Hitung Kancing ketika Membuka Hasil Tes Covid-19

Pengalaman Menjadi ODP dengan Isolasi Mandiri (5)

607
BAEHAQI-Direktur Jawa Pos Radar Semarang
BAEHAQI-Direktur Jawa Pos Radar Semarang

RADARSEMARANG.ID – Orang bilang masa menunggu itu menjemukan. Bagi saya malah panas-dingin, gemetaran, resah, khawatir, dan takut. Semua bercampur menjadi satu. Itulah masa menunggu hasil tes Covid-19.

Pagi sepulang dari RSUD KRMT Wongsonegoro Kota Semarang, saya masuk kamar. Lampu tidur masih menyala. Rasanya gelap. Sinarnya memang temaram. Saya buka gorden lebar-lebar. Masih saja terasa tidak terang. Padahal sudah pukul 9 lebih. Saya nyalakan seluruh lampu di kamar. Ada sepuluh. Satu lainnya yang paling besar mati.

Mata bekunang-kunang. Sulit untuk membaca Alquran yang sudah saya buka. Kepala terasa pening. Saya keluar kamar. Duduk di teras. Ingin membaca kitab suci sambil menikmati gemericik air pancuran kolam renang. Rasanya malah ambyar. Tulisan dalam Alquran itu seolah bergoyang.

Alquran saya tutup lagi. Ganti ingin merebus mie. Bikin sarapan yang paling simpel. Tapi, saya urungkan. Lupa kalau sudah diajak makan oleh Arif Riyanto, Pemimpin Redaksi Radar Semarang, yang mengantar saya tes covid. Di meja teras kamar juga ada bubur sagu campur ketela yang saya suka. Ada juga salad buah dengan yoghurt dan keju.

Indah Fajarwati, Manajer Keuangan Radar Semarang, mengontak saya. Dia yang membelikan makanan di meja tersebut. “Bapak di mana?” tanyanya. “Di kamar,” jawab saya pendek. “Oalah, tadi kata Mas Antok diketuk-ketuk pintunya, tidak ada,” sergah ibu tiga anak itu. “Ya, kan tadi jalan-jalan.” Jawab saya meyakinan. Jalan-jalan itu kebiasaan saya setiap pagi. Kalau di Semarang di Simpang Lima.

Sekretaris perusahaan itu rupanya tidak percaya. “Oalah, saking pundi (dari mana)?” tanyanya lagi. Saya memang tipu dia. Saat itu saya di kamar. Namun, tidak mendengar suara pintu diketuk. Konsentrasi lagi kacau.

Indah sebenarnya sudah tahu kalau saya di kamar. Tahu juga kalau saya dari rumah sakit untuk tes covid. Arif  yang memberi tahu. Bahkan saat itu Arif masih di depannya.

Saya paham. Dia paranoid. Ketakutannya di atas ubun-ubun. Dialah yang mencret setelah mengetahui saya pernah kontak dengan penderita korona (Baca tulisan seri 1 Serasa Telah Dijemput Malaikat Maut, 2 Semalam Suntuk Tidak Bisa Tidur, 3 Karyawan Panik, Ada yang sampai Mencret dan 4 Rapid Test Itu Simpel tapi Menakutkan). Saya datangi dia di ruangannya agar tenang. Saya tunjukkan kalau saya sehat. Saya sapa teman-teman admin dengan senyum dan tawa. Meskipun di hati sebenarnya kecut.

Segera saya kembali ke kamar. Membaca Alquran. Saya paksakan. Sebentar-sebentar berhenti. Ingat tes covid yang baru saya jalani. “Sudah di-WA hasilnya, Pak?” Tanya Arif lewat WA. Tercatat pukul 09.42. “Kok belum, ya. Tolong tanyakan,” jawab saya. Tidak ada keberanian untuk menanyakan sendiri.

