Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Cireng Isi dan Beasiswa TELADAN Bekal Cintya Menemukan Arah Hidup

Khafifah Arini Putri • Rabu, 13 Agustus 2025 | 20:09 WIB
Cintya Monika Simanjuntak, Penerima Program Beasiswa TELADAN Tanoto Foundation
Cintya Monika Simanjuntak, Penerima Program Beasiswa TELADAN Tanoto Foundation

 

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Bagi sebagian mahasiswa, makanan hanya pelengkap rutinitas.

Tapi bagi Cintya Monika Simanjuntak, seporsi cireng isi yang gurih dan hangat bisa menjadi pelipur lara.

Terutama saat jadwal kuliah, organisasi, dan praktik bertabrakan dalam satu waktu. Tenaga dan pikirannya yang lelah serasa sirna ketika ia mulai merasakan cita rasa cireng isi.

Dikala sebagian orang memilih healing dan bermain atau mendengarkan musik saat stres melanda. Penyemangatnya justru mencari camilan.

"Yang bikin tambah semangat itu saya biasanya beli cireng isi, terus saya diam sendiri di kamar terus saya makan cireng isi, itu makanan favorit saya dari kecil," ujar Cintya sambil tertawa.

Ia tidak pernah menyangka, dari kebiasaan kecil itu, ia bisa bertahan melewati masa studi di Program Studi Akuakultur, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang hingga berhasil lulus Mei 2025 lalu.

Cintya bahkan mencatatkan rekor yang fantastis, menyandang predikat wisudawan terbaik dengan IPK hampir sempurna yakni 3,95.

Namun, prestasi akademik hanyalah satu bagian dari kisahnya. Di balik itu, Cintya menjadi mahasiswa penerima Beasiswa TELADAN dari Tanoto Foundation tahun 2022.

Program ini tak hanya memberikan sokongan secara finansial, tapi juga pendampingan pengembangan kepemimpinan jangka panjang.

Cintya berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai pegawai swasta. Sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga. Keduanya tak sempat mencicipi pendidikan tinggi.

Namun selalu mendukung Cintya dalam hal pendidikan. Sejak SMA, anak bungsu dari dua bersaudara ini sudah menunjukkan semangat tinggi mencari peluang kuliah melalui beasiswa. Bahkan, ruang bimbingan konseling (BK) di sekolah menjadi tempat favoritnya.

“Waktu saya kelas tiga SMA itu saya sering banget nongkrong di ruang BK untuk cari beasiswa di universitas yang saya inginkan," ungkapnya.

Bukan tanpa alasan, Cintya selalu tertantang untuk mendapatkan beasiswa saat kuliah, karena sang kakak juga melakukan hal yang sama. Motivasinya yang lain adalah meringankan beban orang tua.

"Jadi dari awal itu udah ambis beasiswa, udah aku planning kalau kuliah harus dapat beasiswa. Karena kakak saya juga beasiswa jadi saya tertantang," imbuhnya.

Awal masuk kuliah, Cintya pun mendapatkan angin segar. Ia diajak temannya dari Universitas Brawijaya untuk mendaftar Program Beasiswa TELADAN Tanoto Foundation.

Perempuan asal Karawang ini pun langsung mencari manfaat yang didapatkan dari beasiswa ini. Mulai dari baca berita hingga membaca kisah para alumni.

"Jadi aku ngelihat dari Beasiswa TELADAN Tanoto Foundation ini ternyata bisa nge-prospek aku untuk jadi future leaders, terus manfaat yang aku rasain di program pelatihan ini tentunya tentang dukungan pengembangan kepemimpinan banyak banget," ungkapnya.

Beasiswa TELADAN mengubah cara pandang hidup Cintya. Ia tak lagi melihat beasiswa sekadar sebagai sokongan finansial, tetapi sebagai gerbang menuju transformasi diri. Ia belajar mengenali dirinya secara mendalam.

Mulai dari pemahaman tentang potensi diri, kecerdasan emosional, hingga bagaimana memimpin dalam lingkup komunitas.

"Beasiswa ini ngajarin aku banget untuk tahu siapa diri aku sebenarnya, passion aku, dan arah masa depanku,” katanya.

Ia menjelaskan Beasiswa TELADAN Tanoto Foundation ini mempunyai program kepemimpinan yang berjenjang, mulai dari lead self, lead others, hingga professional preparation. Program ini pun memberinya ruang untuk mengeksplorasi diri.

