RADARSEMARANG.ID, Semarang – Di tengah deretan rumah warga RW 4 Kelurahan Bongsari, Kecamatan Semarang Barat, berdiri sebuah bangunan dua lantai.
Di sanalah suara tawa anak-anak kecil terdengar riang, bercampur dengan suara gemericik air dari sumur artetis yang tak jauh dari halaman.
Air itu bukan sekadar sumber kehidupan warga, tapi juga sumber harapan bagi masa depan generasi emas Indonesia.
Baca Juga: Kecamatan Semarang Barat Buat Sumur Organik untuk Menampung dan Mengurai Sampah MBG Secara Alami
Adalah Pos PAUD Tirta Kenanga, lembaga pendidikan anak usia dini yang kini menjadi percontohan “PAUD Emas” berbasis masyarakat di Jawa Tengah.
Launching program tersebut digelar meriah, dihadiri langsung oleh Bunda PAUD Provinsi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin bersama Bunda PAUD Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti.
“Alhamdulillah, Pos PAUD Tirta Kenanga mendapat kehormatan menjadi lokasi piloting project PAUD Emas. Di sini, masyarakat benar-benar berperan aktif. Operasional PAUD ini sebagian besar dibiayai dari hasil pengelolaan air artetis warga,” tutur Bunda PAUD Kecamatan Semarang Barat, Femega Dian Elly Asmara.
Femega menceritakan, setiap bulan, RW 4 Bongsari mengalokasikan dana hasil penjualan air dari sumur artetis yang melayani sekitar 600 kepala keluarga.
Dana tersebut bukan hanya untuk operasional PAUD, tapi juga pernah digunakan membangun balai RW dua lantai, yang kini menjadi tempat belajar anak-anak PAUD Tirta Kenanga.
“Dulu bangunan ini berdiri dari hasil air itu juga. Jadi, benar-benar dari masyarakat untuk masyarakat,” ujarnya.
Tak hanya urusan fisik bangunan, semangat gotong royong warga juga terasa dalam kegiatan harian. Ibu-ibu PKK menjadi motor utama penyelenggaraan kegiatan pendidikan dan pengasuhan anak.
Femega menambahkan, pihak kecamatan turut memfasilitasi proses perizinan, akreditasi, hingga peningkatan kapasitas guru-guru PAUD di wilayah Semarang Barat yang jumlahnya mencapai lebih dari 100 lembaga.
“Selain administrasi, kami fokus pada peningkatan kualitas guru. Karena kualitas anak-anak sangat tergantung pada pendidiknya,” tambahnya.
Pos PAUD Tirta Kenanga sendiri bukan lembaga sembarangan. Lembaga ini pernah meraih predikat PAUD HI (Holistik Integratif).
Karena menggabungkan aspek pendidikan, kesehatan, gizi, dan pengasuhan anak dalam satu sistem.
Selain itu, setiap bulan, kegiatan Posyandu dan Bina Keluarga Balita (BKB) rutin berjalan berdampingan dengan proses belajar-mengajar.
“Anak-anak PAUD kami juga ikut Posyandu. Jadi perkembangan fisik dan mentalnya bisa dipantau langsung,” kata Femega.
Baca Juga: Inilah Bocoran Lengkap Toyota Veloz Hybrid 2025, Harganya Segini
Program holistik itu bahkan berkembang hingga Posyandu Tirta Kenanga kini berstatus Posyandu 6 SPM (Standar Pelayanan Minimal) sejak beberapa tahun terakhir. PAUD ini berdiri sejak 2009 dan kini telah diakui resmi oleh Dinas Pendidikan Kota Semaranng.
Seiring dengan penerapan pendidikan wajib belajar 13 tahun, yang mencakup satu tahun PAUD pra-sekolah.
“Artinya, PAUD kini bukan lagi pendidikan nonformal belaka, tapi sudah jadi bagian dari pendidikan dasar dan menengah,” jelasnya.
Sementara itu, Camat Semarang Barat, Elly Asmara, menegaskan komitmen pemerintah kecamatan dalam mengawal program PAUD Emas agar menjadi inspirasi bagi wilayah lain.
“Kami mendukung penuh program ini. PAUD Tirta Kenanga menunjukkan kemandirian tinggi dan tata kelola yang baik. Ini contoh ideal partisipasi masyarakat,” ujarnya.
Menurut Elly, kriteria PAUD Emas mencakup ketersediaan layanan, akses yang terbuka, kualitas pendidikan, tata kelola yang transparan, dan kebermanfaatan bagi lingkungan. Semua aspek itu terpenuhi di PAUD Tirta Kenanga.
“Anak-anak PAUD inilah yang nanti, dua puluh tahun lagi, akan menjadi generasi emas Indonesia. Mereka calon pemegang peran penting di masa depan. Karena itu, apa yang kita tanam hari ini adalah investasi untuk bangsa,” pungkasnya. (fgr)
Editor : Baskoro Septiadi