Studi nasional dan internasional telah mengidentifikasi bahwa iklim kelas atau suasana atau situasi kondusif merupakan faktor penting dalam prestasi siswa. Hakim (2009: 39) yang menganalisis tentang individu dalam pembelajaran merumuskan situasi belajar sebagai salah satu fitur yang berpengaruh pada keberhasilan belajar siswa.
Iklim kelas sendiri dipengaruhi atau merupakan suasana yang tercipta oleh beberapa faktor. Faktor yang pertama adalah tata letak lingkungan belajar. Kemudian ada aturan yang diucapkan dan tidak diucapkan dalam tindakan. Dan ke tiga adalah jenis interaksi antara guru dan siswa. Penciptaan iklim kelas memiliki kaitan tentang kompetensi guru. Kaitan ini menghubungkan iklim kelas dengan keahlian guru di dalamnya. Jika dilakukan proses untuk mengidentifikasi, setidaknya ada tiga faktor utama yang berkontribusi pada pengajaran yang efektif. Ketiganya adalah karakteristik profesional, keterampilan mengajar, dan iklim kelas. Menurut para ahli pendidikan, ketiga faktor ini menunjukkan secara bersama-sama, lebih dari 30% variasi dalam perkembangan murid.
Iklim kelas yang kondusif akan memperkecil jurang kesenjangan hubungan antara guru dengan siswa maupun antarsiswa itu sendiri. Kesenjangan hubungan ini jika ters berlangsung akan mengubah kelas menjadi suatu bentuk pecahan yang tidak padu. Demokratisasi dalam kelas akan hilang karena dominasi individu tertentu. Dalam iklim kelas yang nyaman, semua siswa akan belajar dengan tenang dan merasa gembira tanpa tekanan. Proses seperti rolling tempat duduk sebulan sekali misalnya, akan memberikan kesempatan pada tiap anak untuk mencicipi posisi ketika duduk di depan, belakang, tepi kanan, dan sebelah kiri. Juga adanya rolling teman sebangku akan memperkuat rasa saling memahami karakter antarteman dan meningkatkan kolaboratif tanpa sekat kaya miskin. Kesemuanya dilandasi oleh kebersamaan.
Kita tentu tidak menginginkan adanya diskriminasi di dalam kelas. Sikap adil seorang guru juga menjadi bagian penting dari iklim kelas yang kondusif bagi keberhasilan pembelajaran. Dalam iklim kelas yang kondusif, anak-anak yang kurang berprestasi tidak akan pernah dianggap sebagai individu yang memiliki ketimpangan akses untuk belajar. Demokratisasi akan berjalan secara dinamis dan menyadarkan pada anak didik tentang hubungan harmonis. Langkah-langkah yang bertujuan untuk meningkatkan iklim kelas setidaknya meliputi bimbingan secara adil, hubungan kerjasama siswa dari latar belakang yang berbeda, dan penggunaan metode pengajaran yang lebih kooperatif. Rasa hormat siswa terhadap satu sama lain ketika mereka kelak tumbuh dewasa, akan menghasilkan keuntungan akademis dan sosial.
Meskipun banyak sekali pendekatan dalam pengelolaan kelas guna mewujudkan iklim kelas yang kondusif, pengalaman penulis dalam hal itu lebih mengunakan pendekatan berdasarkan suasana perasaan dan suasana sosial. Menurut pendekatan ini, pengelolaan kelas merupakan suatu proses menciptakan iklim atau suasana emosional dengan hubungan sosial yang positif dalam kelas. Di sini guru adalah kunci terhadap pembentukan hubungan pribadi itu, dan peranannya adalah menciptakan hubungan pribadi yang sehat. Seperti yang diterapkan di SDN 01 Tegalontar, Sragi. (bp1/zal)
Guru SDN 01 Tegalontar, Sragi Editor : Agus AP