RADARSEMARANG.ID, SEMARANG, Radar Semarang-Ujian praktek yang dilakukan oleh siswa kelas sembilan SMP Negeri 22 Semarang cukup unik.
Selain mengasah jiwa kewirausahaan, ujian praktek pembuatan tempe juga menguji para siswa dalam mata pelajaran IPA, IPS, Matematika, hingga Bahasa Indonesia.
Guru mapel IPA Muhammad Ridwan menjelaskan, terdapat 256 siswa menjalani ujian praktek pembuatan tempe.
Dari jumlah tersebut, mereka mengolah 64 kilogram kedelai menjadi tempe melalui proses fermentasi.
"Nah itu mereka akan belajar tentang IPA bagaimana mengobservasi proses menjadi tempe dengan bantuan mikroorganisme Rizhopus spp," ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (26/4).
Ia menambahkan, tempe sendiri merupakan hasil bioteknologi khas dari Indonesia.
Menggunakan bahan dasar kacang-kacangan, khususnya kacang kedelai, tempe memiliki kandungan protein yang sangat tinggi.
Di mapel IPA sendiri, kata Ridwan, terdapat pelajaran mengenai bioteknologi.
Tak hanya tempe, siswa juga membelajari cara membuat yogurt, oncom, tape, dan sebagainya.
“Kenapa memilih tempe? karena tempe ini merakyat, hampir semua orang suka, menjadi makanan sehari-hari,” tandasnya
Dipilihnya produk tempe sebagai objek utama ujian praktik, lanjut Ridwan, lantaran merupakan komoditas yang terjangkau.
Selain mencintai produk dalam negeri, tempe juga menjadi salah satu makanan terfavorit di Indonesia.
"Mereka juga akan belajar tentang kewirausahaan bagaimana mengubah sesuatu menjadi nilai lebih," tutur Ridwan.
Baca Juga: 30 Anak Muda di Salatiga Diberi Pelatihan Kewirausahaan
Selain itu, mereka juga akan belajar matematika setelah berhasil memproses kedelai menjadi tempe.
Yakni bagaimana merencanakan penjualan dengan mempertimbangkan modal, untung, dan rugi.
Disisi lain siswa juga akan belajar pelajaran IPS secara konkret dengan menjual produk tersebut sambil bersosialisasi dengan masyarakat.
"IPA untuk menilai proses dan hasilnya, kemudian menentukan harga jual dan pemasaran mapel IPS, perhitungan rugi dan laba yang nilai guru Matematika, dan sistematika pelaporan guru Bahasa Indonesia yang nentukan,” imbuh Ridwan.
Baca Juga: Meningkatkan Hasil Belajar IPS dengan Metode Bamboo Dancing
Dalam prakteknya, kata dia, siswa mesti belajar menjajakan hasil produksi tempe. Tak terkecuali harus menawarkan kepada para guru, orang tua, bahkan tetangga.
Selain menguji pengetahuan siswa tentang bioteknologi, praktek ini juga untuk mengajarkan peluang bisnis kecil-kecilan kepada siswa.
“Harapannya kita bisa membekali skill ke anak tentang bagaimana cara membuat tempe. Siapa tau di kemudian hari bisa menjadi ide bisnis,” pungkasnya.(mia)
Editor : Tasropi