RADARSEMARANG.ID, Nama Greta Thunberg kembali menjadi sorotan dunia setelah keterlibatannya dalam misi kemanusiaan Freedom Flotilla Coalition (FFC) untuk mengirimkan bantuan ke Gaza dan menentang blokade laut Israel yang telah berlangsung selama 18 tahun.
Aktivis lingkungan asal Swedia ini, yang dikenal sebagai pelopor gerakan iklim global, kini memperluas fokusnya ke isu kemanusiaan dan geopolitik, khususnya konflik Israel-Palestina.
Siapa Greta Thunberg?
Greta Thunberg, lahir pada 3 Januari 2003 di Stockholm, Swedia, adalah aktivis lingkungan yang mendunia berkat aksi "School Strike for Climate" pada 2018.
Di usia 15 tahun, ia memulai protes solonya di depan Parlemen Swedia dengan membawa papan bertuliskan "Skolstrejk för klimatet" (Mogok Sekolah untuk Iklim), menyerukan tindakan nyata terhadap krisis iklim.
Aksi ini memicu gerakan global Fridays for Future, menginspirasi jutaan anak muda di seluruh dunia untuk menuntut kebijakan lingkungan yang lebih tegas.
Greta, yang didiagnosis dengan sindrom Asperger, OCD, dan mutisme selektif, sering menyebut kondisinya sebagai "kekuatan super" yang membantunya fokus pada isu-isu penting. Selain aktivisme iklim, ia juga vokal dalam isu sosial seperti hak asasi manusia, konflik di Palestina, Ukraina, dan Sahara Barat.
Keterlibatannya dalam Freedom Flotilla menjadi salah satu langkah terbaru yang menunjukkan komitmennya terhadap keadilan global.
Freedom Flotilla: Misi Kemanusiaan ke Gaza
Pada 1 Juni 2025, Greta Thunberg bergabung dengan 11 aktivis lainnya, termasuk anggota Parlemen Eropa asal Prancis Rima Hassan, dokter Mohammad Mustafa, dan aktor Liam Cunningham, dalam misi Freedom Flotilla di atas kapal MV Madleen.
Kapal berbendera Inggris ini berlayar dari pelabuhan Catania, Italia, menuju Gaza melalui rute Yunani, Siprus, dan Turki.
Misi ini bertujuan mengirimkan bantuan kemanusiaan simbolis, seperti susu formula bayi, beras, tepung, popok, dan peralatan medis, serta memprotes blokade laut Israel yang dianggap melanggar hukum internasional oleh FFC.
Freedom Flotilla Coalition, organisasi di balik misi ini, didirikan pada 2010 untuk menentang blokade Israel terhadap Gaza yang dimulai pada 2007.
Kapal Madleen, yang berlayar di perairan internasional, dilengkapi pelacak GPS untuk mempublikasikan posisinya secara terbuka.
Namun, pada 9 Juni 2025, kapal ini dicegat oleh komando angkatan laut Israel sekitar 185 km dari pantai Gaza, di perairan internasional.
Penyitaan Kapal dan Penahanan Aktivis
Pada dini hari tanggal 9 Juni 2025, pasukan Israel menaiki kapal Madleen dan menahan 12 aktivis di atasnya, termasuk Greta Thunberg.
Menurut laporan berita internasional, kapal tersebut dialihkan ke pelabuhan Ashdod, Israel, dan para aktivis ditahan untuk pemeriksaan medis serta proses deportasi.
Kementerian Luar Negeri Israel menyebut misi ini sebagai "provokasi media" untuk mencari publisitas, menegaskan bahwa blokade laut Gaza sesuai dengan hukum internasional untuk mencegah masuknya senjata ke wilayah tersebut.
Mereka juga meremehkan kapal tersebut sebagai "yacht selfie" dan menyatakan bahwa bantuan yang dibawa akan disalurkan melalui saluran kemanusiaan resmi.
FFC, sebaliknya, mengecam tindakan Israel sebagai "penculikan" dan pelanggaran hukum internasional, dengan menyatakan bahwa penyitaan kapal di perairan internasional adalah tindakan ilegal.
