RADARSEMARANG.ID, Batang – Suara peluit melengking memecah keheningan, disusul gerakan serempak penari yang mengenakan kacamata hitam dan kaos kaki selutut.
Bukan sekadar gaya, atribut unik tersebut adalah identitas Tari Babalu, kesenian asli Kabupaten Batang yang sarat akan nilai heroisme.
Tarian yang konon sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda ini menjadi simbol perlawanan rakyat Batang.
Meski sempat timbul tenggelam, Tari Babalu kini kembali eksis berkat tangan dingin para pegiat seni lokal, salah satunya Tatik Setianingsih, pemilik Sanggar Merti Desa.
Baca Juga: KMJ Saikel Klub Pekalongan, Gowes Pelan, Jajan Kemudian
Tatik Setianingsih, pengamat sekaligus pelaku seni di Batang mengungkapkan, Tari Babalu bukan sekadar hiburan semata.
Lahirnya tarian ini diibaratkan sebagai manifestasi perjuangan warga Batang saat melawan kolonialisme.
"Tari Babalu itu isinya penari dengan gerakan-gerakan silat. Peluit itu sebagai simbol aba-aba. Prit... itu tandanya gerak harus berganti. Ini tanda perjuangan warga Batang melawan penjajah," ujar Tatik kepada Jawa Pos Metro Pekalongan.
Keunikan visual menjadi daya tarik utama tarian ini. Penari mengenakan busana lengan panjang, celana selutut, dan kaos kaki tinggi yang mengesankan visual ala tentara.
Atribut kacamata hitam dan topi khas yang disebut kupluk dengan kuncir menjadi pembeda utama dengan kesenian Sintren.
Kupluk tersebut sebagai simbol kegagahan prajurit.
"Memang Batang itu agak bau Sintren, tapi Babalu beda. Topinya ada kuncirnya, pakaiannya seperti tentara yang sedang menyamar atau berjuang," imbuhnya.
Secara etimologi rakyat, nama Babalu sering dikaitkan dengan frasa "Aba-aba Dahulu". Hal ini selaras dengan struktur koreografinya yang sangat bergantung pada komando suara peluit.
"Kalau saya baca, Babalu itu terkait aba-aba. Aba-aba dahulu. Singkatnya, begitu peluit prit bunyi, gerakan ganti. Misalkan gerakan pembubukan racun atau gerakan menumpas penjajah," jelas Tatik.
Gerakan tarian yang berdurasi sekitar tujuh menit ini didominasi unsur pencak silat yang tegas. Musik pengiringnya pun khas, memadukan lagu dolanan seperti Lir-Ilir dengan ritme tek-tek yang memacu semangat juang.
"Kalau di sejarahnya itu penarinya memang perempuan. Tapi untuk para praktisi ya kadang ada penari cowok juga yang menarikan. Jadi tidak ada kewajiban perempuan sih. Tapi rata-rata perempuan," imbuhnya.
Baca Juga: Makanan dan Minuman Serba Gratis di Haul Guru Sekumpul 2025 ke 21
Meski berakar dari masa lampau, Tatik menyebut Tari Babalu mulai dikenal luas kembali sekitar tahun 1998 dan mengalami booming pada tahun 2000-an. Kala itu, banyak sanggar seni bermunculan dan mulai memparadekan tarian ini.
Sebagai upaya nguri-uri (melestarikan) budaya, Tatik menjadikan Tari Babalu sebagai materi wajib di Sanggar Merti Desa miliknya. Ia mewajibkan penari pemula untuk menguasai tarian ini di semester awal pembelajaran.
"Tari Babalu itu tarian wajib dihafalkan. Kenapa? Karena gerakannya adalah dasar tari dan ini adalah identitas Batang. Kalau ada tamu dari luar kota, rata-rata mintanya disuguhkan Babalu karena beda dan berkarakter," tegasnya.
Di balik atributnya yang nyentrik, Kesenian Babalu menyimpan narasi heroik rakyat Batang. Kesenian yang lahir di era kolonial ini bukan sekadar tontonan, melainkan saksi bisu strategi para pejuang kemerdekaan.
Atas nilai sejarah dan keunikannya yang tak dimiliki daerah lain, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) mengajukan Kesenian Babalu sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia.
Jika mulus, Babalu akan menyusul jejak tiga ikon budaya Batang lainnya yang telah lebih dulu menyandang predikat bergengsi tersebut, yakni Serabi Kalibeluk, Tradisi Nyadran Gunung, dan Batik Rifaiyah.
Baca Juga: TPG TW 4, TPG 100 Persen, TPG THR dan Gaji ke 13 Daerah yang Sudah Pencairan
Kepala Disdikbud Batang, Bambang Suryantoro Sudibyo melalui Kabid Kebudayaan, Camelia Dewi, menuturkan bahwa keunikan Babalu bukan sekadar estetika panggung. Muncul sekitar tahun 1940-an, kesenian yang memadukan unsur teater dan tari ini memiliki peran vital di masa lalu.
Proses pengusulan Babalu sebagai WBTb telah berjalan on the track. Camelia menjelaskan, seluruh persyaratan administrasi telah diunggah ke Data Pokok Kebudayaan (Dapobud) milik kementerian pada tahun 2025 ini. Harapannya, usulan tersebut dapat disidangkan dan ditetapkan pada tahun 2026 mendatang.
"Prosesnya sudah maju. Kami sudah mengisi semua isian yang diperlukan, termasuk mengirim naskah akademik, sejarah, foto, hingga video pementasan Kesenian Babalu," ujarnya saat diwawancara.
"Babalu sudah sangat memenuhi persyaratan itu karena eksis sejak 1940-an. Alasan kedua, kesenian ini menjadi identitas Kabupaten Batang. Setahu saya, tidak ada kesenian Babalu di tempat lain," tegas Camelia.
Langkah pelestarian ini diharapkan mampu mengukuhkan posisi Babalu sebagai kekayaan intelektual komunal sekaligus pengingat semangat patriotisme bagi generasi muda di Kabupaten Batang. (yan)
Editor : Baskoro Septiadi