Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Sungai Beringin Meluap

Agus AP • Rabu, 5 Februari 2020 | 14:15 WIB
Photo
Photo
RADARSEMARANG.ID, SEMARANG, - Sungai Beringin kembali murka. Sungai di bagian warga di wilayah Kelurahan Wonosari Kecamatan Ngaliyan, serta Kelurahan Mangkang Wetan dan Mangunharjo, Kecamatan Tugu terendam. Selain itu, Jalur Pantura Semarang – Kendal juga tergenang hingga menyebabkan arus lalu lintas lumpuh.(ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG).

Banjir di awal Februari ini terjadi setelah hujan deras mengguyur sejak pukul 13.00 hingga 14.30. Meski hanya 1,5 jam, namun dampaknya luar biasa. Debit air sungai Beringin langsung naik. Alhasil air sungai meluap dan merendam perumahan warga, termasuk melumpuhkan jalur Pantura Semarang - Kendal karena ketinggian air mencapai 50 sentimeter.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, air sungai mulai masuk ke permukiman sekitar pukul 14.30 lebih. Dengan cepat air bah dari arah selatan atau Kelurahan Wonosari Dondong, langsung menggenangi jalur Pantura. Tak berselang lama, setelah Pantura penuh, air masuk ke permukiman di RW 1 Kelurahan Mangkang Wetan. Selain RW 1, RW, 2,3,4 dan 5 tak luput dari luapan air sungai yang memang mendesak dilakukan normalisasi ini.

"Ini kali pertama banjir masuk RW 1, padahal sebelumnya tidak pernah. Ketinggian air lumayan tinggi, selutut orang dewasa," kata Restu Prasojo, salah satu warga RW 1 Kelurahan Mangkang Wetan

Air yang cepat naik membuat warga RT 2 RW 2 berhamburan dan mengevakuasi barang berharga. Juga para janda dan lansia. Sementara keadaan tak kalah panik juga terlihat di Jalur Pantura. Pengendara yang melintas langsung menepikan kendaraan agar tidak terjebak banjir.

"Mobil saya kebetulan sedan, jadi saya memilih berhenti dan cari tempat tinggi," ujar salah satu pengendara.

Pengendara yang nekat harus rela motornya mogok. Apalagi ketinggian air mencapai 50 sentimeter lebih. Truk, bus, dan kendaraan lainnya memilih memarkirkan kendaraan sambil menunggu air surut. Sementara titik yang paling dalam dan belum surut hingga tadi malam terlihat di depan karoseri Tugas Kita. Selain itu, genangan yang cukup tinggi juga terlihat di depan Pabrik Sango, Tambak Aji.

Kondisi di RW 7 Kelurahan Wonosari lebih parah lagi. Ketinggian air mencapai satu meter lebih, dan merupakan wilayah langganan banjir karena letaknya lebih rendah dari tanggul dan Jalan Pantura.

"Nggak tahu keadaan rumah gimana, soalnya juga nggak bisa pulang. Tadi dikabari kalau banjir dari teman, katanya air di RW 7 cukup tinggi, jadi nggak berani melintas," tutur Farichin, warga RW 7 Kelurahan Wonosari.

Ketua DPRD Kota Semarang Kadar Lusman yang tinggal di Kampung Krajan, Mangkang Wetan RT 2 RW I mengatakan, jika banjir di Mangkang Wetan dan Mangunharjo merata. Selain Sungai Beringin, banjir juga diperparah dengan meluapnya Sungai Plumbon.

"Ada laporan kalau banjirnya merata, hampir di semua wilayah Mangkang Wetan, Mangunharjo dan Wonosari. Ketinggian airnya bervariasi, mulai 50 sentimeter sampai satu meter lebih," katanya saat ditemui melakukan pemantauan.

Pilus – sapaan akrabnya, mengatakan, banjir terjadi murni karena limpasan air Sungai Beringin dan Sungai Plumbon. Terkait tanggul yang jebol, politisi PDI Perjuangan ini, mengatakan belum ada laporan tanggul jebol. "Murni limpas, karena curah hujan yang sangat tinggi. belum ada laporan masuk apakah ada tanggul yang jebol," tuturnya.

Menurut dia, normalisasi Sungai Beringin sangat diperlukan dan mendesak dilakukan. "Beringin dan Plumbon ini harus dinormalisasi, ini solusi yang paling tepat dan paling baik," tegasnya.

Sampai berita ini ditulis, Pantura Semarang Kendal masih tersendat. Sementara di beberapa perkampungan juga masih tergenang air meski tidak terlalu tinggi. Warga langsung melakukan gotong royong membersihkan rumah ataupun jalan kampung dari bekas banjir.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang Sih Rianung mengatakan, jika luapan dari DAS Beringin diakibatkan jebolnya tanggul di sisi utara jalan irigasi. “Ini sudah menjadi langganan jebol,” tutur Anung - sapaan akrabnya, Selasa (4/2).

Mudah jebolnya tanggul tersebut lantaran pola aliran DAS Beringin yang relatif menyempit di bagian hilir. Selain itu juga lebar dari DAS Beringin tidak bisa menampung debit air buangan dari wilayah atas karena tergolong sempit.

“Lebarnya kurang lebih hanya 9 meter, dan kalau mendapatkan pasokan debit tinggi dari wilayah atas, pasti meluap dan meluber sampai ke permukiman warga,” tuturnya.

Di 2020 ini, Pemkot Semarang sudah menyelesaikan tahapan untuk normalisasi DAS Beringin berupa pembebasan lahan di wilayah hilir. Kemudian, untuk proses normalisasi direncanakan akan dilakukan di 2021 dari APBN. Menurutnya, normalisasi DAS Beringin memang mendesak dilakukan. Tingginya debit air kiriman dari wilayah atas, ditambah apabila ada hujan mengguyur wilayah tersebut sangat berpotensi tanggul-tangul jebol.

Alhasil air meluap dan masuk ke permukiman warga. “Selain itu, karena intensitas hujan di wilayah atas yang cukup tinggi. Sehingga Sungai Beringin tidak bisa menampung curahan air dari wilayah atas,” ujarnya.

Normalisasi nantinya juga akan membuat aliran DAS Beirngin menjadi ideal, artinya tidak akan ada penyempitan lagi. Seperti yang terjadi saat ini yang berakibat meluapnya aliran air saat intensitas hujan tinggi.

“Memang pada awal hujan tadi penyerapan tanah masih bagus, namun lama-lama air di sungai pun menjadi jenuh dan akhirnya meluap keluar. Ini memang kejadian tahunan dan perlu untuk diambil sikap,” katanya.

Jika melihat dari tingginya debit air saat intensitas hujan tinggi, idealnya lebar DAS Beringin lebih dari 10 meter. Sehingga dapat menampung air meski curah hujan tinggi. “Dari DPU sudah melakukan pembebasan lahan, tinggal menunggu bantuan dari Pemerintah Pusat untuk dilakukan proses normalisasi,” tuturnya.

Dikatakannya, mendapatkan laporan jebolnya tanggul, pihaknya langsung mengirimkan petugas ke Mangkang Wetan dan titik lain yang terdampak. “Kita sudah mengecek dan langsung mempersiapkan hal darurat, seperti bambu dan karung untuk bantuan,” katanya.

Ia juga memastikan, meski meluap air tersebut nantinya tidak akan menggenang dengan waktu yang lama. “Air hanya lewat, karena hanya menemui titik jenuh saja. Itu sudah terjadi tahunan,” ujarnya. (den/fth/ewb/aro) Editor : Agus AP
#Sungai Beringin Meluap