Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Saat Beasiswa Mengubah Hidup, Kisah Linggom Bona dengan Program Pendekar Baju hingga Mimpi Jadi Angel Investor

Khafifah Arini Putri • Jumat, 19 September 2025 | 16:54 WIB
Penerima Beasiswa TELADAN Tanoto Foundation, Linggom Bona Anggara.
Penerima Beasiswa TELADAN Tanoto Foundation, Linggom Bona Anggara.

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Ketekunan, perencanaan, dan keberanian mengambil peluang menjadi tiga kunci perjalanan Linggom Bona Anggara. Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini menorehkan banyak jejak prestasi sejak masih kuliah.

Berawal dari keinginan untuk meringankan beban orang tua dengan mencari beasiswa, hingga kini berkarier di Nutrifood.

Linggom sapaan akrabnya, membuktikan kesempatan yang datang bisa menjadi pintu menuju jalan hidup yang lebih luas.

Linggom menjadi salah satu penerima Beasiswa TELADAN Tanoto Foundation angkatan 2019. Program ini tidak hanya membantunya secara finansial, tetapi menjadi batu loncatan untuk mengukir segudang prestasi dan proyek sosial yang berdampak luas.

"Dulu sebelum kuliah memang sudah mencari informasi beasiswa. Kebetulan kakak aku merekomendasikan Beasiswa TELADAN Tanoto Foundation, ternyata manfaatnya banyak dan aku keterima," jelas Linggom.

Alasan utamanya mencari beasiswa sangatlah sederhana, yakni meringankan beban orang tua.

“Aku punya mindset bagaimanapun caranya ketika kuliah aku tidak ingin merepotkan orang tua, dan salah satu caranya adalah beasiswa itu sendiri,” katanya.

Bagi Linggom, beasiswa ini bukan hanya soal bantuan dana pendidikan. Ada pelatihan kepemimpinan, training, hingga pendampingan yang membuka jalan baginya untuk berkembang.

“Aku melihat benefit yang ditawarkan oleh Tanoto Foundation itu lumayan komprehensif. Mereka memberikan program-program edukasi tentang kepemimpinan, banyak training, punya konsep program yang terstruktur dan lebih jelas, dan lebih long term,” jelasnya.

Beasiswa itu, lanjutnya, justru menjadi titik awal untuk bisa memberi manfaat bagi sekitar.

“Itu lebih menjadi sebuah wadah yang memberdayakan saya sebagai penerima beasiswa dan mengedukasi serta meng-endorse saya untuk bisa memberdayakan sekitar saya juga,” ujar Linggom.

Kata-kata itu bukan sekadar teori. Linggom membuktikannya lewat berbagai kegiatan. Ia aktif di Tanoto Scholars Association (TSA) Undip, yang secara berkala melakukan sejumlah kegiatan sosial, termasuk proyek mengajar anak-anak yang sulit mendapat akses pendidikan.

Namun, langkah besarnya lahir pada 2020. Saat pandemi melanda, ia bersama delapan rekannya menggagas program Pendekar Baju.

“Pendekar Baju itu adalah sebuah platform untuk menyelamatkan atau menjawab permasalahan tentang sampah baju,” jelasnya.

Pendekar Baju menghimpun donasi pakaian bekas layak pakai, kemudian mengelolanya agar bisa didaur ulang dan didistribusikan bagi yang membutuhkan. Donasi datang dari berbagai daerah, bahkan hingga Lampung.

Meski hanya berjalan dua tahun, Pendekar Baju memberi pengalaman yang tidak ternilai. Dari sana, Linggom belajar bagaimana mengelola tim, membangun jejaring, dan mengubah kepedulian kecil menjadi aksi nyata.

"Berkat Pendekar Baju, aku banyak belajar mengelola tim, membangun jejaring, sekaligus memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ungkapnya.

Satu peristiwa yang tak pernah ia lupakan adalah saat mengikuti Leadership Camp Tanoto Foundation di Bogor pada 2019. Dari kegiatan itu, cara pandangnya terhadap hidup benar-benar berubah.

“Pulang dari situ aku ngerasa menjadi manusia baru yang mendapatkan banyak insight-insight gitu loh. Itu salah satu milestone yang aku ngerasa benar-benar ngerubah banget gimana cara aku memandang suatu hal,” katanya.

Dari situ, kepercayaan dirinya tumbuh. Ia berani mencoba berbagai kompetisi, mulai dari Model United Nations, lomba debat berbahasa Inggris, hingga kompetisi bisnis. Puncaknya, ia berhasil mencatat prestasi internasional. Linggom meraih juara tiga dalam lomba bisnis tingkat Asia di Malaysia.

Kesempatan lain datang ketika ia mengikuti Global Exposure Program di Harvard University. Walau dijalani secara daring akibat pandemi, pengalaman itu tetap berkesan. Ia mendapat kelas tentang bisnis dan entrepreneurship langsung dari para pengajar Harvard.

Di luar kampus, Linggom juga aktif membangun pengalaman kerja. Ia pernah magang di Unilever, PricewaterhouseCoopers (PwC), hingga Boston Consulting Group (BCG). Baginya, magang adalah cara menemukan kecocokan karier.

“Magang jangan di satu industri, kalau bisa di various industries dan di various position, jadi kita tahu yang fit in-nya di mana,” bebernya.

Kini, ia berkarier sebagai Distribution Development Junior Executive di Nutrifood. Posisi ini membuatnya terjun langsung dalam pengembangan distribusi produk, sekaligus mengasah keterampilan manajerial dan analisis bisnis.

Menariknya Linggom juga pernah menjalankan proyek pribadi bernama Linggom Buka Kelas. Program ini berupa kelas online tentang pembuatan CV dan wawancara kerja. Tak sedikit mahasiswa terbantu untuk lolos magang maupun pekerjaan pertama mereka.

“Ingin berdaya dan bisa memberdayakan orang lain, bisa impact ke orang banyak, aku pengen berada di ranah financial industry, mungkin menjadi seorang angel investor,” kata Linggom tentang tujuan jangka panjangnya.

Linggom tidak menutupi bahwa perjalanannya penuh tantangan. Namun ia selalu punya pegangan untuk bangkit.

“Pertama harus dari diri sendiri dulu, tahu dulu self-worth kita. Yang kedua, harus ngomong sama Tuhan. Lalu yang ketiga itu harus ada dukungan dari orang terdekat, terutama keluarga,” tandasnya. (kap/web)

Editor : Baskoro Septiadi
#Beasiswa Teladan #pakaian layak pakai #Universitas Diponegoro #leadership camp #tanoto foundation