RADARSEMARANG.ID, Semarang - Lulusan Kesehatan Masyarakat menjadi ujung tombak dalam meningkatkan kesehatan sampai ke tingkat terkecil, yakni keluarga.
Karena itulah Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) dibekali dengan digital health agar bisa momong masyarakat.
Dekan FKM Unimus Dr. Sayono mengatakan masih banyak permasalahan terkait dengan kesehatan masyarakat di Indonesia juga di dunia.
Salah satunya stunting masih menjadi permasalahan yang serius. Pemerintah pun bahu-membahu dalam menekan kasus ini dengan target zero stunting.
"Kita di hadapkan pada situasi yang kompleks. Disparitas situasi antara satu daerah dengan daerah lain itu besar sekali, belum lagi permasalahan stunting yang begitu besar, disaat pemerintah berusaha keras untuk zero stunting ini kan masih menjadi permasalahan yang cukup serius," ungkap Sayono di sela-sela Pelepasan Alumni dan Pengambilan Sumpah Tenaga Ahli Kesehatan Masyarakat di RSGM Unimus, kemarin.
Pihaknya berpesan pada 54 lulusan yang telah diambil sumpahnya untuk bisa momong masyarakat.
Yakni dengan intens berkomunikasi serta berinteraksi dengan warga secara langsung.
Mereka juga harus terjun langsung agar bisa memahami, mengendalikan, memimpin, serta memberdayakan masyarakat.
"Saya menyampaikan pada mereka bahwa SKM (Kesehatan Masyarakat) ini adalah pengendali dan pemomong masyarakat dibidang kesehatan masyarakat," imbuhnya.
Lebih lanjut Sayono menyebut dalam menghadapi era society 5.0 pihaknya telah membekali mahasiswa dari sisi keilmuan dan teknologi terkini. Tidak lagi dengan konvensional tapi mengikuti perkembangan zaman.
Seperti saat pandemi lalu teknologi monokuler terutama DCR menjadi standar diagnosis. Mahasiswanya telah mempelajari terlebih dahulu.
Sehingga tidak kaget ketika di lapangan. Dari sini lulusan FKM Unimus banyak yang terserap di dunia kerja.
"Maka salah satu bentuknya kami memberikan penguatan di digital health, bentuknya dari yang paling sederhana, kaitannya dengan pemetaan kesehatan dan infografis, " tambahnya.
Kata dia, pemetaan kesehatan dan infografis itu sekarang banyak dibutuhkan dalam tataran praktis.
Terlebih saat Pandemi Covid-19 lalu bentuk-bentuk tampilan teknologi terbaru membutuhkan kemampuan tersendri. Lebih dalam lagi pihaknya membekali menggunakan big data.
"Dari mimba raya data (beragam data) itu kami ajak mahasiswa untuk menelusuri dengan data mining supaya mereka bisa memanfaatkan big data ini untuk mengolah dan menghasilkan informasi kesehatan yang baik untuk pengambilan keputusan," tegasnya. (kap/web/bas)
Editor : Baskoro Septiadi