RADARSEMARANG.ID, Semarang – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Semarang mengembangkan peternakan ayam petelur sebagai bagian dari program ketahanan pangan sekaligus pembinaan kemandirian warga binaan pemasyarakatan (WBP) alias narapidana (napi).
Kegiatan tersebut terintegrasi dalam proyek greenhouse yang juga mencakup sektor pertanian hortikultura.
Kepala Lapas Semarang Ahmad Tohari mengatakan, saat ini peternakan ayam petelur yang dikelola WBP masih menjadi salah satu penopang kebutuhan pangan internal lapas. Jumlah ayam petelur yang aktif dipelihara tercatat sekitar 213 ekor.
“Di greenhouse kami ada peternakan ayam petelur. Saat ini sekitar 213 ekor. Beberapa memang mati, tapi kegiatan peternakan tetap berjalan,” ujarnya.
Ia menyatakan peternakan ayam tersebut menggunakan sistem KUB, yakni sistem kandang modern dengan jalur pembuangan khusus yang tidak mengganggu area pertanian di sekitarnya. Sistem ini dinilai mendukung efisiensi produksi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan dalam kawasan lapas.
Dari sisi ketahanan pangan, hasil peternakan ayam petelur dan pertanian saat ini difokuskan untuk memenuhi kebutuhan dapur Lapas.
Hal tersebut sejalan dengan kebijakan perencanaan bahan makanan, di mana sebagian kebutuhan dapur wajib menyerap hasil ketahanan pangan dari lapas atau rutan setempat.
“Hasilnya masuk ke dapur lapas. Dalam perjanjian perencanaan bahan makanan memang ada kewajiban menyerap sekitar 5 persen dari ketahanan pangan lapas,” jelasnya.
Namun demikian, dengan jumlah WBP yang mencapai sekitar 1.500 orang, produksi telur dan hasil pertanian tersebut masih belum mampu mencukupi seluruh kebutuhan. Akibatnya, hasil produksi belum dipasarkan ke luar dan hanya dimanfaatkan secara internal.
“Ke dalam saja masih kurang. Jadi saat ini belum ada yang dipasarkan keluar,” pungkas Kepala Lapas Semarang
Seluruh kegiatan tersebut dikelola oleh WBP dalam kerangka pembinaan kemandirian, yang bertujuan membekali keterampilan praktis di bidang pertanian dan peternakan.
Untuk kegiatan greenhouse, sekitar tujuh WBP terlibat langsung, sementara di lahan pertanian luar terdapat lima hingga enam WBP.
“Ini pembinaan kemandirian. Harapannya ketika mereka bebas, sudah punya skill sehingga bisa berusaha dan mandiri secara ekonomi,” tegas Ahmad Tohari.
Sementara itu, salah satu WBP, Reza Akbar Zuta yang menjadi koordinator greenhouse mengaku kegiatan pertanian dan peternakan yang diikutinya memberikan bekal nyata untuk kehidupan setelah bebas.
Menurutnya, pembinaan tersebut membuka wawasan usaha pertanian dan peternakan bisa dilakukan dalam skala kecil dan diterapkan secara mandiri di masyarakat.
“Sebagai warga binaan, kami kan butuh pembinaan. Ketika nanti keluar, mau punya kegiatan apa. Dari sini kami belajar dan itu bisa diimplementasikan di luar,” ujar Reza saat ditemui di area kegiatan.
Ia menjelaskan, keterampilan yang diperoleh tidak harus diterapkan dalam skala besar. Bahkan, peternakan ayam petelur bisa dijalankan sebagai usaha rumahan dengan jumlah terbatas.
“Sekarang ayam petelur itu sudah jadi industri juga. Tapi tiap keluarga itu tidak harus banyak. Cukup enam atau tujuh ekor saja bisa untuk bisnis rumahan,” katanya.
Selain peternakan ayam, Reza juga mengikuti pembinaan perikanan lele dengan metode bioflok, serta pertanian sayur dan hortikultura. Ia menilai semua kegiatan tersebut relatif mudah dijalani selama ada kemauan untuk belajar.
“Menurut saya tidak ada yang rumit, baik lele, ayam, atau pertanian. Selama kita mau belajar, itu saja kuncinya,” ucapnya.
Menariknya, Reza mengaku tidak memiliki latar belakang pertanian sama sekali. Sebelum menjalani masa pidana, pria asal Jepara yang sempat tinggal di Demak itu berprofesi sebagai guru komputer.
“Saya ini nol untuk pertanian. Basic saya komputer, dulu guru komputer. Tapi di sini saya ingin belajar, daripada di blok tidak ada kegiatan, lebih baik ikut pertanian,” tuturnya.
Dari kegiatan tersebut, Reza dan WBP lainnya juga mendapatkan premi hasil kerja. Setiap bulan, ia mengaku menerima sekitar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu dari hasil panen yang dikelola melalui Bimbingan Kerja (Bimker) Kelas I Semarang.
“Sebagian saya tabung. Jadi nanti ketika keluar bisa jadi sangu atau bekal awal,” kata napi 34 tahun tersebut. (ifa)
Editor : Baskoro Septiadi