Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Kisah Para Penjaga Cagar Budaya, Blusukan Berburu Candi Sering Dianggap Cari Nomor Togel

Agus AP • Minggu, 11 Juni 2023 | 17:48 WIB
Komunitas Dewa Siwa saat blusukan mencari benda-benda peninggalan sejarah di Kabupaten Semarang.  (Istimewa)
Komunitas Dewa Siwa saat blusukan mencari benda-benda peninggalan sejarah di Kabupaten Semarang.  (Istimewa)
RADARSEMARANG.ID - Jawa Tengah memiliki berbagai benda peninggalan bersejarah. Sayang, tidak semua diketahui dan terselamatkan. Akhirnya, muncul komunitas-komunitas yang bertekad mengedukasi masyarakat untuk melestarikan berbagai benda bersejarah.

Salah satunya adalah Komunitas Pecinta Situs dan Watu Candi (Dewa Siwa). Beranggotakan 20 orang yang suka blusukan mencari dan melestarikan benda peninggalan sejarah khususnya di Kabupaten Semarang. Bahkan, karena aktivitas nyeleneh tersebut, mereka kerap dianggap mencari nomor togel saat blusukan ke candi.

Ada kepuasan ketika bisa menelusuri kembali keberadaan situs purbakala di Kabupaten Semarang. Ketika akan berangkat komunitas ini hanya berbekal buku peninggalan jaman Belanda dan informasi katanya-katanya yang belum tentu benar. Meski begitu, semangat mereka tak pernah padam.

"Kami bukan siapa-siapa tidak bisa mempertahankan atau bagian dari pemerintah yang bisa mengambil keputusan kepada benda-benda ini. Jadi kami blusukan hanya untuk kepuasan saja," aku salah satu anggota Dewa Siwa, Bambang Murdianto, 41,  kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Berbekal hobi yang sama, komunitas ini kerap blusukan ke candi-candi. Mulai dari situs kecil hingga candi besar seperti Candi Gedong Songo. Menemukan informasi baru tentang benda yang ditemukan diselingi perdebatan kecil menjadi hal yang biasa. Bahkan komunitas ini sering disebut pemuda pencari nomor togel.

“Memang 50 persen situs yang kami temukan sudah beralih fungsi sebagai hal mistis. Jadi kerap dianggap mencari nomor togel,” ujarnya.

Mereka mengaku miris ketika menemukan arca atau yogi diberikan dupa di atasnya. Selain itu banyak yang sudah rusak. Bahkan cerita berkembang lokasi-lokasi yang ditemukan benda peninggalan sejarah dipercaya mendatangkan ilmu dari makhluk alam lain.

“Ada juga benda peninggalan sejarah yang rusak akibat perilaku manusia yang percaya batu tersebut bisa mendatangkan ilmu hitam,” akunya.

Ia bersama rekan-rekannya pernah menjelajahi wilayah Bergas. Di Bergas Lor arah belakang Kantor BPJamsostek yang memang ada patung ganesha. Setelah ditelusuri, ditemukan patung ganesha lebih dari lima, ada banyak watu lumpang, dan ada situs kalitaman. Artinya, dulu lokasi tersebut merupakan tempat pembelajaran karena ganesha identik dengan pendidikan.

"Ketika kami pastikan ini situs atau batu peninggalan sejarah kami bikinin tulisan. Kami tancapkan di lokasi. Ada warga yang akhirnya peduli dengan beda-beda tersebut dan kemudian dirawat," tambahnya.

Komunitas Dewa Siwa berharap Pemkab Semarang lebih peduli dengan peninggalan bersejarah. Pihaknya hanya bisa memberikan edukasi kepada masyarakat tentunya masih kurang jika dari pemerintah daerah tak ikut andil. Ia berharap ada area khusus seperti museum untuk menampung benda-benda peninggalan sejarah tersebut.

“Kami berharap pemerintah daerah bisa lebih peduli apalagi undang-undang cagar budaya sudah ada. Itu warisan berharga dan harus dijaga dan dilestarikan bersama,” ujarnya.



Photo
Photo
Sumantoro,  merupakan salah satu teknisi Konservasi Candi Ngawen. (ROFIK SYARIF/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Cagar Budaya Butuh Perawatan Khusus

Sumantoro, 45, merupakan salah satu teknisi Konservasi Candi Ngawen. Ia mengatakan, peran penjaga cagar budaya sangatlah penting. Terutama dalam menjaga cagar budaya tersebut, agar selalu terawat dengan baik dan juga dalam upaya pelestariannya.

Untuk melestarikan cagar budaya, negara bertanggung jawab dalam pengaturan perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan cagar budaya. Cagar budaya berupa benda, bangunan, struktur, situs, dan kawasan perlu dikelola oleh pemerintah dan pemerintah daerah dengan meningkatkan peran serta masyarakat untuk melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkan cagar budaya.

