RADARSEMARANG.ID - Dalam dunia sains, tentunya kita mengenal bahwa bumi sebagai planet yang hanya memiliki satu satelit alami bernama bulan.
Bulan menjadi satelit permanen berukuran seperempat bumi dan memiliki tugas untuk mengelilingi bumi pada orbit yang stabil, dalam jangka waktu pendek.
Bulan adalah satelit alami Bumi satu-satunya dan merupakan satelit terbesar kelima dalam Tata Surya. Dengan diameter 27%, kepadatan 60%, dan massa ¹⁄₈₁ dari Bumi. Di antara satelit alami lainnya, Bulan merupakan satelit terpadat kedua setelah Lo, satelit Jupiter.
Meskipun Bulan tampak sangat putih dan terang, permukaan Bulan sebenarnya gelap, dengan tingkat kecerahan yang sedikit lebih tinggi dari aspal cair.
Sejak zaman dahulu, posisinya yang menonjol di langit dan fasenya yang teratur telah memengaruhi banyak budaya, termasuk bahasa, penanggalan, seni, dan mitologi.
Namun, baru-baru ini sebuah fenomena terkait satelit lain milik bumi dikabarkan ramai di sosial media. Kabar ini sontar terdengar bahwa akan adanya 'bulan' kedua yang turut mengitari bumi nantinya.
Yang perlu digarisbawahi adalah bulan kedua ini memiliki ukuran yang jauh lebih kecil dari bulan aslinya, dan akan bersifat sementara saja tidak untuk permanen.
Satelit bumi sementara ini diidentifikasikan sebagai benda langit (asteroid) berukuran kecil dengan nama 2024 PT5 yang terperangkap oleh gravitasi planet kita.
Asteroid 2024 PT5 pertama kali ditemukan pada 7 Agustus 2024 oleh Asteroid Terrestrial-Impact Last Alert System ( ATLAS ) dengan ukuran sekitar 33 kaki (10 meter) diameternya,
Bulan mini ini merupakan bagian dari kelompok benda angkasa Arjuna , kumpulan objek dekat Bumi dengan orbit yang mirip dengan Bumi. Kecepatannya yang relatif rendah dan kedekatan jaraknya akan memungkinkan planet kita untuk sementara menariknya ke orbitnya.
Bulan mini ini akan bertahan selama hampir dua bulan ( 25 November 2024) mengikuti rotasi di jalur bumi sebelum melanjutkan perjalanannya melalui luar angkasa.
Mengenai jangka waktunya yang hanya sebentar, para ilmuwan diharapkan mampu mengoptimalkan penelitian terkait hubungan gravitasi Bumi dengan lintasan asteroid kecil.
Meskipun banyak ketertarikan masyarakat terkait keberadaan fenomena bulan mini ini, namun sayangnya Asteroid 2024 PT5 terlalu redup dan kecil untuk dilihat dengan teleskop rumahan, tentunya nihil presentasenya juga untuk dapat dilihat dengan mata telanjang manusia.
Peristiwa bulan kedua ini bukan kali pertama yang pernah terjadi di bumi. Dalam penelitian di atas, tercatat hal ini pernah terjadi sebanyak dua kali, yakni pada tahun 1981 dan 2022.
Fenomena bulan kedua 2024 PT5 ini diketahui tidak memiliki dampak berbahaya bagi bumi kita, sebab meskipun posisinya terlempar kedalam gravitasi bumi namun asteroid ini bergerak dengan kecepatan yang relatif lamban.
Fenomena ini dapat dikatakan mengancam apabila dimensi asteroid yang mendekati bumi memiliki dimensi cukup besar (minimal 30 meter) ia bergerak dengan kecepatan yang tinggi, maka dikhawatirkan akan berpotensi menumbuk permukaan bumi dan menyebabkan kerusakan.
Kasus tumbukan benda langit yang paling besar merupakan catatan yang pernah terjadi 30 tahun silam di planet Jupiter antara komet Shoemaker Levi-9 (yang telah terpecah belah ke dalam 21 keping) menubruk permukaan Jupiter menyebabkan energi yang cukup besar keluar akibat tubrukan ini.
Source: OIF UMSU, NU.id, Google Arts And Culture
Editor : Baskoro Septiadi