RADARSEMARANG.ID - Danau merupakan salah satu fenomena alam dimana air menggenang ditengah daratan dalam jangka waktu tertentu secara alami.
Umumnya danau berbentuk melingkar seperti sebuah kubangan besar yang menampung banyak air didalamnya.
Namun ada salah satu danau yang terbentuk dari struktur kenampakan alam lainnya yaitu sungai.
Uniknya danau yang awalnya bagian dari aliran sungai ini berbentuk seperti sebuah ladam atau tapal kuda.
Fenomena ini biasa disebut sebagai Oxbow Lake atau Danau Tapal Kuda, fenomena danau unik ini terjadi secara alami pada aliran sungai.
Oxbow Lake banyak ditemukan pada daerah aliran sungai yang berusia lumayan tua, umumnya ditemukan pada daerah menuju muara sungai.
Pada proses pembentukannya, danau tapal kuda terbentuk daerah kelokan sungai atau meander yan mengalamai erosi dan sedimentasi.
Adanya proses erosi ini membuat kelokan sungai semakin melebar hingga seiring berjalannya waktu akan terbentuk sebuah sodetan alami.
Sodetan ini membuat meander sungai akan terpotong dan aliran berjalan lurus melewati aliran sodetan baru ini.
Sehingga aliran lama tidak akan dilewati aliran utama sungai, kemudian seiring berjalannya waktu terjadi sedimentasi pada aliran non aktif ini.
Lama kelamaan akan menumpuk hasil sedimentasi hingga menutup aliran lama ini terpisah dengan aliran sungai utama.
Akhirnya terbentuklah sebuah danau tapal kuda yang berdiri disisi sungai aktif.
Meskipun tak mendapatkan suplai air dari sungai utama, danau tapal kuda pada awal berdirinya akan mempertanahkan kondisi airnya.
Air tersebut bisa dari resapan sungai utama maupun air hujan yang tertampung pada danau unik ini.
Namun seiring berjalannya waktu, danau tapal kuda juga bisa mengering dan menjadi daratan biasa.
Tanah bekas Oxbow Lake ini biasanya banyak dimanfaatkan sebagai lahan pertanian karena termasuk tanah subur.
Danau tipe ini banyak sekali ditemukan disemua wilayah di dunia tak terkecuali di Indonesia.
Salah satunya adalah danau tapal kuda di daerah Sungai Pemali, Kabupaten Brebes dan Sungai Comal, Kabupaten Pemalang.
Editor : Baskoro Septiadi