Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Gus Yusuf Dorong Layanan Pengasuhan Anak Berbasis Komunitas

M
Penulis: Miftahul A’la❯
Gus Yusuf
Gus Yusuf

Advertisement

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Pengasuh Ponpes Asrama Perguruan Islam Tegalrejo Magelang, Jawa Tengah KH M Yusuf Chudlori menegaskan perlunya langkah serius dan terstruktur untuk memperbaiki sistem pengasuhan anak di Indonesia.

Hal ini dikemukakan Gus Yusuf, sapaan akrabnya, dalam menanggapi kasus layanan penitipan anak (day care) di Yogyakarta.
   
“Peristiwa ini menjadi peringatan penting bahwa kita masih memiliki celah besar dalam aspek regulasi, perizinan, tata kelola, serta pemantauan layanan day care. Negara harus hadir secara nyata untuk memastikan keamanan dan kualitas pengasuhan anak,” ujar Gus Yusuf, Selasa (28/4).

Gus Yusuf menekankan bahwa pemerintah perlu segera mengambil langkah konkret, di antaranya dengan menyusun dan menegakkan regulasi yang jelas dan komprehensif terkait standar layanan day care. 

Advertisement

Selain itu, sistem perizinan harus diperketat agar seluruh layanan beroperasi secara legal dan memenuhi standar minimum yang telah ditetapkan.

“Tidak kalah penting, tata kelola harus diperbaiki, akuntabilitas diperkuat, serta pemantauan dilakukan secara berkala oleh dinas terkait. Ini menyangkut keselamatan dan masa depan anak-anak kita,” tambahnya.

Advertisement

Di sisi lain, Gus Yusuf juga mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam menghadirkan solusi alternatif berbasis komunitas. 

Menurutnya, pesantren, masjid, dan mushola memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari solusi melalui penyediaan layanan pengasuhan anak yang aman dan terjangkau.

“Kita bisa mengembangkan layanan pengasuhan anak berbasis komunitas dengan SOP yang jelas, melibatkan tenaga profesional, serta menjalin kerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dinas Tenaga Kerja, dan pihak terkait lainnya,” jelasnya.

Pembina Forum Guyub Nusantara ini juga menekankan pentingnya pelatihan dan sertifikasi bagi para pengasuh agar kualitas layanan tetap terjaga dan memenuhi standar yang dibutuhkan.

“Perlindungan anak adalah tanggung jawab bersama. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga keagamaan harus diperkuat untuk menciptakan ekosistem pengasuhan yang aman, terpercaya, dan berkelanjutan,” tegasnya.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar SemarangIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

56 Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak Terjadi di Salatiga, Diduga Banyak yang Belum Terungkap

56 Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak Terjadi di Salatiga, Diduga Banyak yang Belum Terungkap

Jumlah tersebut tercatat dalam kurun waktu hingga Agustus 2026. Sementara sepanjang 2025, kasus kekerasan perempuan dan anak yang ditangani DP3APPKB mencapai 86 kasus.

Kekerasan Perempuan dan Anak Masih Terjadi, Ketahanan Keluarga Perlu Diperkuat dari Hulu

Kekerasan Perempuan dan Anak Masih Terjadi, Ketahanan Keluarga Perlu Diperkuat dari Hulu

Kekerasan Perempuan dan Anak Masih Terjadi, Ketahanan Keluarga Perlu Diperkuat dari Hulu

Angka Kekerasan Anak Sampai Juli Capai 102 Kasus, Wali Kota Semarang Agustina Soroti Kasus Bullying

Angka Kekerasan Anak Sampai Juli Capai 102 Kasus, Wali Kota Semarang Agustina Soroti Kasus Bullying

Angka kekerasan anak di Kota Semarang tahun 2026 ini mencapai 102 kasus, tingginya kasus ini mendapatkan sorotan dari Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng dengan menciptakan lingkungan yang ramah anak

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer