Rapid Test Itu Simpel tapi Menakutkan

Pengalaman Menjadi ODP dengan Isolasi Mandiri (4)

650
BAEHAQI-Direktur Jawa Pos Radar Semarang
BAEHAQI-Direktur Jawa Pos Radar Semarang

RADARSEMARANG.ID – “Pak Bae, jam 08.00 sampai RS Ketileng. Gedung Amarta lantai 1. Saya minta foto KTP untuk daftar dulu, Pak. Nuwun.” Itu pesan WA. Saya terima pukul 06.54. Itulah pesan pertama yang saya terima setelah salat subuh tanggal 28 Maret 2020. Rasanya, saat itulah vonis hidup atau mati akan dijatuhkan.

Pengirim pesan itu Arif Riyanto, Pemimpin Redaksi Radar Semarang. Dia yang sebelumnya mendampingi saya ke RSUP Dr Kariadi. Saya segera tahu maksudnya. Itulah jadwal tes Covid-19 saya. Di RSUD KRMT Wongsonegoro yang lokasinya di Ketileng, Sendangmulyo. Milik Pemerintah Kota Semarang.

Saat itu juga saya mengakhiri membaca Alquran yang saya lakukan sejak usai salat subuh. Kegiatan itu sudah menjadi kebiasaan. Saya perbanyak setelah mengalami ketakutan akibat kontak dengan penderita korona (Baca tulisan seri 1 Serasa Telah Dijemput Malaikat Maut, 2 Semalam Suntuk Tidak Bisa Tidur, dan 3 Karyawan Panik, Ada yang sampai Mencret). Enam hari dalam masa isolasi sudah khatam 30 juz.

Pukul 08.00 itu RS Wongsonegoro masih sepi. Banyak tempat parkir kosong. Padahal, biasanya selalu penuh. Saat itu, pengunjung rumah sakit sudah dibatasi. Tidak boleh ada pembesuk. Penunggu pasien hanya satu orang. Saya membayangkan di gedung inilah vonis positif atau negatif korona diputuskan.

Yang kelihatan sibuk justru di Gedung Balai Pendidikan dan Latihan yang nyaris bersebelahan dengan rumah sakit. Itu milik Pemkot Semarang. Untuk sementara akan digunakan menampung Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Luberan dari RSUD  Wongsonegoro. Persiapannya sudah selesai. Pagi itu Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi akan meninjau.

Begitu masuk Gedung Amarta langsung terlihat Pojok Covid-19. Letaknya di sebelah kanan pintu. Ada tulisannya. Lagi-lagi saya membayangkan kematian. Nderedeg. Berkeringat. Di situlah sehari-hari orang yang akan melakukan pemeriksaan Covid-19 dilayani. Tetapi saat itu kosong. Kayaknya belum buka.

Arif Riyanto yang akrab disapa Aro meledek. “Mestinya Pak Baehaqi foto di situ.” Saya tertawa. Di hati saya bilang, “Biar menjadi kenang-kenangan kalau saya mati.”

Saya diarahkan langsung ke laboratorium oleh Pak Puri dari RSUD Wongsonegoro. Melewati lorong-lorong rumah sakit. Situasinya juga sepi. Itu sebenarnya biasa. Masih terlalu pagi. Tapi bagi saya, yang sudah dua kali ke rumah sakit itu, beda. Serasa menjemput maut. Di badan terasa dingin. Padahal ketika dites di pintu masuk, suhu badan normal, 36,3 derajat Celcius.

Di Semarang bukan hanya RSUD Wongsonegoro yang menjadi rujukan Covid-19. Banyak rumah sakit lain. Seperti, RSUD Tugurejo, RSI Sultan Agung, RS St. Elizabeth, RS Columbia Asia, RS Telogorejo, RST Bhakti Wiratama, dan RS Bhayangkara. Di kota lain juga banyak.

Ada beberapa cara untuk mengetahui seseorang terserang korona. Ugik Praptono, Manajer Iklan Radar Kudus diperiksa dengan tes darah di laboratorium. Dia batuk berat. Terjadi peradangan parah pada tenggorokan. Di RSUD Loekmonohadi Kudus darahnya diambil. Diperiksa di laboratorium. Dilihat hematologinya. Kalau hemoglobin, lekosit, dan limfosit normal, besar kemungkinan tidak terkena korona. Ugik normal.

Empat orang staf kantor Radar Kudus Biro Pati juga diperiksa seperti itu. Mereka sekantor. Saya perintahkan semua melakukan tes Covid-19. Biayanya saya tanggung (akhirnya dibayar kantor). Ada yang pernah bersalaman dengan Imam Suroso sebelum Imam dinyatakan terkena korona.  Mereka bersama saya ketika bertemu Imam. Semua ketakutan. Alhamdulillah, setelah saya paksa tes hasilnya semua negatif.

