Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Penggunaan Media Sosial bagi Siswa di Sekolah Dasar

Radar Semarang • Senin, 25 November 2024 | 15:54 WIB
Nur Kholilah, Mahasiswa S3 Pendidikan Dasar Universitas Negeri Surabaya
Nur Kholilah, Mahasiswa S3 Pendidikan Dasar Universitas Negeri Surabaya

RADARSEMARANG.ID - Perkembangan teknologi merupakan hal yang tidak dapat kita hindari. Perkembangan harus diikuti supaya tidak tertinggal. Salah satunya internet.

Penggunaan internet merupakan salah satu hal yang saat ini menjadi fokus pembelajaran saat ini (Szapary et al., 2024). Internet tidak lepas dari kebutuhan manusia sehari-hari. Penggunaan internet ini dapat kita nikmati salah satunya melalui layanan website. Penggunaan internet mengalami kenaikan yang signifikan dikarenakan penggunaan media sosial di kalangan masyarakat luas. Media sosial merupakan salah satu sarana untuk berinteraksi secara maya (Ayuningtyas et al., 2022).

Media sosial adalah salah satu media yang digunakan secara individu untuk merepresentasikan diri sendiri dalam sebuah jaringan sehingga dapat berkomunikasi dengan berbagai macam orang dan tidak terbatas (Bozkurt, 2022). Media sosial biasanya menampilkan profil dari penggunanya, profil ini biasanya merepresentasikan bagaimana pribadi orang tersebut. Hanya saja kita tidak bisa menilai bagaimana orang tersebut karena banyak orang yang menampilkan profil jujur akan tetapi tidak sedikit orang yang menampilkan sebaliknya.

Penggunaan media sosial bagaikan dua sisi mata uang, yaitu positif dan negatif. Penggunaan sosial media secara positif digunakan dalam pendidikan, salah satunya sebagai media pembelajaran (Suryaningsih, 2020). Dampak negatif dari penggunaan sosial media akan muncul ketika digunakan secara berlebihan. Beberapa anak mengalami kecemasan karena tidak bisa mengikuti penampilan mewah yang dimunculkan pada media sosial atau istilah yang sedang ngetrend adalah fomo (Komala, n.d.).

Media sosial digunakan untuk online dan kursus campuran untuk meningkatkan hasil pembelajaran dan kursus tatap muka, membina komunitas belajar, memahami persepsi siswa tentang keterjangkauan alat, dan meningkatkan keterlibatan siswa dengan media sosial dengan mendukung proses pendidikan dengan elemen sosial seperti presentasi diri, komunikasi instan dan kaya, beragam titik interaksi, dan kemampuan untuk berkolaborasi (Sharma, Tohill, Tietjen, & Akgun, 2018). Peluang yang diberikan oleh media sosial dibentuk oleh kemampuan mereka untuk mengaktifkan individu untuk berkomunikasi, berinteraksi, dan berkolaborasi melalui motivasi yang didorong oleh diri sendiri di ruang online yang diperkaya secara sosial yang melampaui lingkungan pembelajaran formal (Kimmerle, Moskaliuk, Oeberst, & Cress, 2015). Siswa juga dapat menggunakan sosial media untuk membangun pembelajaran mereka lingkungan belajar pribadi di mana mereka dapat membuat, mengatur, dan berbagi konten pembelajaran (Dabbagh & Kitsantas, 2012; McLoughlin & Lee, 2007). Sosial media juga dapat membangun jembatan antara ruang pembelajaran formal, nonformal, dan informal (Greenhow & Lewin, 2016). Manfaat lainnya adalah sebagai alternatif sistem manajemen pembelajaran (LMS), serta memiliki potensi blended learning di pendidikan tinggi (Giannikas, 2020).

Menilik media sosial yang memiliki dampak positif dalam pendidikan, maka saya mencoba melakukan penelitian terhadap anak didik saya di Sekolah Indonesia Davao Filipina. Data awal menunjukkan bahwa seluruh sampel siswa dari jenjang SD dan SMP memahami apa yang dimaksud dengan internet. Rata-rata mereka menggunakan internet selama 3 sampai 5 jam dalam sehari. Data awal tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan penting.

Penelitian kami lanjutkan dengan mendata terkait sosial media yang digunakan serta berapa jam mereka menggunakan media sosial. Penggunaan media sosial terbanyak adalah Facebook dengan durasi selama 2 sampai 6 jam per hari. Akses media sosial ini dilakukan siswa ketika hari libur sekolah, sedangkan ketika di jam sekolah penggunaan media sosial ini masih dibatasi.

