Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Agung Nugroho, Kepala Sekolah Visioner yang Hidupkan Literasi Digital Lewat Perpustakaan Hibrida

Khafifah Arini Putri • Rabu, 27 Agustus 2025 | 05:05 WIB
Kepala SMPN 31 Semarang Agung Nugroho saat menjelaskan perpustakaan hibrida pada peserta didik.
Kepala SMPN 31 Semarang Agung Nugroho saat menjelaskan perpustakaan hibrida pada peserta didik.

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Pagi itu, sinar matahari menembus rimbun pepohonan di SMP Negeri 31 Semarang. Di bawahnya, seorang siswi duduk bersila di taman, matanya terpaku pada halaman buku yang ia baca.

Beberapa langkah dari situ, sekelompok siswa berkeliling kelas, ponsel di tangan, memindai barcode yang menempel di dinding. Tawa kecil terdengar saat mereka menemukan petunjuk baru, menjadikan setiap sudut sekolah seperti ruang belajar yang hidup.

Dari layar gawai mereka, muncul beragam bacaan, mulai dari puisi, cerita rakyat, hingga pengetahuan sains. Inilah wajah baru literasi di SMPN 31 Semarang, hasil inovasi yang lahir dari kemitraan dengan Tanoto Foundation.

Di balik suasana itu ada sosok Agung Nugroho, Kepala SMPN 31 Semarang ini sejak awal memimpin untuk membawa semangat perubahan. Baginya, literasi bukan lagi sekadar duduk di perpustakaan, tetapi bagaimana siswa bisa membaca kapan saja dan di mana saja.

Agung sapaan akrabnya menyampaikan sejak menjadi mitra dari Tanoto Foundation, sekolahnya banyak mendapat inspirasi dalam menghadirkan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan.

Salah satu terobosan yang kini menjadi ikon sekolah adalah Perpustakaan Hibrida. Diluncurkan sejak 2023, perpustakaan ini memadukan buku fisik dan digital.

"Sejak jadi mitra Tanoto Foundation, banyak ide yang telah kita adopsi. Terutama soal pembelajaran kreatif dan variatif. Dari situ lahirlah program Perpustakaan Hibrida," jelas Agung.

Menurutnya dengan Perpustakaan Hibrida menjadikan setiap sudut sekolah sebagai ruang baca. Siswa cukup memindai barcode yang ditempel di berbagai penjuru sekolah untuk mengakses ratusan judul buku.

Kini koleksi yang tersedia mencapai lebih dari 300 judul buku digital, mulai dari sastra, fiksi, biografi, hingga teknologi tepat guna. Koleksi tersebut dipadukan dengan karya guru dan siswa, termasuk antologi puisi.

"Anak-anak itu kan biasanya kalau literasi hanya membaca buku-buku fisik. Tapi dengan adanya Perpustakaan Hibrida, kini pilihan membaca lebih beragam. Di setiap sudut (sekolah) kami siapkan link barcode yang bisa diakses siswa. Jadi ada semacam program aplikasinya," ungkapnya.

Selain Perpustakaan Hibrida, kata Agung, SMPN 31 juga mengembangkan literasi multimodal. Program ini memungkinkan siswa belajar melalui lingkungan sekitar dengan bantuan barcode.

"Lingkungan pun bisa menjadi sumber literasi. Misalkan ada tanaman mangga, di situ ada barcode. Ketika discan, anak bisa belajar nama ilmiah, manfaat, hingga cara perkembangbiakan. Bahkan benda-benda seperti televisi juga kami beri barcode dengan deskripsi sejarah dan penemunya. Itu namanya literasi multimodal,” bebernya.

Untuk menghindari kejenuhan, siswa tidak hanya membaca. Mereka juga diminta membuat peta konsep dari bacaan dengan aplikasi Canva. Hasil karya mereka bahkan pernah dipamerkan di salah satu sekolah swasta di Kota Semarang, pada 2024 lalu.

"Kalau anak hanya disuruh membaca saja kan jenuh. Makanya kita manfaatkan kesenangan mereka memegang HP untuk membuat mind mapping, atau peta konsep. Itu sudah ada hasil karyanya anak-anak," imbuhnya.

Kemitraan dengan Tanoto Foundation ini juga membuka jalan bagi peningkatan numerasi siswa. SMPN 31 pernah menjuarai lomba Mathematics City Model atau Math City Map (MCM) tingkat Kota Semarang pada 2023–2024.

“Anak-anak itu kan diajarkan memanfaatkan lingkungan dengan pembelajaran matematika. Ke depan, kami ingin mengembangkan MCM tidak hanya untuk lomba, tetapi diterapkan bagi semua siswa,” akunya.

Selain itu, di bawah nahkodanya, SMPN 31 juga mencatat prestasi gemilang dengan meraih penghargaan Adiwiyata Mandiri pada 2024. Menurutnya penghargaan ini menjadi sebuah pencapaian tertinggi di atas tingkat nasional.

“Level Adiwiyata Mandiri itu level yang tertinggi di atas nasional, tapi di bawah internasional, dan di Kota Semarang, tingkat SMP baru SMP 31 yang mendapatkan level Adiwiyata Mandiri,” ujar Agung bangga.

Penghargaan itu diberikan langsung oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi di Jakarta pada Oktober 2024.

Agung menegaskan, manfaat utama dari kemitraan dengan Tanoto Foundation adalah peningkatan kapasitas guru dalam menciptakan pembelajaran yang bervariasi dan kreatif.

Baginya kemitraan ini membuktikan inovasi sekolah tidak hanya lahir dari fasilitas fisik, melainkan juga dari kolaborasi, pendampingan, dan ide-ide kreatif yang terus dikembangkan.

"Yang jelas bagi saya itu (sebagai sekolah mitra) Tanoto Foundation meningkatkan kreativitas dari Bapak Ibu guru terkait dengan proses pembelajaran. Selama ini kan pembelajaran kurang variasi. Dengan adanya kemitraan ini, pembelajaran di SMPN 31 khususnya lebih banyak memahami variasi pembelajaran dan referensi lain yang barangkali tidak didapatkan oleh sekolah yang bukan mitra," pungkasnya. (kap/web)

Editor : Agus AP
#Antologi Puisi #Buku Digital #Math City Map #web #SMP Negeri 31 Semarang #SMPN 31 Semarang #Agung Nugroho #tanoto foundation