Pantauan Jawa Pos Radar Senarang, gedung Day Care Rumah Pelita Kota Semarang cukup memadai. Halaman beraspal tampak asri dengan beberapa tanaman dan urban farming. Ruangan belajar dan bermain cukup luas dan banyak aneka mainan anak. Selain itu juga terdapat ruang tidur khusus anak untuk istirahat dan dilengkapi toilet.
Sejak diresmikan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga pada 21 Februari lalu, Day Care yang berlokasi di Kelurahan Manyaran, Kecamatan Semarang Barat itu langsung beroperasi. Meskipun pada awalnya sulit merangkul anak-anak stunting. Banyak orang tua yang tak rela anaknya dirawat oleh orang lain.
"Mereka merasa direndahkan karena dikira tak mampu merawat anaknya sendiri. Awalnya, mencari tujuh anak itu susah," kata salah satu Pengasuh Rumah Pelita Azizah kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Namun seiring waktu, masyarakat paham. Melalui sosialisasi dan edukasi pentingnya percepatan pengentasan stunting, terutama untuk mendukung program Pemerintah Kota Semarang. "Setelah tahu kegiatan di sini, akhirnya banyak orang tua terbuka hatinya," ujar Azizah.
Ia menjelaskan, dahulu gedung Day Care Rumah Pelita merupakan balai RW. Karena jarang digunakan, lalu dimanfaatkan untuk tempat pengasuhan anak. Hingga saat ini pemanfaatan tidak hanya di Kecamatan Semarang Barat saja, namun juga kecamatan di sekitarnya.
"Kita tangani untuk perbaikan gizi dan memberikan stimulasi tumbuh kembangnya. Makanan kita timbang sesuai kebutuhan kalori dan tahapan usia," jelas perempuaan yang juga guru PAUD itu.
Day Care Rumah Pelita beroperasi Senin sampai Jumat. Mulai pukul 07.00 hingga 16.00. Anak-anak yang diasuh wajib datang dalam kondisi bersih dan belum makan apapun. Semua menu makanan ditentukan oleh pengasuh. "Karena sudah kita takar dan tentukan. Selain itu juga agar nantinya sesuai target," bebernya
Saat ini, kata dia, ada 11 anak yang semuanya termasuk stunting. Adapun batas kuota maksimal adalah 15 anak. Namun, karena terdapat dua pengasuh, hanya mampu menangani 11 anak. "Kebetulan dibantu oleh mahasiswa magang jadi agak ringan. Karena satu pengasuh menangani lima anak cukup repot," tandasnya.
Sebenarnya, Day Care Rumah Pelita dikhususkan untuk Balita Dua Tahun (Baduta). Namun kendala ada pada kurangnya kesadaran orang tua. Selain itu, belum cukup mandiri lantaran masih menyusui. Akhirnya, mengambil dari orang tua yang mau anaknya dititipkan. "Paling kecil 1 tahun 7 bulan. Kalau yang paling besar 4 tahun 2 bulan. Maksimal 5 tahun, lebih dari itu sudah waktunya di-kick dari Day Care," terang Azizah.
Untuk memantau kesehatan anak dilakukan pemeriksaan antropometri berkala. Pemeriksaan dilakukan oleh dokter nutrisionis, bidan, dokter anak, dan dokter psikolog. Selain itu juga membekali orang tua dengan parenting selama sekali dalam sebulan.
Azizah memaparkan, rata-rata mereka yang lulus dari Day Care sekitar tiga bulan. Bisa lebih dan bisa juga kurang tergantung kecepatan tumbuh kembang anak. Proses masuk juga tidak bisa sembarangan. Ditentukan olah Dinas Kesehatan berdasarkan data Posyandu.
"Anak stunting ini karena penanganan dan pola asuh yang kurang tepat. Anak yang tidak mau makan dibiarkan atau justru diberi snack. Nah di sini harus makan dan sesuai kecukupan nutrisi," tandasnya.
Saat ini, kata dia, masyarakat sudah mulai sadar dan memahami Day Care. Animo semakin tinggi untuk menitipkan anaknya. Terutama orang tua yang sadar bahwa anaknya stunting. "Secara fisik meskipun terlihat imut dan menggemaskan ternyata anak itu stunting. Tidak bisa hanya dilihat sekilas harus diperiksa idelanya usia anak sekian pertumbuhannya juga sekian," jelas Azizah.
Rencananya, lanjut Azizah, ketika semua anak terbebas dari stunting Day Care Rumah Pelita juga masih difungsikan. Namun untuk para orang tua yang sibuk dengan pekerjaannya. "Harapannya stunting sudah tidak ada lagi. Namun kedepannya masih difungsikan untuk Day Care," imbuhnya.
Selama menjadi pengasuh, ia merasakan bahwa tidak mudah mengasuh beberapa anak. Sebab, semua energi dicurahkan untuk mendampingi anak-anak makan, bermain, hingga belajar. "Harus menunggu mood anak bagus. Kalau tidak agak sulit mengurusnya," katanya.
Selain itu, meski sudah menjadi peraturan bahwa anak datang ke Day Care harus mandi, masih saja ada orang tua yang kurang peduli dengan kebersihan anaknya. Di sisi lain, orang tua juga ingin anaknya cepat dipasrahkan ke pengasuh, padahal pengasuhan belum dimulai.
Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rajayu mengatakan, saat ini, sudah ada tiga Day Care, yakni Rumah Pelita di Semarang Barat, Day Care di Gunungpati, dan belum lama ini dibentuk Day Care di rumah dinas Camat Semarang Timur.
Pihaknya menargetkan, tahun ini 16 kecamatan bisa membuat Day Care, yang disupport oleh lintas dinas. Setiap Day Care, orang tua anak stunting juga akan diberikan pendampingan dan konseling. Makanan yang diberikan diambil dari buku resep Megawati Soekarnoputri. "Tahun ini targetnya semua kecamatan punya," tandasnya. (mia/den/aro) Editor : Agus AP