Meskipun sekolah tempat saya mengajar menerapkan sistem boarding akan tetapi siswa tetap bisa menggunakan internet dengan menggunakan fasilitas sekolah.

Sementara jika di hari libur, mereka diizinkan menggunakan telepon genggam masing-masing. Karenanya penggunaan internet maupun media sosial masih dalam kondisi yang dapat terpantau dengan baik dilihat dari durasi penggunaan setiap harinya.

Perolehan data terserbut menunjukkan bahwa siswa yang saya ajar memiliki kegemaran menggunakan internet untuk mencari informasi dan media sosial untuk berkomunikasi. Sehingga saya dapat dengan mudah memanfaatkan media sosial untuk media pembelajaran bagi siswa. Sosial media ini saya gunakan untuk berinteraksi dengan siswa melalui percakapan ringan. Percakapan ringan ini bertujuan untuk dapat membangun bounding dengan siswa terutama siswa pendidikan dasar.

Bounding dengan siswa ini mampu menciptakan komunikasi dengan baik antara pendidik dan siswa. Komunikasi yang baik dengan siswa dapat meningkatkan ketertarikan siswa kepada guru sehingga dapat mengikuti pembelajaran dengan baik (Nadia & Delliana, 2020). Ketika komunikasi baik yang dibangun oleh guru dan siswa ini meningkat maka tujuan pembelajaran dapat dengan mudah di capai.

Ujicoba komunikasi dilakukan di Sekolah Indonesia Davao Filipina dengan jumlah siswa 22 orang menunjukkan komunikasi guru dengan siswa dengan menggunakan media sosial lebih efektif. Komunikasi lebih dekat dan bounding lebih terlihat, hal ini ditunjukkan dengan adanya komunikasi dua arah yang saling terhubung. Adanya komunikasi yang bagus ini membuat guru mudah melakukan pendampingan terhadap siswa. Bahasa santai yang digunakan dalam komunikasi menggunakan media sosial membuat interaksi lebih mencair.
Komunikasi dengan menggunakan sosial media juga dapat dilakukan di luar jam pembelajaran efektif di sekolah. Interaksi guru dan siswa di luar jam pembelajaran dapat dilakukan ketika siswa mengalami kendala belajar maupun ingin mengkomunikasikan peramasalahan pribadi lainnya. Beberapa siswa bahkan menceritakan permasalahan dengan teman yang dia alami di sekolah.
Ineteraksi ini juga saya gunakan untuk membuat pertanyaan ringan untuk siswa guna menggali pengetahuan awal pada materi ajar.

Selain pengetahuan awal, saya juga sesekali menggunakan media sosial untuk memberikan informasi terkait assesmen yang dilakukan secara online. Pemanfaatan media sosial ini sangat membantu saya dalam melakukan pembelajaran. Saya juga sering kali melihat jejak digital yang ditinggalkan siswa saya melalui media sosial mereka. Penelusuran jejak digital ini dapat membuat saya lebih memahami bagaimana siswa yang saya ajar. Pemahaman terhadap siswa membuat saya lebih bisa mendampingi siswa tersebut dengan lebih baik.

Pemanfaatan jejak digital ini pernah saya alami ketika saya dengan sengaja memperhatikan setiap postingan salah satu siswa. Saya amati ternyata anak tersebut memiliki bakat yaitu menyanyi dengan Bahasa Indonesia dengan baik. Berbekal jejak digital tersebut saya dapat memberikan pendampingan lebih terkait bakat yang dimiliki siswa. Hingga siswa tersebut mulai percaya diri tampil di depan umum dengan memperlihatkan bakat yang dimilikinya. Hal ini membuat anak tersebut memiliki kedekatan dengan saya dan kedekatan ini saya manfaatkan untuk mengetahui kepribadian siswa lainnya. Tanggung jawab saya sebagai guru di Sekolah Indonesia Davao adalah mendampingi mereka sampai mereka menjadi pribadi yang lebih baik.
Meskipun banyak kemudahan yang didapatkan dari media sosial, penggunaan media ini dalam komunikasi dengan siswa memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan pertama karena sekolah kami menerapkan boarding sehingga tidak setiap waktu siswa dapat menggunakan media sosial, meskipun jika di hari libur mereka dengan mudah menggunakan media tersebut untuk berinteraksi dengan guru. Kelemahan selanjutnya adalah adanya komunikasi yang mengabaikan sopan santun. Adakalanya siswa menganggap guru adalah teman mereka sehingga melupakan sopan santun yang sebaiknya tetap di terapkan dalam berbagai kondisi.

