribadah, belajar, dan bermain.

“Kalau nanti mereka sudah besar, mungkin mereka punya dunia sendiri. Jadi sekarang waktunya saya hadir penuh,” ujarnya

Hari Ayah Nasional yang jatuh pada 12 November mendatang menjadi momen refleksi bagi banyak orang tua. Bagi Susilo Adi Saputro, setiap hari adalah hari ayah.

Karena baginya, menjadi ayah hebat bukan soal besar penghasilan, tetapi tentang besar perhatian dan kesediaan hadir di setiap fase tumbuh anak-anaknya.

"Walaupun saya sebagai kepala keluarga memberikan nafkah, saya juga berperilaku dalam melihat perkembangan anak saya seperti apa, pendidikannya seperti apa, dan kesehariannya seperti apa, selagi kita bisa dekat dengan mereka, kita bisa bersama dengan mereka, saya juga berusaha untuk memberikan yang terbaik," tandasnya. (kap/web)

Editor : Baskoro Septiadi
#program pintar tanoto foundation #pengasuhan anak #Hari Ayah Nasional #Tanggung Jawab