RADARSEMARANG.ID, Semarang - Konflik rumah tangga antara Atalarik Syah dan Tsania Marwa, kembali menjadi perhatian publik setelah rumah Atalarik Syah di kawasan Cibinong, Bogor, dibongkar paksa oleh Pengadilan Negeri Cibinong akibat sengketa kepemilikan lahan.
Netizen pun ramai menyebut kejadian ini sebagai "karma" atas perlakuan Atalarik terhadap Tsania Marwa, selama dan setelah perceraian mereka.
Perjalanan kisah rumah tangga keduanya menyimpan banyak drama, terutama soal hak asuh anak yang masih memicu simpati publik hingga saat ini.
Atalarik Syah dan Tsania Marwa, pertama kali bertemu saat terlibat dalam satu proyek sinetron.
Keduanya menjalin hubungan dan akhirnya menikah pada tahun 2012.
Pasangan ini sempat terlihat harmonis di awal pernikahan, serta dikaruniai dua orang anak, yaitu Syarif dan Shabira.
Namun, pada (14/3/2017), Tsania secara mengejutkan mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama Cibinong.
Ia tidak menjelaskan secara rinci alasan perceraian.
Namun, dirinya menyebut adanya ketidakcocokan yang sudah tidak bisa diselesaikan.
Perceraian mereka diputuskan pada Agustus 2017, menandai akhir dari tahun pernikahan.
Setelah resmi bercerai, polemik tidak berhenti.
Perselisihan soal hak asuh anak menjadi babak paling rumit dalam kisah mereka.
Awalnya, kedua pihak disebut sepakat untuk berbagi waktu asuh, tetapi dalam prakteknya, Tsania merasa kesulitan untuk bertemu dengan anak-anaknya yang tinggal bersama Atalarik.
Pada 2021, Pengadilan Agama Cibinong memutuskan bahwa hak asuh kedua anak jatuh kepada Tsania Marwa.
Namun, Atalarik tidak serta merta menyerahkan anak-anak tersebut.
Tsania bahkan mengaku sempat diusir secara tidak pantas saat berusaha menjemput anak-anaknya dari rumah mantan suaminya.
Hal itu terlihat dalam sebuah insiden yang sempat terekam kamera dan viral di media sosial.
"Selama 7 tahun saya berjuang secara hukum dan emosional sebagai ibu. Tapi anak-anak saya tetap tak kembali ke saya. Bahkan saat memegang hak asuh pun, saya masih berjuang," ungkapnya.
Tsania mengaku sempat frustasi karena merasa kehilangan waktu tumbuh kembang anak-anaknya.
Dalam beberapa kesempatan, ia menyuarakan rasa sakit hatinya karena tidak bisa menjalankan peran sebagai ibu secara utuh, meskipun secara hukum memiliki hak.
"Saya berjuang bukan hanya untuk saya, tapi juga anak-anak saya. Saya ingin mereka tahu bahwa ibunya tidak pernah menyerah memperjuangkan mereka," ujar Tsania.
Kisah ini memantik simpati luas dari publik.
Banyak netizen memuji keteguhan Tsania dan menyayangkan sikap Atalarik yang dinilai tidak kooperatif terhadap keputusan hukum.
Pada Mei 2025, rumah Atalarik Syah resmi dieksekusi oleh pengadilan karena kalah dalam sengketa kepemilikan tanah.
Proses pembongkaran dilakukan paksa, dan viral di media sosial.
Pada video yang beredar, terlihat bagian atap rumah dibongkar menggunakan alat berat.
Sementara Atalarik terlihat mencoba menghentikan proses tersebut.
"Saya tidak pernah merasa sebagai pihak yang berbuat salah. Tapi saya tidak diberi ruang untuk menyelesaikan dengan baik. Sekarang rumah saya dihancurkan tanpa pemberitahuan yang layak," ucapnya.
Namun, alih-alih simpati, netizen justru menyebut ini sebagai balasan atau karma atas perlakuan Atalarik kepada Tsania.
Beberapa komentar muncul seperti, "Dulu Tsania diusir dari rumah sambil menangis. Sekarang lihat, rumahnya sendiri dirobohkan."
Ada pula yang menuliskan harapan, "Semoga ini jadi pelajaran untuk semua orang yang menahan anak dari ibunya."
Bagi sebagian netizen, kejadian yang menimpa Atalarik dianggap sebagai balasan atas masa lalunya.
Namun, bagi yang lain, ini adalah pengingat bahwa keadilan, cepat atau lambat akan menemukan jalannya.
Editor : Baskoro Septiadi