Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Menggugah Partisipasi Publik dalam Mitigasi Banjir di Kota Semarang

Tri Waluyoningsih • Kamis, 28 November 2024 | 19:52 WIB

Eny Trimeiningrum, Agustine Eva Maria Soekesi, Wisnu Djati Sasmito, Wahju Wibowo.  Mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan Universitas Katolik Soegijapranata
Eny Trimeiningrum, Agustine Eva Maria Soekesi, Wisnu Djati Sasmito, Wahju Wibowo. Mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan Universitas Katolik Soegijapranata

RADARSEMARANG.ID, Bencana banjir merupakan bencana yang rawan terjadi di Kota Semarang bagian bawah.

Selain topologi wilayah sebagai penyebabnya, perencanaan pembangunan dan faktor sosial masyarakat disinyalir juga berkontribusi. Masalah topologi merupakan sifat alami yang harus di terima.

Hal ini tentu dapat diminimalisir dengan berbagai kebijakan pemerintah dalam membangun infrastruktur pengendalian banjir dan memelihara infrastruktur itu dengan baik.

Sementara untuk tidak memperparah kondisi, maka perlu perencanaan dan penataan pembangunan perkotaan yang terintegrasi.

Maksudnya mempertimbagkan keseimbangan antara ruang hijau sebagai wilayah serapan air dan bangunan sebagai tempat pemukiman dan bisnis.

Bagaimana dengan partisipasi masyarakat? Peran masyarakat menjadi faktor kunci dalam mitigasi dan adaptasi bencana.

Masyarakat yang akan menanggung akibat bencana maka mereka harus menjadi bagian dari penyedia solusi dalam pencegahan dan adaptasi.

Perlu edukasi berkelanjutan tentang apa yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya bencana dan apa yang harus dilakukan jika bencana terjadi.

Jika pemerintah menyediakan sarana dan pra sarana yang cukup bagi pengendalian bencana, maka masyarakat mempunyai peran untuk menjaga sarana dan prasarana tersebut agar berfungsi optimal.

Edukasi adalah proses belajar dari tidak tahu menjadi tahu. Dari pengetahuannya akan muncul pemahaman lebih mendalam yang pada gilirannya menggugah munculnya kesadaran.

Kesadaran inilah yang akan menjadi triger bagi perubahan prilaku dan pada akhirnya menjadi budaya.

Dalam edukasi masyarakat tentang mitigasi dan adaptasi bencana banjir di Semarang setidaknya ada 4 hal yang perlu dilakukan sesuai dengan tahap penanganan bencana banjir.  

Pertama edukasi dalam hal kesiagaan dalam menghadapi bencana banjir. Kesiapsiagaan adalah langkah awal yang penting untuk mengurangi risiko dan dampak bencana.

Masyarakat di daerah rawan bencana banjir perlu meningkatkan kesiapsiagaan dengan mempelajari dan memahami potensi risiko di lingkungan mereka.

Edukasi kepada masyarakat yang bisa dilakukan adalah pelatihan dan simulasi bencana dan pengenalan tanda-tanda bencana.

Pelatihan dan simulasi bencana, dapat membantu masyarakat untuk memahami apa yang harus dilakukan saat terjadi bencana banjir.

Baca Juga: Badan Penanggulangan Bencana Daerah Pantau Lokasi Banjir di Kota Semarang

Edukasi ini juga mencakup tentang rencana tindakan darurat yang diperlukan, seperti mencari tempat yang aman dari bencana, menyiapkan logistic darurat, menyelamatkan dokumen-dokumen penting.

Edukasi tentang pengenalan tanda-tanda bencana memberi pemahaman tentang tanda-tanda alam yang mengindikasikan akan terjadi bencana.

Disamping itu masyarakat juga diberikan pengetahuan tentang informasi-informasi yang disebarkan oleh pemerintah sebagai bentuk peringatan dini.

Kedua edukasi tentang mitigasi bencana banjir, Mitigasi bencana adalah upaya untuk mengurangi risiko dan dampak bencana dengan meminimalkan kerentanan.

Edukasi dalam mitigasi bencana banjir di Semarang dapat dilakukan dengan melibatkan masyarakat dalam beberapa kegiatan yang bertujuan menjaga lingkungan dan meningkatkan keamanan lingkungan tempat tinggal mereka. Kegiatan ini dapat berupa reboisasi dan penghijauan, untuk daerah penyerapan dan penyangga air.

Menjaga kebersihan sungai dan drainase agar saluran air tidak tersumbat oleh sampah.

Dengan menjaga kebersihan sungai dan drainase, masyarakat dapat membantu mencegah terjadinya banjir di wilayah mereka.

Membangun rumah yang tahan terhadap bencana banjir dengan menggunakan desain dan material bangunan yang lebih kuat serta mengikuti standar konstruksi bangunan yang aman.

Ketiga edukasi tentang tanggap darurat jika terjadi bencana banjir. Edukasi ini untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam upaya menyelamatkan diri dan membantu orang-orang di sekitar mereka.

Edukasi mencakup evakuasi mandiri dan membantu mengevakuasi warga lain disekitarnya, penyediaan tempat pengungsian sementara, mengikuti arahan dari tim penyelamat.

Keempat Edukasi tentang masa pemulihan dan rehabilitasi pasca-bencana. Tahap pemulihan pasca-bencana melibatkan upaya untuk mengembalikan kondisi masyarakat dan lingkungan yang terdampak.

Partisipasi aktif masyarakat dalam tahap ini akan mempercepat pemulihan.

Edukasi masa pemulihan dan rehabilitasi pasca bencana banjir dapat dilakukan dengan pendekatan social dan ekonomi serta dukungan psikososial.

Perbaikan sarana-prasarana yang rusak di sekitar dengan cara gotong royong, memnbangun kemandirian ekonomi pasca bencana. Serta berbagai pemahaman tentang bantuan pemerintah pasca bencana.

Disamping empat edukasi yang sering diberikan kepada masyarakat umum, proses edukasi dapat diperkuat melalui pendidikan formal di Sekolah dasar, menengah dan perguruan tinggi.

Dalam desain kurikulum pendidikan, dapat dimungkinkan konten-konten yang berisi muatan lokal.

Sangat disarankan mitigasi dan adaptasi bencana banjir diakomodasi dalam konten mata pelajaran di sekolajh dasar dan sekolah menengah di kota Semarang.

Edukasi yang dilakukan pada usia dini diharapkan akan efektif memberikan pemahaman dan kesadaran bagi kepedulian lingkungan. Sehingga lebih dapat diharapakan berkembang menjadi budaya bagi generasi muda untuk mencegah terjadinya bencana.

Kami berharap lewat edukasi kepada masyarakat akan tercipta budaya ramah lingkungan yang mampu menjadi pencegah terjadinya bencana banjir di Semarang.  

 

Penulis: Eny Trimeiningrum, Agustine Eva Maria Soekesi, Wisnu Djati Sasmito, Wahju Wibowo.

Mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan Universitas Katolik Soegijapranata

Editor : Tasropi
#pembangunan perkotaan #bencana banjir #Ilmu lingkungan #Universitas Katolik Soegijapranata