Dalam menjaga dan melindungi situs cagar budaya tidaklah mudah. Perlu pemahaman dan pengalaman soal situs atau peninggalan tersebut. “Seperti dalam menjaga konservasi batuan pada Candi Ngawen ini,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Magelang.

Sumantoro menyampaikan, dirinya sudah menekuni dan terjun dalam konservasi cagar budaya sejak 1997 hingga sekarang. Untuk tugas pertama dirinya ditempatkan di Candi Mendut, hingga 2012. Kemudian, dari 2012 hingga sekarang ditugaskan di Candi Ngawen. “Saya awal mula terjun dalam konservasi ini langsung bergabung dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) wilayah 10,” ujarnya.

Ia mengaku, alasan tertarik terjun ke dunia konservasi karena ingin membantu nguri-nguri atau menjaga warisan nenek moyang. Jujur ia senang bisa ikut serta dalam melestarikan cagar budaya, terutama candi-candi ini sebagai peninggalan nenek moyang. “Pastinya ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya,” ucapnya.

Selama bergabung menjadi bagian tim konservasi di BPK, ia pernah ikut serta dalam membantu mengamankan dan menyelamatkan batu-batuan candi di wilayah Kabupaten Magelang. Seperti, menyelamatkan nandi dan yoni. “Yang paling banyak ditemukan di Kabupaten Magelang ini yoni,” ungkapnya.

Salah satu kerja utama perawatan ini adalah membersihkan dan merawat batuan candi. Seperti jika ada lumut, pihaknya harus rutin membersihkannya. Penyakit batu cukup banyak, ada ligen, algi, dan beberapa penyakit lainnya yang disebabkan oleh kondisi cuaca. “Jadi bebatuan candi harus terus dijaga, dibersihkan agar tidak rusak,” akunya.



Photo
Photo
Jelajah Jawa Kuna terus mengedukasi dan melestarikan benda bersejarah. (Istimewa)

Bertekad Selamatkan Benda Bersejarah

Jelajah Jawa Kuna lahir dari kegelisahan sejumlah anak muda untuk sharing atau berbagi, membahas benda-benda purbakala dan sejarah tahun 2017. Dari situ, komunitas ini lantas bertekad lebih menyelamatkan benda-benda purbakala.

Mereka memiliki hobi satu tujuan, yakni ingin mengetahui benda purbakala. Ada 10 orang yang tergabung di Jelajah Jawa Kuna. Salah satu yang dituakan Tri Subekso merupakan arkeolog sekaligus bekerja di Disdikbudpora Kabupaten Semarang sekaligus Ketua TACB atau Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Semarang.

"Jadi misal ada warga kok menemukan benda purbakala patung peruntukan, kami tanya sudah didata BPCB belum, kalau belum dilaporkan BPCB," kata Perwakilan Jelajah Jawa Kuna, Fajar Zafantani.

Fajar – sapaannya akrabnya - mengaku selalu penasaran asal usul daerahnya di Jalan Subali Krapyak, Semarang Barat. Komunitas ini terus mengedukasi orang sekitar, anak-anak sekolah dan lainnya. Seperti ketika sharing tentang Candi Gedong Songo. Selain itu, juga menyelamatkan benda-benda purbakala. Seperti penemuan prasasti di Promasan, Kabupaten Semarang yang berbatasan dengan Kabupaten Kendal, tepatnya di Puncak Medini.

Ia bersama mahasiswa UI menemukan prasasti dan sendang di Promasan yang sekarang beralih fungsi menjadi pemandian umum. Dikatakan, biasanya reruntuhan candi terdapat pondasi. Ketika diidentifikasi sezaman dengan Borobudur atau Prambanan. “Setelah itu dilaporkan ke BPCB atau Balai Cagar Budaya. Lalu didatangi pemerintah dan didata,"  ujarnya.

Komunitas ini juga turun ketika menemukan lingga dan yoni sebagai perwujudan Dewa Siwa dan Dewi Parwati di Duduhan, Wonolopo, Mijen. Bentuknya seperti alat vital lelaki. Di daerah Purworejo, tepatnya Lowanu ditemukan arca mahakala periode abad 9-10. Ia berharap kalau ada penemuan purbakala, seharusnya dilestarikan.

"Jika ada yang menemukan warga harus melapor, agar pemerintah bisa melestarikan. Sehingga dapat dinikmati anak cucu kita. Karena yang saya takutkan kalau dijual ke kolektor dan akhirnya benda bersejarah itu hilang dari peradaban," tambahnya. (ria/rfk/fgr/fth) Editor : Agus AP
#top #CANDI #CAGAR BUDAYA #Sejarah #Benda Cagar Budaya