Menurut Muhammad Numan Soemantri (2001), pendidikan IPS adalah suatu penyederhanaan dari disiplin ilmu-ilmu sosial, idiologi negara dan disiplin ilmu lainnya. Serat masalah-masalah sosial terkait yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pendidikan pada tingkat pendidikan dasar dan menengah.
Untuk sekolah dasar, IPS merupakan perpaduan mata pelajaran sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, dan antropologi. Geografi, sejarah dan antropologi merupakan disiplin ilmu yang memiliki keterpaduan yang tinggi.
Pendidikan IPS di sekolah dasar harus memperhatikan kebutuhan anak yang berusia antara 6 – 12 tahun. Anak dalam kelompok usia 7 – 11 tahun menurut Piaget (1963) berada dalam perkembangan kemampuan intelektual/kognitifnya pada tingkatan operasional konkret.
Mereka memandang dunia dalam keseluruhan yang utuh atau holistik. Mereka juga belum memahami konsep abstrak, yang mereka pedulikan adalah hal konkret. Padahal bahan materi IPS penuh dengan pesan yang bersifat abstrak. Konsep seperti lingkungan, waktu, kesinambungan, keragaman sosial, ekonomi dan konsep-konsep abstrak lain yang dibelajarkan kepada peserta didik di sekolah dasar.
Untuk mengatasi kesulitan belajar materi IPS khususnya materi negara ASEAN maka guru berusaha mengatasi dengan metode mnemonik atau jembatan keledai. Teknik mnemonik atau jembatan keledai adalah teknik untuk menghafal dengan mengasosiasikan terhadap hal yang mudah diingat.
Jembatan keledai sering berupa kata atau suku kata yang ditambahkan pada susunan kata yang ingin dihafalkan agar terbentuk kalimat dengan arti yang menarik atau masuk akal. Konon, jembatan keledai (ezelbrugece) ini merupakan metode mengingat kreatif warisan Tan Malaka. Jembatan keledai ini sering dijadikan metode pembelajaran para guru kepada muridnya untuk membantu menghafal istilah dalam pelajaran yang agak panjang sehingga murid dapat termotivasi dan bergairah dalam belajar.
Prinsip belajar dengan metode mnemonik adalah kita akan membentuk sebuah akronim yang sederhana dan mudah diingat siswa. Pada pembelajaran IPS di kelas VI semester 1 materi tentang negara-negara ASEAN anak-anak akan mudah mengingat dengan membuat akronim dari 10 negara tersebut, contohnya SIN THA dan FINA MA IN di VI LA BaRU KA MI (sintha dan fina main di vila baru kami). Penjelasannya yakni SIN untuk Singapura, THA untuk Thailand, FINA untuk Filipina, MA untuk Malaysia, IN untuk Indonesia, VI untuk Vietnam, LA untuk Laos, BARU untuk Brunei Darussalam, KA untuk Kamboja, MI untuk Mianmar.
Setelah dilakukan pembelajaran IPS dengan metode mnemonik terjadi peningkatan hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri Sonorejo pada kemampuan menghafal nama negara ASEAN. Penggunaan metode mnemonik pada pembelajaran IPS mengalami peningkatan di setiap prosesnya. Sehingga keterampilan menghafal siswa dapat meningkat dari kondisi awal dalam kategori kurang menjadi baik, dari kategori sulit menjadi lebih mudah. (mn2/lis)
Guru SDN Sonorejo, Kec. Candimulyo, Kabupaten Magelang Editor : Agus AP