Drs. Suwito. M.A
RADARSEMARANG.ID, PERAN dan tanggung jawab guru bimbingan konseling (BK) selain mengajar, adalah menanamkan pendidikan karakter bagi siswanya.
Pendidikan karakter tidak dilakukan di sekolah. Bahkan dimulai dari lingkungan keluarga akan lebih efektif dan tertanam.
Ada beberapa metode yang penulis lakukan untuk memberikan pendidikan karakter pada anak. Metode ini, penulis terapkan di SMPN 4 Comal Kabupaten Pemalang.
Metode tersebut yakni percakapan, bercerita, keteladanan, pembiasaan, Ibrah dan Mau’idah, dan janji serta ancaman.
Pertama, metode percakapan. Yakni dilakukan dengan cara pembicaraan antara dua pihak atau lebih.
Dimana membahas mengenai topik tertentu sesuai dengan tujuan atau hasil yang dikehendaki. Kunci dari metode ini adalah komunikasi yang berlangsung timbal balik bukan model ceramah.
Karena dengan melakukan komunikasi dua arah, maka pihak-pihak yang terlibat dalam percakapan bisa lebih terbuka dan mengembangkan pola pikirnya. Sebab mereka mendapatkan opini dari sudut pandang yang berbeda.
Selain itu bisa juga untuk membangkitkan kesan, perasaan, serta menimbulkan rasa percaya diri dan saling menghargai pendapat satu sama lain.
Kedua, metode bercerita. Metode ini cocok diberikan untuk pendidikan karakter di sekolah di mana anak-anak akan lebih mudah menyerap pesan moral melalui kisah-kisah tokoh fantasi maupun tokoh teladan.
Cerita bisa disampaikan dengan cara yang lebih menarik dan sesuai dengan level anak-anak. Sehingga mereka bisa mengikuti alur cerita dari awal hingga akhir dan mendapatkan pesan moral di dalamnya.
Ketiga, metode keteladanan. Hal ini penting. Sebab seorang anak membangun karakter dan perilakunya dengan mencontoh perilaku dan karakter idola dan lingkungan sekitarnya.
Makanya, guru maupun orang tua dan wali peserta didik harus senantiasa menunjukkan karakter dan perilaku yang baik. Sehingga anak juga akan berperilaku baik.
Kesan memberi hanya perintah dan melarang ini dan itu tidak efektif tanpa diberikan teladan terlebih dahulu. Misalnya memerintah anak untuk membiasakan salat wajib lima waktu.
Maka dari kecil ia juga harus melihat keluarga maupun pendidiknya mengerjakan ibadah tersebut.
Keempat, metode pembiasaan. Karakter tertentu yang ingin ditanamkan pada peserta didik harus ditekankan secara berulang-ulang sehingga kegiatan yang berhubungan dengan karakter tertentu akan menjadi kebiasaan yang positif.
Kelima, Metode Ibrah dan Mau’idah. Ibrah yakni pendidikan karakter di sekolah yang bisa dilakukan dengan maksud untuk mengarahkan peserta didik kepada intisari pada sebuah peristiwa atau kejadian yang disaksikan.
Kemudian dihadapi dengan nalar yang membuat hati para peserta didik mau mengakui merasakan intisari tersebut.
Sedangkan Mau’idah adalah memberikan nasehat dengan tutur kata lembut dan bisa diterima oleh hati para peserta didik.
Caranya dengan cara menjelaskan pahala dan juga balasan kebaikan yang akan didapatkannya.
Hal ini penting dilakukan karena ketika dinasehati kadang sulit untuk diterima oleh hati apalagi jika disampaikan dengan kata-kata yang menyinggung.
Keenam, metode janji dan ancaman. Metode ii memanfaatkan fitrah atau sifat alami manusia. Yakni menginginkan kesenangan dan juga menjauhi kesengsaraan.
Makanya dalam kegiatan pendidikan karakter pun bisa diterapkan dengan memberikan dengan reward and punishment.
Tujuannya agar peserta didik mau melakukan atau berperilaku karena ingin mendapatkan reward. Sedangkan bagi yang melanggar akan mendapatkan hukuman yang tentunya akan dihindari.
Drs. Suwito. M.A
Guru BK SMP Negeri 4 Comal Kab. Pemalang