RADARSEMARANG.ID, Semarang — Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah (Jateng), akan segera menggelar Konferensi Wilayah (Konferwil).
Sejumlah nama ulama, kiai, bahkan gus (putra kiai) mulai muncul dikalangan warga nahdliyin. Mereka akan berkontestasi dalam pemilihan Ketua Tanfidziyah dan Rais Syuriyah.
Salah satunya, KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin. Saat ini didapuk sebagai Katib Syuriyah Pengrus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Selain itu, ia menjabat sebagai Ketua Asosiasi Pesantren Seluruh Indonesia.
Putra dari KH Mochammad Achmad Mahfudh Sahal mengaku siap untuk mengikuti kontestasi Konferwil PWNU Jateng sebagai salah satu calon Tanfidziyah.
Ia mengaku sudah melakukan sowan ke sejumlah kiai-kiai besar untuk meminta restu. Bahkan sudah berkunjung ke sejumlah 32 Pengurus Cabang (PC) NU.
“Saya juga sudah berkeliling dan sowan ke 400 lebih Majelis Wakil Cabang (MWC) NU di Jateng,” tuturnya.
Berdasarkan restu dan dukungan dari kiai dan PCNU dan MWCNU, Gus Rozin memantapkan dirinya untuk ikut dalam kontestasi pada Konferwil PWNU Jateng. Lalu seperti apa sepak terjang, kiprah Gus Rozin di NU selama ini. Berikut profilnya:
Putra dari KH Mochammad Achmad Mahfud Sahal (Pati)
Abdul Ghaffar Rozin lahir 31 Juli 1976 (47 tahun, di 2023). Ia adalah seorang gus, atau putra ulama besar. Yakni KH Mohammad Sahal Mahfudh, Nyai Hj Nafisah Sahal. Sejak belia, ia tumbuh dalam lingkungan pesantren yang kental dengan amaliyah dan klutur NU.
Lebih tepatnya, Gus Rozin sejak kecil hidup Pondok Pesantren Maslakul Huda (PMH) Kajen, Kabupaten Pati yang diasuh oleh ayah dan ibunya, Kiai Sahal Mahfudh dan Nyai Nafisah.
Sejak kecil ia ditempa dalam keluarga yang mencintai NU. Ayahnya, Kiai Sahal Mahfudh selain ulam besar juga tokoh besar di NU. Bahkan pernah menjabat sebagai Rois Aam PBNU (1999-2014). Sedangkan ibundanya, Nyai Nafisah aktif memperjuangkan Muslimat NU.
Jebolan Monash University (Australia)
Sosok Gus Rozin dikenal supel dan cerdas. Ia memulai pendidikan dasar (MI), MTS hingga MA di Perguruan Islam Mathali’ul Falah di Kajen, Pati. Lulus SMA, ia langsung belajar ngaji sebagai santri di Pondok Pesantren Fathul Ulum, Kediri, Jawa Timur (Jatim).
Baru sekitar tahun 2000, ia melanjutkan pendidikan formalnya dengan mengambil sarjana ilmu filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyakara. Meski sekolah di lingkungan non muslim namun hal itu mengganggu akidahnya.
“Bahkan oleh abah (Kiai Sahal Mahfudh, Red) dipersilahkan. Abah selalu memberikan kebebasan dan tidak pernah melarang,” akunya.
Dalam waktu hampir bersamaan, Ia juga kuliah di Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Aqidah Al-Hasyimiyah (Jakarta). Salah satu perguruan tinggi yang pernah dipimpin oleh KH. Abdurrahman Wahid alias Gusdur. Selesai pendidikan sarjana, ia melanjutkan magister (S2) di Monash University (Australia).
Bahkan, Gus Rozin merupakan salah satu lulusan terbaik jurusan Bidang Studi Kepemimpinan, Kebijakan, dan Perubahan pada 2004. Kemudian 2023 ini, Gus Rozin telah menyelesaikannya gelar doktor (S3) di UIN Walisongo.
Khidmah di NU
Sejak muda, Gus Rozin sudah aktif diberbagai organisasi di NU. Bahkan ia pernah menjadi Pengurus Pusat Ikatan Pelajar Nahdlaltul Ulama (IPNU) 1998-2001. Dari IPNU ia meneruskan jenjang perkaderan di dengan ikut Gerakan Pemuda (GP) Ansor. Pada 2000-2004 ia dipercaya untuk mengemban amanah Departemen Hubungan Luar Negeri di Pengurus Pusat (PP) Ansor.
Kenyang perkaderan di GP Ansor, Gus Rozin mulai aktif di organisasi Nahdlatul Ulama. Kipawaiannya dalam menata dan memanajemen pondok pesantren, menempatkan dirinya dalam kepengurusan Rabithah Ma'ahid al-Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU). Kurun waktu 2013-2015 sebagai Ketua PW RMINU Jateng.
Kemudian meningkat pesat sebagai Ketua PP RMINU periode 2015-2021. Sekarang, Pengasuh Ponpes Maslakul Falah Kajen Pati itu dipercaya sebagai Katib Syuriyah PBNU.
Inovasi dan Terobosan NU
Selama ia aktif di NU, banyak Inovasi dan terobosan yang telah lahirkan dari ide pemikiran Gus Rozin. Ia adalah pemotor pertama program gerakan ‘Ayo Mondok’.
Yakni gerakan untuk menyadarkan masyarakat untuk memberikan pendidikan anaknya di Pondok Pesantren.
Sebab menurutnya, Pesantren merupakan kawah candradimuka yang melahirkan tokoh-tokoh besar Indonesia.
Seorang santri yang tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual tapi juga spiritual. Santri memiliki sikap toleransi dan sopan santun.
"Rata-rata lulusan pesantren memiliki pondasi pemahaman agama dan toleransi yang kuat. Sehingga Islam rahmatan lil 'alamin itu bisa dirasakan,” tegasnya.
Gus Rozin juga salah satu orang yang mengadvokasi lahirnya ‘Hari Santri Nasional’ (HSN) yang bisa diperingati pada 22 Oktober.
Perhatiannya kepada santri juga tak kalah, ia ingin menunjukkan santri tidak hanya cakap membaca kitab. Tapi santri harus bisa segala hal. Termasuk dalam olahraga sepak bola.
Gus Rozin kemudian mencetuskan ‘Liga Santri Nusantara’ (LSN). Yakni sebuah kompetisi sepoak bolah tingkat nasional dengan peserta adalah santri dari pondok pesantren se-Indonesia.
Pertama dilaksanakan, tak kurang dari 1.300 klub kesebelasan santri meramaikan ajang bergengsi tersebut.
Masih di RMINU, Gus Rozin aktif dan konsen terhadap Literasi Digital, Kemandirian Pesantren, Beasiswa Santri dan sebagainya.
Dengan pengalaman dan jejaring hingga tingkat pusat, Gus Rozin mampu untuk menjadi penggera dan pembawa perubahan organisasi yang dikelolanya. (bud/bas)
Editor : Baskoro Septiadi