Sudah saya perintahkan juga kantor bironya disemprot disinfektan. Dan sudah dilakukan PMI. Kantor itu juga dikosongi (lockdown) 14 hari. Seluruh karyawan mengisolasi diri seperti saya. Mereka WFH (work from home) alias kerja dari rumah. “Sekarang masuk kantor biro saja masih horor,” komentar Sri Pujiwati, wartawati Radar Kudus di Pati.

Saya juga instruksikan agar seluruh kantor Radar Kudus dan Radar Semarang disemprot disinfektan. Sebagian besar karyawan WFH. Saya perintahkan itu sebagai respon positif terhadap imbauan pemerintah. Tinggal sebagian kecil karyawan yang kerja di kantor (WFO).

Cara lain lagi yaitu swab. Dengan mengambil sampel lendir tenggorokan. Diperiksa di laboratorium. Biasanya dilakukan terhadap orang yang dinyatakan positif korona dengan metode sebelumnya. Pasien korona harus diperiksa dengan cara ini. Kalau sudah tiga kali diperiksa dan hasilnya negatif terus, dinyatakan sembuh.

Saya diperiksa dengan cara yang paling simpel. Yaitu rapid test. Alatnya dari luar negeri. Ulil, wartawan Radar Kudus di Biro Pati, juga dites seperti saya di RSUD Suwondo Pati. Wartawan Radar Kudus itu meliput kegiatan bagi-bagi masker yang dilakukan Imam Suroso di Pasar Puri Pati 20 Maret 2020. Malamnya Imam Panas. Tanggal 27 Maret meninggal. Diagnosanya positif korona.

Ulil yang asli Jepara syok. Sama dengan saya. Tak bisa tidur. Tidak berani ke mana-mana. Takut berbicara kepada siapa saja. Pesan WA saya juga tidak dijawab. “Nonton film Mak Lampir terus, Pak, biar tenang,” ujarnya.

Saya paksa dia untuk mengikuti rapid test. Semula keberatan. Akhirnya dilakukan di RSUD Suwondo Pati. Hasilnya negatif. Alhamdulillah. Sekarang sudah bisa tertawa. Tapi masih dalam masa isolasi 14 hari.

Alat rapid test itu kecil kompak. Darah diambil  dengan menusukkan jarum di ujung jari. Tusukannya sudah diatur secara otomatis hanya sampai bawah kulit. Cukup ditekan sampai bunyi klik. Darah keluar setetes. Ini seperti pemeriksaan kolesterol dan asam urat di apotik. Darah itu kemudian dioleskan pada alat yang tersedia.

Meski sesimpel itu, menjalaninya tidak sederhana. Saya tegang. Berkeringat. Susternya irit bicara. Saya tatap wajahnya yang menggunakan masker. Yang terlihat seperti malaikat maut. Saya makin tidak tenang. Hati saya berhitung bunyi tokek: negatif, positif, negatif. Bibir lantas berucap, “La haula wala quwwata illa billahilaliyyil adlim (Tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas petolongan Allah yang maha tinggi dan agung). Semoga negatif.”

Tidak semua rumah sakit memiliki rapid test. Karena itu, pemerikaan Ulil menunggu beberapa hari. Dia dites dengan rapid 30 Maret. Selang tiga hari setelah Imam meninggal.

Tidak semua orang juga bisa melakukan tes korona. Ada prosedurnya. Itu karena fasilitas kesehatan dan tenaganya terbatas. Yaitu, orang yang kontak dengan orang yang positif korona atau pernah berkunjung ke negara/daerah endemik Covid-19 dalam 14 hari terakhir. Itu pun dengan tanda-tanda sedang atau pernah mengalami demam di atas 38 derajat Celcius, pilek, batuk, atau sesak nafas.

Saya termasuk pernah kontak dengan penderita korona meskipun sebelum dia dinyatakan positif. Juga mengalami pilek. Tapi tidak panas, tidak batuk, tidak kesulitan menelan, dan tidak sesak nafas. Teman-teman menyarankan agar saya tes korona. Dokter juga begitu. Saya menegarkan diri.

Hasil rapid test itu sebenarnya cepat keluar. Ditunggu pun bisa. Tapi dokter menyarankan agar saya pulang. Mengisolasi diri. Selama 14 hari. Hasil tes akan dikirim lewat WA. Saya nurut saja. Sambil menenangkan diri. Bersiap menghadapi kenyataan. Bersambung. (hq@jawapos.co.id)





Tinggalkan Balasan