Di level lead self, ia diajak untuk memetakan potensi dan arah hidup ke depan. Sedangkan di level lead others, Cintya menceritakan pengalamannya ketika terjun langsung ke masyarakat.

Ia dan timnya menggagas pemanfaatan limbah mangrove di Desa Tapak, Tugurejo, Kota Semarang.

Saat menjalankan proyek ini, pihaknya juga meminta bantuan dari Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Undip untuk memastikan teknik pengolahan limbah tepat. Hasilnya, kain ecoprint dengan berbagai motif bisa dijadikan sebagai merchandise atau seragam desa.

“Propagul mangrove yang jatuh terbuang sia-sia. Kami ajarkan ibu-ibu mengolahnya jadi pewarna alami batik ecoprint," akunya.

Sementara di level professional preparation ia diajarkan tentang financial literacy hingga jenjang karier ke depan.

Tak hanya aktif di Kampus, Cintya juga sering mengikuti lomba bertaraf nasional hingga internasional. Beragam prestasi pernah disabet oleh Alumni Undip ini. Diantaranya Cintya pernah meraih Gold Medal dalam Olimpiade Sains dan Kesehatan tahun 2024, Gold Medal dalam Pekan Olimpiade Sains Nasional tahun 2024, Bronze Medal dalam Indonesia Inventors Day (IID) tahun 2024, hingga Silver Medal dalam Malaysia Technology Expo tahun 2025.

“Rasa penasaran mendorong saya keluar dari zona nyaman. Saya enggak mau hanya ahli di akuakultur. Saya ingin tahu banyak hal, termasuk teknologi,” jelas Cintya.

Awalnya, Cintya berpikir dan membayangkan karirnya hanya di laboratorium untuk menguji mikrobiologi.

Namun, program kepemimpinan Tanoto Foundation pada pelatihan professional preparation membuka mata dan cara pandangnya.

Ia kini berkeinginan merambah profesi di bidang lain yang tetap selaras dengan latar belakangnya, namun juga mewadahi passion yang dimilikinya yakni public speaking.

“Saya sadar passion saya di public speaking bisa dikombinasikan dengan ilmu akuakultur. Sekarang, saya masih menunggu bergabung di perusahaan farmasi Jepang," bebernya.

Ia menargetkan diri untuk bisa berkarier sebagai medical representative, scientific communicator, atau bahkan konsultan edukasi lingkungan dan kesehatan.

Baginya, ilmu akuakultur tetap bisa terpakai dalam perspektif dan pendekatan terhadap ekosistem dan keberlanjutan.

"Dari pelatihan itu aku tahu ternyata ada pekerjaan seperti medical representative, konsultan mikrobiologi, bahkan penyuluh berbasis komunikasi ilmiah. Jadi Akuakultur nggak harus kerja di laboratorium," tegasnya.

Penerimaan Program Beasiswa TELADAN Tanoto Foundation 2026

Saat ini Tanoto Foundation kembali membuka pendaftaran Program Beasiswa TELADAN (Transformasi Edukasi untuk Melahirkan Pemimpin Masa Depan) untuk angkatan 2026. Program ini ditujukan bagi mahasiswa semester pertama jenjang Sarjana (S1) di sepuluh perguruan tinggi mitra.

Diantaranya Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Brawijaya (UB), Universitas Diponegoro (Undip), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Riau (Unri), Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Hasanuddin (Unhas), dan Universitas Mulawarman (Unmul).

Beasiswa ini menyasar mahasiswa berprestasi yang memiliki pengalaman organisasi dan potensi kepemimpinan.

Selain pembiayaan penuh untuk kuliah dan tunjangan biaya hidup bulanan, penerima beasiswa yang biasa disebut Tanoto Scholar juga mengikuti pelatihan kepemimpinan terstruktur selama 3,5 tahun, mulai dari semester 2 hingga semester 8.

Program Beasiswa TELADAN ini juga terbuka bagi mahasiswa penerima Kartu Indonesia Pintar-Kuliah (KIP-K) yang terdaftar di sepuluh perguruan tinggi mitra tersebut. Pendaftaran dibuka mulai 1 Juli hingga 7 September 2025 dan dapat diakses melalui situs resmi Tanoto Foundation di tautan bit.ly/JadiTELADAN2026. (kap)

Editor : Baskoro Septiadi
#Beasiswa Teladan #Universitas Diponegoro #Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan #tanoto foundation #Program Studi