Matematika hanya dikenal sebagai bilangan, fungsi, tabel dan grafik. Padahal banyak sekali pesan moral matematika tersirat yang ditanamkan sejak anak dilahirkan. Contohnya relasi anak dengan keluarga, data kelahiran, data medis, mengenal peran/fungsi ayah, serta mengenal ruang dan waktu.
Pembelajaran matematika pada materi Geometri Dimensi tiga di kelas XII jurusan IPS SMA Negeri 7 Semarang tahun pelajaran 2022-2023 kurang mendapat respons positif siswa. Hambatan itu dipengaruhi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor Internal antara lain: bakat, minat, dan intelegensi siswa yang rendah. Faktor eksternal antara lain: metode mengajar.
Namun serendah apapun bakat, minat dan intelegensi siswa jika dipantik dengan cara yang tepat, mampu mengobarkan keingintahuan siswa. Jadi guru tidak perlu mengisi bejana pikiran siswa. Tetapi cukup mengobarkan bagaimana siswa berpikir dan memilih solusi tepat dari setiap permasalahan.
Menurut Simmons (2003), pengukuran kemampuan persepsi ruang dapat dibagi menjadi empat indikator. Yaitu 1) position perception; 2) size perception; 3) shape perception; 4) distance perception. Pembelajaran geometri yang baik dan benar dapat diperoleh ketika siswa dapat menguasai kemampuan dasar geometri, terampil dalam membuat gambar dasar geometri, dan mempunyai kemampuan pandang ruang memadai.
Guru dalam pembelajaran matematika tidak hanya cukup berbekal pengetahuan, melainkan mampu memperhatikan aspek pembelajaran. Ini untuk menciptakan situasi yang mendukung pengembangan kemampuan berpikir matematis siswa. Sehingga tujuan pembelajaran dapat terealisasikan dengan baik.
Aspek pembelajaran dapat diperhatikan dengan mengidentifikasi hambatan belajar yang mungkin dialami siswa. Sehingga guru dapat berupaya membuat suatu rancangan yang digunakan untuk mengatasi hambatan tersebut. Pembelajaran dimensi tiga dengan metode PRANK (Productive , Relevance , Agile, Negotiation, Kind Collaborative) dapat menjadi solusi masalah kaburnya mata intelektual siswa. Setiap orang sibuk, tapi dari kesibukannya itu apakah ia produktif?
Siswa akan produktif (Productive) jika menghasilkan ide matematis dengan cara mencoba melakukan pengerjaan. Inilah tahapan kemajuan yang harus dilewati sebelum seseorang berharap mampu mendekati kesempurnaan hasil. Siswa terus dilatih mengambil keputusan jawaban berdasarkan mata jasmani dan melibatkan mata intelektual dengan dasar konsep geometri ruang. Karena benda tersebut sejatinya adalah benda yang ada dalam pikiran manusia. Materi geometri adalah materi yang senantiasa dekat dengan kehidupan siswa.
Selama siswa masih hidup di dunia ia berada dalam ruang dimensi tiga, dengan kata lain materi ini sangat relevan (Relevance) dengan kehidupan siswa. Ada baiknya guru memberikan reward kepada siswa berupa pujian atau mengusap pundaknya sebagai penghargaan yang sudah mau mencoba mencari solusi permasalahan yang disajikan.
Jika ilmu itu seperti binatang buruan, dan tali adalah penanya/ballpoinnya, maka ikatlah ilmu itu dengan menuliskan di buku! Saat kita menuliskan informasi di atas kertas secara tidak langsung kita juga menuliskan informasi itu dalam lembaran memori otak kita.
Jika siswa mempunyai arsip catatan/resum yang berkelanjutan, hal tersebut dapat mengasah ketangkasan/ kecerdasannya (Agile) dalam membuat resum informasi. Penguatan informasi tidak bisa menerapkan prinsip ekonomis artinya dengan mengeluarkan tenaga dan pikiran sesedikit mungkin untuk memperoleh ilmu sebanyak mungkin.
Tahapan jam terbang tinggi adalah proses yang paling otentik yang mampu terekam dalam memori manusia secara permanen. Maka guru perlu membangun kesadaran dengan pendekatan interpersonal (Negotiation) di kelas. Belum pernah ada seorang ahli/penemu yang hanya berlajar satu atau dua kali. Tetapi mereka telah melewati jam terbang tinggi. Atmosfer semangat belajar siswa akan senantiasa terjaga apabila ia berada pada circle/komunitas orang-orang yang semangat belajar.
Jika ia mengerjakan tugas dalam kelompok diharapkan tidak memanipulasi kerjasama dengan ketergantungan saja , tetapi ikut serta ambil bagian (Kind Collaborative) dalam kerjasama tersebut. Jika seluruh tahapan telah dilaksanakan dengan baik maka siswa akan memperoleh kemampuan adaptif. Yang mencakup kemampuan menalar, merencanakan, berpikir abstrak, beranalogi, mendapatkan algoritma, serta memahami suatu ide dalam perspektif yang lebih luas dan mendalam. (*/fth)
Guru Matematika SMA Negeri 7 Semarang Editor : Agus AP