RADARSEMARANG.ID, Pandemi Covid-19 merupakan awal perubahan dalam segala aspek kehidupan, terutama pendidikan.
Dengan adanya pandemi Covid-19, pembelajaran harus dilaksanakan secara daring. Namun sebetulnya, jika diambil dari sisi positifnya ternyata ini justru mendekatkan peserta didik dengan orangtua atau keluarga.
Pandemi membukakan mata kita bahwa guru punya peran yang besar dalam proses belajar peserta didik. Sekaligus membuka mata hati bahwa orangtua juga punya peran yang tak kalah penting dalam pendidikan anak-anaknya di rumah.
Tanpa bimbingan guru dan orangtua, anak-anak cenderung bersikap egois dan individualis, sehingga rasa peduli, kebersamaan, saling membantu, dan kasih sayang di antara sesama masih kurang.
Dalam hal ini menjadi kewajiban kita sebagai pendidik dan orangtua untuk menanamkan pentingnya karakter gotong royong. Pentingnya karakter gotong-royong anak harus ditumbuhkan sejak dini.
Dengan karakter gotong-royong, peserta didik dapat belajar memaknai rasa dan sikap saling tolong-menolong, sukarela, saling membantu, peduli, kasih sayang dan memiliki sifat kekeluargaan.
Permainan tradisional merupakan media yang mudah untuk menumbuhkan karakter gotong-royong.
Berdasarkan permasalahan di atas, pendidik mengambil terobosan melaksanakan permainan tradisional gobag sodor untuk menumbuhkan karakter gotong-royong pada peserta didik.
Permainan tradisional gobag sodor merupakan salah satu kearifan lokal yang memiliki banyak manfaat. Selain dapat meningkatkan kebugaran jasmani peserta didik, gobag sodor juga dapat menumbuhkan karakter gotong-royong.
Hal ini sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara bahwa pembelajaran harus dilaksanakan sesuai dengan kodrat anak, yakni bermain.
Ki Hajar Dewantara dalam buku Tentang Frobel dan Metodenya menyebutkan bahwa bermain adalah kegiatan yang menimbulkan kegembiraan, memberikan kebebasan anak berfantasi, berimajinasi agar kreativitas anak terangsang.
Menurut Erikson (1963), bermain membantu anak mengembangkan rasa harga diri. Alasannya karena dengan bermain anak memperoleh kemampuan untuk menguasai tubuh mereka, menguasai, dan memahami benda-benda, serta belajar keterampilan sosial.
Anak bermain karena mereka berinteraksi guna belajar mengkreasikan pengetahuan. Bermain merupakan cara dan jalan anak berpikir dan menyelesaikan masalah.
Anak bermain karena mereka membutuhkan pengalaman langsung dalam interaksi sosial agar mereka memperoleh dasar kehidupan sosial.
Adapun sintaks yang dilakukan pendidik dalam permainan gobag sodor adalah peserta didik dibagi menjadi 2 kelompok.
Satu tim akan menjadi tim jaga dan tim lainnya menjadi tim serang. Peserta didik bermain dengan menggunakan lapangan yang berbentuk segi empat berpetak-petak. Setiap garis dijaga oleh pihak penjaga.
Pihak yang akan masuk harus melewati garis dan jika ada yang terkena sentuh penjaga, harus timnya bergantian menjaga penjaga.
Tim lawan dikatakan menang apabila salah satu anggota tim berhasil kembali ke garis start dengan selamat (tidak tersentuh tim lawan).
Tim dikatakan kalah jika salah satu anggotanya tersentuh oleh tim “jaga” atau keluar melewati garis batas lapangan yang telah ditentukan. Jika hal tersebut terjadi, maka akan dilakukan pergantian posisi.
Pembelajaran dengan metode permainan gobag sodor ini memberikan dampak signifikan terhadap tumbuhnya karakter gotong-royong antarpeserta didik.
Karena peserta didik dapat belajar dan bermain dengan rasa aman, nyaman, dan menyenangkan.
Selain itu, motivasi belajar peserta didik semakin meningkat, karena pembelajaran dilakukan sambil bermain.
Sehingga secara tidak langsung dapat menumbuhkan sikap peduli, saling membantu, terbangun rasa kasih sayang antarteman dan kebersamaan antarpeserta didik. (pf/lis)
Guru PJOK SDN Giyanti, Kec. Candimulyo, Kabupaten Magelang
Editor : Agus AP