Lima menit kemudian ada WA masuk lagi. Dari nomor yang tidak saya kenal. Belum tersimpan di HP. Saya tak berani membuka. Di bawah nomor kelihatan pesan, “Niki hasilnya, Bapak.” Saya yakin itulah hasil tes covid saya. Saya semakin tak berani membuka. Hasilnya cuma dua kemungkinan. Positif atau negatif korona.

Saya gaspol dzikir seperti yang dibaca orang sehabis salat. Saya teguhkan hati dan pikiran. “La ilaha illa huwa yuhyi wayumitu (Tidak ada Tuhan kecuali Dia, yang maha menghidupkan dan maha mematikan).” Seperti tersebut dalam surat Al-a’rof ayat 158. Kalau Allah menghendaki hidup pasti dihidupkan. Demikian sebaliknya. Mati bisa kapan saja. Pada akhirnya semua orang juga akan mati.

Saya tarik pelan-pelan HP. Memberanikan diri membuka pesan tersebut. Bismillahirramanirrahim. Negatif, positif, negatif. Saya malah menghitung kancing seperti orang kebingungan ketika menjawab soal multiple choice. Isinya gambar selembar kertas. Agak gelap. Tidak kelihatan tulisannya. Ketika di-zoom baru terbaca.

Isinya seperti hasil tes laboratorium pada umumnya. Ada data-data diri. Saya fokuskan perhatian pada hasil tes. Alhamdulillah. Saya berucap syukur berulang-ulang. Hasil tes covid saya negatif. Kalau dibahasakan kira-kira bunyinya begini: tes rapid covid-19 Ig G hasil negatif. Tes covid-19 Ig M hasil negatif. Keduanya disertai pembanding nilai normal. Yaitu negatif.

Hanya dua kondisi itulah yang diperiksa dengan rapid test. Keduanya masuk katagori imunologi. Karena itulah banyak ahli yang mengatakan rapid test  belum memeriksa virus. Akurasinya disebut-sebut 85-90 persen. Masih mungkin salah. Yang paling tepat dengan swab. Mengambil sampel lendir tenggorokan. Diperiksa di laboratorium. Itu memeriksa langsung keberadaan  virus.

Hasil itu langsung saya kirim ke Arif, Indah, Etty Muyassaroh, Manajer Keuangan Radar Kudus, dan anak-anak saya di Sidoarjo. Saya umumkan di grup WA Radar Kudus dan Radar Semarang. Untuk menenangkan para karyawan. Semua berucap syukur.

Saya lanjutkan membaca Alquran sebagai wujud syukur. Beberapa menit kemudian Arif mengirim pesan. Kata-kata aslinya seperti ini.  “Pak bae, bu susi wa saya. Hari 7-10 diminta  rapid test lagi. Dan menjalani isolasi mandiri 14 hari.”

Mata yang sudah terang tiba-tiba terasa gelap lagi. Kepala yang sudah enteng menjadi pusing lagi. Niat untuk mengajak makan siang Arif dan Indah saya urungkan. Tak jadi bersuka ria.

Tes covid pertama belum benar-benar menunjukkan bebas dari korona. “Negatif di awal, bisa jadi tes kedua positif,” kata Arif malah menakut-nakuti. Saya menjadi syok lagi. Arif juga begitu. “Glodak, ternyata belum berakhir. Was-was lagi,” katanya. Malam sebelumnya dia mandi keramas berulang-ulang. Minta dibelikan jahe panas pukul 00.30.

Direktur Utama RSUD KRMT Wongsonegoro Susi Herawati berpesan agar saya melakukan isolasi mandiri selama 14 hari. Dia memberi tolerasi bisa bertemu orang dengan jarak 1,5 – 2 meter. Itu pun harus memakai masker. “Jadi,  ke luar yang penting saja,” tambah Arif.

Dengan hati yang lapang, saya lakukan itu. Saya yakinkan diri tes covid belum tentu negatif. Yang positif belum tentu mati. Masih bisa sembuh. Bersambung. (hq@jawapos.co.id)





Tinggalkan Balasan