Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Anggota Kelompok Pembatik Kampung Batik Durenan Rela Jadi Pelatih Panggilan

Agus AP • Kamis, 23 September 2021 | 15:59 WIB
Anggota tim kelompok pembatik di Kampung Tematik Batik Durenan, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tembalang, melatih kaum perempuan di Kecamatan Genuk. (FIGUR RONGGO WASSALIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Anggota tim kelompok pembatik di Kampung Tematik Batik Durenan, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tembalang, melatih kaum perempuan di Kecamatan Genuk. (FIGUR RONGGO WASSALIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RADARSEMARANG.ID, Semarang - Anggota kelompok pembatik di Kampung Tematik Batik Durenan rela menjadi pelatih panggilan. Demi melestarikan batik. Baru-baru ini, melakukan pemberdayaan perempuan dengan melatih membatik di Kecamatan Genuk.

Kampung Tematik Batik Durenan beralamatkan di RW6, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tembalang. Dibentuk pada tahun 2017. Dulunya terdapat 30 ibu yang berusia lebih dari 50 tahun. Mereka antusias mengikuti berbagai pelatihan membatik yang diadakan di Kelurahan Mangunharjo, Tembalang.

Ketua LPMK sekaligus Ketua Kampung Tematik Batik Durenan Pramujiarto menjelaskan, pelopornya Bu Ning yang sangat terkenal dengan batik motif Blekok. Kali pertama dibentuk, terdapat lima tim pembatik yang terdiri atas lima orang. Masing-masing tim belajar bersama tentang cara membatik dengan Bu Ning.

Di Kampung Batik Durenan juga terdapat galeri dan sanggar untuk praktik membatik. Galeri difungsikan sebagai tempat hasil dari ibu-ibu membatik. "Sampai saat ini motif yang menjadi andalan kita adalah durian. Entah itu bunganya, daun, atau kulit buah duriannya. Itu yang menjadi ciri khas dari Batik Durenan ini," jelasnya.

Ketua Tim Pembatik Miranti menjelaskan, batik yang dihasilkan bersama dengan anggotanya dihargai sekitar Rp 150 ribu sampai dengan Rp 600 ribu. Pemesannya berasal dari kecamatan, kelurahan, dan pemerintahan lainnya.

Mereka menghargai batiknya tergantung dari kualitas kain dan kesulitan motifnya. "Karena ini kan batik tulis. Biasanya untuk seragam," jelasnya.

Namun, selama pandemi covid-19 ini sangatlah berdampak bagi pembatik di Kampung Batik Durenan.  Batik buatannya menjadi sepi peminat menjadikan pemasukan kas Kampung semakin berkurang.

Ia menambahkan, selain membatik untuk Kampung Tematik Batik Durenan ia juga menggelar pembelajaran bagi yang menginginkan cara membatik dengan tehnik tulis. Dengan harga Rp 50 ribu per orang dapat menerima ilmu membatik selama sehari. "Minimal 20 orang, bahannya dari kami. Mereka bisa membawa pulang hasil batiknya," ungkapnya.

Lurah Mangunharjo Yuliatun bersyukur dengan adanya kerja sama antara Kampung Tematik Batik Durenan dengan Pemerintah Kecamatan Genuk. Pelatihannya diikuti oleh 30 orang di tiap kelurahan.

Dilakukan selama dua hari di tiap kelurahannya. "Awal bulan ini kami ke Kelurahan Gebangsari. Hari ini (kemarin) ke Kelurahan Bangetayu Wetan. Akhir bulan nanti ke Genuksari," tuturnya. (cr6/ida) Editor : Agus AP
#BATIK #Kampung Tematik Batik Durenan