DENGAN kemajuan teknologi dan informasi saat ini, pendidikan memiliki peran besar dalam meningkatkan kemampuan dan keterampilan sumber daya manusia agar mampu bersaing di era revolusi industri 4.0 ini.
Pendidikan di abad ke 21 merupakan sebuah tantangan.
Dunia pendidikan mempunyai tanggung jawab besar dalam menghadapi tantangan tersebut.
Hal ini sesuai dengan 21st Century Skills Characteristics yang diterbitkan oleh 21st Century Skills Partnership, yang menyatakan peserta didik abad 21 harus dapat mengembangkan keterampilan kompetitif yang dibutuhkan di abad 21 yang berkaitan dengan pengembangan Keterampilan Abad 21.
Keterampilan abad 21 yang harus dimiliki generasi muda adalah memiliki keterampilan berpikir kreatif (creative thinking), berpikir kritis dan pemecahan masalah (critical thinking and problem solving), berkomunikasi (communication), dan berkolaborasi (collaboration) atau yang biasa disebut dengan 4C (Resti Septikasari dan Rendy Nugraha Frasandy, 2018: 108).
Pembelajaran bukan lagi sekadar kegiatan mentransfer pengetahuan dari guru kepada peserta didik, tetapi bagaimana peserta didik mampu memaknai apa yang dipelajarinya.
Peserta didik menjadi subjek dalam proses pembelajaran: merasakan makna belajar, apa tujuan belajar, apa kebutuhannya dan bagaimana mencapainya. Peserta didik perlu terhubung dengan lingkungan sekitar dan menyadari bahwa apa yang telah dipelajarinya akan relevan dalam kehidupannya.
Oleh karena itu, proses pembelajaran harus terjadi secara kontekstual agar peserta didik bisa adaptif terhadap segala perubahan dan menjadi pembelajar yang lebih mandiri dan berkesinambungan.
Dalam membangun ekosistem pembelajaran, pemahaman dan akselerasi peran guru menjadi bagian yang sangat vital dan penting.
Selain dapat membangun kemandirian peserta didik, pemahaman dan akselerasi peran guru juga menunjang proses pengenalan diri, penggalian potensi diri, mengasah daya kritis-kreatif dan semangat inovatif peserta didik.
Proses pembelajaran harus dapat memberikan ruang seluas-luasnya kepada peserta didik sehingga peserta didik dapat menemukan makna dari proses dan hasil belajarnya.
Guru bertugas sebagai arsitek yang membangun ekosistem pembelajaran yang kondusif untuk proses pembelajaran yang kontekstual dan mandiri.
Peran utama guru tidak lagi sebatas pengampu mata pelajaran, karena kemajuan teknologi telah memudahkan ketersediaan dan akses terhadap sumber-sumber belajar yang lebih kompeten dan kaya.
Guru diharapkan tidak hanya dapat beradaptasi dengan kemajuan teknologi namun juga dapat memanfaatkan teknologi sebagai bagian dari upaya untuk membangun ekosistem pembelajaran.
Oleh karena itu, peran utama guru bertransformasi menjadi mitra belajar peserta didik, yang membantu peserta didik untuk dapat mengenali potensi diri dan kebutuhan belajar peserta didik yang sesuai, agar tujuan pembelajaran tercapai dengan maksimal.
Penulis merupakan guru mata pelajaran Sosiologi Fase E di SMA Negeri 1 Bandongan, Kabupaten Magelang.
Untuk meningkatkan keterampilan 4 C dan membangun ekosistem pembelajaran dimana peserta didik dapat mengenali potensi diri dan kebutuhan belajarnya, maka penulis menerapkan alur MERDEKA dalam proses pembelajarannya.
Alur pembelajaran MERDEKA merupakan akronim dari Mulai dari diri, Eksplorasi konsep, Ruang kolaborasi, Demonstrasi kontekstual, Elaborasi pemahaman, Koneksi antar materi, dan Aksi nyata.
Oleh karena itu proses pembelajaran terdiri dari tujuh langkah dengan setiap kegiatannya sesuai dengan akronim di atas.
Tujuh langkah tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
Pertama, Mulai dari diri: dalam kegiatan belajar ini, peserta didik diminta melakukan refleksi awal mengenai materi yang akan dibahas.
Peserta didik akan diberikan pertanyaan pemantik untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan awal yang dimilikinya tentang materi yang akan dipelajari.
Pada tahap ini guru bisa juga langsung melakukan pemetaan kemampuan dan kecenderungan belajar peserta didik untuk memudahkan guru dalam membersamai peserta didik mencapai tujuan pembelajaran.
Kedua, Eksplorasi konsep: pada tahap ini peserta didik akan diminta untuk membaca materi maupun menonton video yang berkaitan dengan materi yang sedang dipelajari.
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menemukan, mengenali, memperdalam, dan menguatkan konsep materi yang akan dipelajari.
Ketiga, Ruang kolaborasi: dalam ruang kolaborasi, peserta didik diminta untuk berkolaborasi dengan peserta didik lain dalam kegiatan kelompok.
Dalam kegiatan ini peserta didik diberikan sebuah topik untuk didiskusikan dan dipresentasikan bersama anggota dalam satu kelompoknya.
Setelah diskusi dan presentasi, guru memberikan penguatan dan umpan balik.
Keempat, Demonstrasi kontekstual: pada tahap ini peserta didik diminta untuk membuat sebuah rencana penerapan materi yang dipelajari di kelas.
Peserta didik diminta membuat atau mengerjakan tugas berupa artikel, video, komik, poster, lagu, puisi, dan sebagainya sesuai materi yang dipelajarinya.
Kelima, Elaborasi pemahaman: peserta didik akan diajak untuk berdiskusi bersama guru maupun narasumber lain.
Dalam kegiatan ini, peserta didik diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan dari materi yang belum dipahami untuk mendapatkan pemahaman yang utuh dari materi yang dipelajarinya.
Keenam, Koneksi antar materi: dalam kegiatan ini, peserta didik diminta untuk membuat kesimpulan dari keseluruhan materi yang sudah dipelajari hari itu. Selain itu peserta didik diminta untuk membuat keterkaitan antara materi hari itu dengan materi lain yang sudah dipelajari sebelumnya.
Ketujuh, Aksi nyata: dalam kegiatan ini peserta didik akan diminta menerapkan pengetahuan yang diperoleh di kelas dalam bentuk proyek baik dikerjakan secara individu maupun kelompok.
Setelah diterapkan alur pembelajaran MERDEKA ini, terjadi perubahan positif pada diri peserta didik Fase E di SMA Negeri 1 Bandongan.
Peserta didik lebih dapat mengenali potensi diri dan kebutuhan belajarnya.
Selain itu, terjadi peningkatan keterampilan peserta didik dalam menjalin komunikasi dan bekerja sama dengan kelompok, menemukan dan menciptakan solusi dalam permasalahan yang dihadapinya, meningkatkan toleransi terhadap perbedaan yang ada, sudut pandang atau perspektif peserta didik menjadi luas dan terbuka dalam melihat suatu masalah, berpikir kritis dan kreatif dalam pemecahan masalah di lingkungan kehidupannya. (*/aro)
Mahasiswa S2 PIPS Universitas PGRI Yogyakarta dan Guru Sosiologi SMAN 1 Bandongan, Kabupaten Magelang
Editor : H. Arif Riyanto