Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Guratan Kuku di Kursi Bukti Kemarahan Diponegoro pada Belanda

Agus AP • Senin, 21 Juni 2021 | 20:29 WIB
Sunaryo menunjukkan jubah yang pernah dikenakan Pangeran Diponegoro. (ROFIK SYARIF G P/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Sunaryo menunjukkan jubah yang pernah dikenakan Pangeran Diponegoro. (ROFIK SYARIF G P/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RADARSEMARANG.ID - Patung Pangeran Diponegoro sedang berkuda di Alun-alun Kota Magelang bukan tanpa alasan didirikan di sana. Karena Kota Magelang menjadi saksi perjuangan Sang Pangeran melawan kebengisan penjajah Belanda. Jejak-jejak sejarah lain ada di Museum Diponegoro. Menyimpan koleksi barang-barang pribadinya. Sampai kini masih terawat.

Wartawan koran ini dipandu pria yang akrab dipanggil Mbah Sunaryo. Mengelilingi museum yang berada di Jalan Diponegoro Nomor 1, Magelang.

Sunaryo bercerita, Diponegoro termasuk musuh yang sulit dikalahkan. Belanda, di bawah Jenderal Hendrik Merkus de Kock, terpaksa menipu. Diponegoro diundang untuk berunding. Ternyata hanya siasat Belanda untuk menangkapnya. “Tempat perundingan inilah yang dijadikan lokasi Museum Diponegoro,” kata Sunaryo.

Pada 11 Agustus 1977, museum ini diresmikan. Berada di dalam komplek eks Kantor Pembantu Gubernur Wilayah Kedu. Lokasi ini membuat museum makin istimewa. Pengunjung harus berjalan melewati gerbang pembatas yang memisahkan luar gedung dengan halaman rumah dinas. Dari sini, pengunjung bisa melihat sebuah bungalow yang sering digunakan untuk foto prewedding. Disuguhkan pemandangan Gunung Sumbing. Di sekitaran museum, pohon-pohon tumbuh subur, sampai berukuran besar. Menambah keasrian museum.

Setelah sampai di pendopo rumah dinas Kantor Pembantu Gubernur Wilayah Kedu, wartawan koran ini berjalan ke sayap kiri. Terdapat sebuah ruangan kamar, petilasan Pangeran Diponegoro.

Sebelum masuk ke ruangan, alas kaki wajib dilepas. Serta mengucap salam. Sebagai bentuk penghormatan, dan menjaga kebersihan ruangan museum seluas 2.552 meter persegi ini.

Di ruang itu, masih tersimpan jubah yang dikenakan Diponegoro. Ada juga meja kursi saat berunding, teko atau poci, dan tujuh cangkir minuman. Lalu bale-bale yang pernah digunakan tempat salat Diponegoro saat berperang di daerah Gombong Kebumen. “Jubah inilah yang dipakai Pangeran Diponegoro saat berunding dengan Belanda,” ucapnya.

Kata dia, ketika ditangkap, salah seorang putra menantu Diponegoro telah diberi jubah ini. Berbahan kain santung yang berasal dari Tiongkok. “Sebelumnya, jubah ini disimpan di Jogjakarta oleh RM Bekel Mangun Suribowo,” tuturnya sambil menunjuk beberapa lukisan yang menggambarkan perjuangan Diponegoro.

Kemudian ada empat kursi, dan satu meja kayu kuno menjadi saksi bisu kemarahan Diponegoro. Furniture ini menjadi ikon museum. Pada pegangan kursi, terdapat bekas guratan kuku, karena menahan amarah atas kelicikan Belanda. “Posisi tempat duduk ini juga masih sesuai dengan perundingan di tahun 1830.”

Dipajang pula kitab Taqrib dengan isi tulisan Arab gundul. Sunaryo menjelaskan, konon kitab ini merupakan pelajaran strategi yang diberikan oleh gurunya Pangeran Diponegoro. Namun belum ada yang mencoba untuk meneliti keaslian isi dari kitab tersebut.

Cerita menarik lainnya soal satu set poci, dengan tujuh buah cangkir. Katanya, air minum di teko atau poci ini tidak akan pernah habis meskipun sudah digunakan untuk minum satu pasukan. Pada waktu tertentu, tujuh cangkir ini diisi dengan minuman kegemaran Diponegoro. Seperti air mentah, air dlingo bengle, wedang jahe, air putih matang, air dadap serep, teh, dan kopi. “Total ada tujuh jenis minuman yang harus disediakan untuk beliau waktu itu,” jelasnya.

Sebelum pulang, Sunaryo mengajak wartawan koran ini berdoa, di dekat bale-bale. Doa dipanjatkan untuk Pangeran Diponegoro dan semua pahlawan yang sudah wafat untuk merebut kemerdekaan. “Tapi tidak saya wajibkan, kalau yang ingin saja,” ungkapnya. (rfk/put/ton) Editor : Agus AP
#Museum Diponegoro