Temannya, Marwan Dwi Farezi, terlihat senang memukul Demung. "Ini tidak sulit. Saya juga baru latihan gamelan," ujarnya. Hal senada disampaikan Ashifatuz Zahra Kustianti, 9, yang menyanyikan tembang Suwe Ora Jamu dengan merdu. "Saya belajar nyekar ini dari kelas 2, lebih susah," kata siswi yang pernah tampil di Jambore Nasional Waduk Jatibarang.
Kepala SD Negeri Kandri 02, Suwartini mengungkapkan, pihaknya memberikan ekstrakurikuler karawitan sejak tahun 2017. Latihan ini diadakan setiap hari Rabu dari kelas 1 hingga kelas 6. “Sempat vakum selama dua tahun karena pandemi Covid-19. Baru tahun ini kami mulai lagi,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (31/8).
Ekstrakurikuler karawitan ini, katanya, dalam upaya melestarikan budaya yang dimiliki oleh warga Talunkacang, Kandri. Apalagi di sini juga banyak seni yang harus dilestarikan. Tentunya kami mengundang pelatih dari seniman Kota Semarang sampai Provinsi Jateng," katanya.
Pesertanya disiapkan dari kelas 1 hingga kelas 6. Sehingga kecintaan terhadap seni tidak akan putus di tiap generasi. "Kalau lulus, kami harapkan semua bisa mahir karawitan," tuturnya.
Diakuinya, ada Grebeg Gua Kreo dari provinsi maupun kota sehingga pihaknya harus siap tampil di acara tahunan itu. "Anak-anak kami selalu tampil, baik gamelan, tarian, ataupun seni lainnya," katanya.
Pelatih Karawitan, Wisnu Aji Wicaksono, 25, menambahkan pada usia SD siswanya banyak dan memiliki berbagai macam karakter. "Kendalanya mereka masih bermain-main sendiri," kata warga Kalisegoro. (fgr/ida) Editor : Agus AP