Dalam video pra-rekaman yang dirilis FFC, Greta Thunberg menyatakan, "Jika Anda melihat video ini, kami telah dihadang dan diculik di perairan internasional oleh pasukan Israel."
Organisasi hak asasi manusia Adalah, yang mewakili para aktivis, mengkonfirmasi bahwa mereka akhirnya diizinkan bertemu klien mereka setelah 24 jam, dan beberapa aktivis, termasuk Greta, telah dideportasi pada 10 Juni 2025, dengan penerbangan kembali ke Swedia melalui Prancis.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, memerintahkan para aktivis untuk ditunjukkan rekaman serangan 7 Oktober sebagai bagian dari penahanan mereka, sebuah langkah yang menuai kritik dari FFC dan pendukung aktivis.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Swedia menyatakan sedang berkoordinasi dengan otoritas Israel untuk memastikan keselamatan Greta dan warga Swedia lainnya.
Kontroversi dan Reaksi Publik
Keterlibatan Greta Thunberg dalam Freedom Flotilla memicu beragam reaksi.
Di media sosial, terutama di platform X, beberapa pengguna memuji keberaniannya dalam mendukung isu kemanusiaan, sementara yang lain mengkritiknya karena dianggap beralih dari aktivisme iklim ke isu politik yang kontroversial.
Senator AS Lindsey Graham, misalnya, secara sarkastik menulis di X, "Semoga Greta dan teman-temannya bisa berenang!"—yang dibalas Greta dalam wawancara dengan Democracy Now, "Kami bisa berenang dengan sangat baik."
Kritik lain menyatakan bahwa fokusnya pada isu Palestina mengalihkan perhatian dari kepemimpinannya dalam gerakan iklim.
Namun, Greta menegaskan bahwa isu iklim dan kemanusiaan saling terkait.
Dalam konferensi pers sebelum berlayar, ia menyatakan, "Diam lebih berbahaya daripada berlayar ke Gaza. Kami harus terus berusaha, apa pun risikonya."
Misi ini juga mendapat dukungan dari tokoh seperti Francesca Albanese, Pelapor Khusus PBB untuk Palestina, yang menyerukan intervensi Inggris karena kapal berbendera Inggris dicegat.
Sejarah Freedom Flotilla dan Tantangan di Masa Lalu
Freedom Flotilla bukanlah yang pertama kali menghadapi intervensi Israel.
Pada 2010, insiden Mavi Marmara menjadi sorotan internasional ketika pasukan Israel menyerbu kapal FFC, menyebabkan kematian 10 aktivis.
Bulan lalu, kapal lain dari FFC dilaporkan diserang drone Israel di perairan internasional dekat Malta, meskipun Israel membantah tuduhan tersebut.
Sejak 2008, FFC telah mencoba beberapa kali untuk menembus blokade Gaza, dengan keberhasilan terbatas.
Misi terbaru ini, yang melibatkan Greta Thunberg, menarik perhatian global karena profilnya sebagai aktivis terkenal.
Namun, seperti misi sebelumnya, kapal Madleen gagal mencapai Gaza, dan bantuan yang dibawa disita oleh otoritas Israel.
Keterlibatan Greta Thunberg dalam Freedom Flotilla menegaskan pergeseran fokusnya dari aktivisme iklim ke isu kemanusiaan yang lebih luas, khususnya konflik di Gaza.
Meskipun misi ini berakhir dengan penyitaan kapal dan penahanan, aksi ini berhasil menarik perhatian dunia terhadap blokade Israel dan krisis kemanusiaan di Gaza.
Dengan deportasi Greta dan aktivis lainnya pada 10 Juni 2025, perhatian kini beralih ke langkah berikutnya dari FFC dan bagaimana Greta akan melanjutkan advokasinya.
Untuk pembaruan lebih lanjut tentang Greta Thunberg dan Freedom Flotilla, pantau berita dari sumber terpercaya atau lacak pernyataan resmi dari FFC di situs web mereka.(tas)
Editor : Tasropi