Serasa Telah Dijemput Malaikat Maut

Pengalaman Menjadi ODP dengan Isolasi Mandiri (1-Barsambung)

628
BAEHAQI-Direktur Jawa Pos Radar Semarang
BAEHAQI-Direktur Jawa Pos Radar Semarang

RADARSEMARANG.ID – Saya termasuk Orang Dalam Pemantauan (ODP). Pernah bersalaman dengan korban positif virus korona yang akhirnya meninggal. Sekarang masih melakukan isolasi mandiri.

Kabar itu datang pukul 21.22 tanggal 27 Maret 2020. Yang menyampaikan Saiful Amri, karyawan Jawa Pos Radar Kudus yang ditempatkan di Pati. Beritanya pendek. “Kabar duka dari Pati. Pak Imam Suroso meninggal dunia.”

Saat itu saya di Semarang. Sedang membaca halaman koran Radar Kudus dan Radar Semarang yang baru diselesaikan para redaktur. Itu kebiasaan setiap malam. Koran itu akan terbit besok. Semua kegiatan lantas saya hentikan. Kabar meninggalnya Imam Suroso mengagetkan.

Dia orang baik. Namanya terkenal dengan sebutan Mbah Roso. Dia menjalin kerja sama dengan Radar Kudus. Beberapa kali menghadiri acara yang digelar koran itu. Pernah juga menerima penghargaan yang pialanya saya serahkan. Saya juga pernah bersailaturrahim ke rumahnya di Pati.

Imam meninggal setelah diketahui positif terserang virus korona. Dia dirawat di RSUP Dr Kariadi Semarang sejak 22 Maret. Badannya panas tanggal 20 Maret. Berarti dia wafat hanya tujuh hari sejak mengeluh panas. Kalau betul meninggalnya karena korona, virus itu betul-betul ganas.

Saya kontak dengannya 16 hari sebelum wafat. Tepatnya 11 Maret. Tapi kalau dihitung sejak dia mengeluh panas hanya berjarak sebelas hari. Atau, sembilan hari sebelum dia masuk rumah sakit. Masih dalam rentang masa inkubasi korona. Karena itu tergolong ODP (Orang Dalam Pemantauan). Istilah ini untuk menyebut orang yang pernah kontak dengan penderita korona. Sedangkan yang dirawat di rumah sakit namanya PDP (Pasien Dalam Pengawasan). Keduanya belum tentu positif terkena korona.

Meninggalnya Imam menggemparkan. Dia anggota DPR RI. Tergabung dalam Komisi IX bidang kesehatan. Anggota Fraksi PDIP itu pemilik Rumah Sakit Mitra Bangsa Pati. Rumah sakit itu baru mendapat sertifikat bintang 5 (paripurna). Diserahkan dalam perayaan ulang tahun 13 Maret lalu. Saya diundang.

Saya datang ketika kursi tamu masih kosong. Mengambil tempat paling pinggir. Pada dereten tengah. Begitu tiba Imam langsung menghampiri saya. Bersalaman dan adu banteng (beradu kepala sebagai ganti cipika-cipiki). Dia memaksa saya untuk pindah tempat duduk pada deretan paling depan. Itu kursi sofa yang biasanya untuk tamu VVIP. Di meja ada buah-buahan.

Lagi-lagi saya mengambil posisi paling pinggir. Imam mendampingi. Istrinya duduk di deretan tengah bersama pengurus yayasan lain. Jajaran manajemen di bagian kiri. Jadilah saya berduaan dengan Imam sepanjang acara. Sekitar dua jam sejak pukul 10.00. Saya merasa sangat diistimewakan.

Imam mengenakan batik berwarna dasar krem. Motifnya coklat tua, merah, dan biru. Saya memakai batik tulis lasem motif sekar jagad berwarna merah. Celana sama-sama hitam.

Dia kelihatan fresh. Potongan rambutnya tampak masih baru. Bagian depan dibiarkan natural. Wajahnya bersih berseri-seri. Teman saya sampai berpikir dia bukan Jawa. “Opo iyo?” tanyanya setelah melihat foto Imam dengan saya yang sangat dekat.

Pembicaraan dengan Imam gado-gado. Soal politik, pemerintahan, kesehatan, BPJS, dan kegiatan sehari-hari. Tidak ada yang menyangkut virus korona. Saat itu korona belum heboh-heboh amat. Belum kondisi luar biasa. Tercatat, baru 34 kasus positif. Malah belum ada yang meninggal. Sehari kemudian baru ada korban yang wafat. Yaitu, pasien korona nomor 25.

Saya syok setelah tahu Imam posisif korona. Wafatnya dalam waktu cepat lagi. Tanggal 20 Maret dia masih menjalani operasi mata ikan di kaki di RS Mitra Bangsa Pati miliknya. Sore melakukan bakti sosial dengan bagi-bagi masker di Pasar Puri Pati. Tidak ada tanda-tanda sakit. Apalagi terserang korona. Malamnya baru panas.

Ketika mendapat kabar dia wafat, saya belum berpikir macam-macam. Saya teruskan kabar itu di grup WA Radar Kudus. Beserta gambar saya dengan Imam berdua ketika ulang tahun Mitra Bangsa. Saya mengajak teman-teman mendoakan semoga husnul khotimah.

Saya baru merasa aneh ketika bertanya kepada Saiful lebih lanjut. Dia tidak mau mengatakan sakitnya. “Dimakamkan malam ini juga,” katanya. Dia tidak menyebutkan alasan dan tempat pemakamannya.

Saya baru paham ketika Manajer Keuangan Radar Kudus Etty Muyassaroh mengunggah status WA. Imam meninggal karena positif korona. Saya pun berkonsultasi apa yang harus saya lakukan. Dia orang yang saya percaya. “Tes covid, Pak. Isolasi mandiri untuk sementara waktu. Jangan pergi-pergi dulu,” katanya.

Saat itulah saya menjadi ketakutan luar biasa. Serasa telah dijemput malaikat maut. Bersambung. (hq@jawapos.co.id)





Tinggalkan Balasan