Beberapa hal yang saya amati dan teliti menunjukkan adanya kekurangan dan kelebihan penggunaan media sosial pada anak di pendidikan dasar. Kelemahan dan kelebihan ini merupakan hal yang selalu beriringan. Kita harus mampu mengolah kelebihan dengan lebih baik supaya menfaat media sosial dapat lebih dirasakan. Sedangkan untuk kelemahan penggunaan media sosial ini merupakan hal yang perlu kita waspadai. Pendampingan yang dilakukan untuk siswa harus selalu dilakukan, untuk meminimalisir kelemahan yang dimunculkan dari penggunaan media sosial.

Pada akhirnya perkembangan teknologi selalu memunculkan kelemahan maupun kelebihan. Keduanya akan selalu beriringan, tinggal bagaimana kita bisa memanfaatkan perkembangan teknologi yang ada dengan baik sehingga kebermanfaatan media itu dapat ditebarkan untuk orang-orang di sekitar kita. Kita tidak akan mungkin bisa menghindari perkembangan teknologi yang harus kita lakukan adalah mengikuti dan mempelajari perkembangan teknologi yang ada sehingga kita tidak tertinggal. Penggunaan media sosial dapat kita sikapi dengan menjadikannya salah satu media ajar. Media ajar berbantuan media sosial ternyata dapat lebih mengena untuk para siswa karena mereka mengakses media sosial dengan mudah.

Penyampaian materi juga dapat didampingi dengan video pembelajaran singkat yang diupload pada media sosial sehingga siswa dapat mengakses serta memahami dengan mudah. Pemanfaatan media sosial untuk pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan minat belajar siswa sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik.

Pendampingan dalam penggunaan media sosial dapat dilakukan baik di rumah maupun di sekolah. Orang tua dapat melakukan pendampingan dan komunikasi yang lebih intens dengan sentuhan kasih sayang, mengulik apa saja yang dilakukan dan apa yang diperoleh dengan media sosial serta menyampaikan dengan terbuka positif dan negatif penggunaan media sosial.

Sedangkan di sekolah, sebagai guru kita dapat melakukan pendampingan dengan diawali pertanyaan terkait pemahaman tentang medsos saat di kelas. Guru meminta siswa untuk menyampaikan pendaspatnya, selama beraktivitas dengan media sosial. Guru memberikan penguatan kepada siswa tentang hal yang positif dan penekanan dampak negatif yang akan dialami. Program sekolah melalui apel pagi rutin.

Apel pagi rutin di Sekolah Indonesia Davao dilaksanakan pada hari Selasa dan Kamis di setiap minggunya, adapun peserta apel melibatkan seluruh siswa dari berbagai jenjang baik SD, SMP dan SMA. Salah satu tema yang diangkat dalam apel adalah penggunaan media sosial. Adapun yang menyampaikan apel ini meliputi guru-guru yang diatur menurut jadwal.

Dari segi eskternal, sekolah menyelenggarakan penyuluhan atau sosialisasi tentang penggunaan media sosial dengan melibatkan steakholder sekitar.

Dalam hal melibatkan steakholder sekitar, Sekolah Indonesia Davao melibatkan KJRI Davao city dalam hal pemberian materi pada sesi inspirational talks yang dilaksanakan setiap satu bulan sekali.

Salah satu yang menjadi penekanan pada inspirational talks adalah pentingnya kebijaksanaan dalam penggunaan media sosial. Pihak yang memberikan materi Inspirational Talks dari KJRI melibatkan Konsul Jenderal sebagai Kepala Perwakilan, jajaran home staff, staff teknis POLRI dan perwakilan TNI.

Kegiiatan-kegiatan tersebut dicanangkan melaui program Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Drs. Muhamad Heru Santoso.Selain orang tua dan sekolah, dalam setiap bulannya siswa mendapatkan inspirational talk yang diisi oleh Konsulat Jendral Republik Indonesia perwakilan Davao Filipina. Inspirational talk adalah kegiatan untuk memberikan nasehat kepada siswa siswi Sekolah Indonesia Davao termasuk didalamnya adalah bagaimana anak-anak harus bijak menggunakan internet maupun sosial media yang dimiliki. Dukungan dari berbagai pihak ini diharapkan dapat mememberikan pemahaman kepada siswa baik dan buruknya menggunakan internet maupun bersosial media dalam kehidupan sehari-hari sehingga anak tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang negatif.(*) 

Editor : Agus AP
#media sosial