Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Ngaji Tak Hanya Mencari Bekal Mati, Tapi untuk Hidup Lebih Tertata

Agus AP • Minggu, 26 Maret 2023 | 19:30 WIB
Ratusan santri dari berbagai kalangan dan golongan mengaji di Ponpes Salafiyah Az-Zuhri Semarang. (FIGUR RONGGO WASSALIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Ratusan santri dari berbagai kalangan dan golongan mengaji di Ponpes Salafiyah Az-Zuhri Semarang. (FIGUR RONGGO WASSALIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RADARSEMARANG.ID - Ratusan orang dari berbagai kalangan berbondong-bondong mengikuti pengajian di Pondok Pesantren (Ponpes) Salafiyah Az-Zuhri, Semarang. Ponpes yang dikenal kuat kebersamaan dan persaudaraannya.

Ponpes Az-Zuhri berada di Jalan Ketileng Raya Nomor 13 A, Sendangmulyo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Berdiri secara de jure pada 1989.

Awalnya hanya mengasuh satu dua santri jalanan. Hingga akhirnya ada ratusan santri dari berbagai kalangan dan daerah. Saat ini Ponpes diasuh Muhammad Luqman Hakim (Gus E). Dia merupakan generasi kedua.

Ponpes Az-Zuhri menganut sistem salafiyah yang salafussholihin atau mengedepankan akhlak, mengaji kitab kuning. Tak heran jika di ponpes ini menggunakan bahasa Jawa Krama Inggil dan memegang kitab kuning. Itu sudah menjadi tradisi.

“Kami mengedepankan bagaimana tafsir dan hadits, mengedepankan pengamalannya. Karena sekarang banyak hanya sekedar sebagai status saja," kata Gus E.

Di Ponpes Az-Zuhri dari balita sampai lansia mengaji bersama. Baik pejabat, penjahat, seniman, dan lainnya, duduk bareng mengaji mengedepankan kebersamaan dan persaudaraan. "Tidak hanya santri kepada kiai, tetapi persaudaraan," tegasnya.

Rasa kebersamaan dan persaudaraan itu dirasakan benar oleh Murywanto Broto. Pria 60 tahun itu sudah mengaji di Ponpes Az-Zuhri sejak 2007 bersama istri dan anaknya. Banyak ilmu yang ia dapat dari  sana.

"Ilmu di sini banyak, ilmu gawe sangu urip, ilmu gawe sangu mati, ilmu gawe tukang bangunan juga banyak, karena santrinya ada yang arsitek," kata warga Purwokerto itu.

Baginya, menuntut ilmu tidak dibatasi usia dan jarak. Apalagi di bulan Ramadan, dari berbuka puasa hingga sahur terus mengaji. "Setelah subuh sampai malam ngaji terus. Jadi tidak mikir makannya. Penjelasannya mudah, langsung paham," katanya.

Ponpes Az-Zuhri memiliki sistem kekeluargaan yang sangat kuat. Tidak membedakan golongan. "Tua, muda dipanggil kakang dan mbakyu. Penak dipangan bareng, ora penak disonggo bareng," tuturnya.

Gus E bercerita, dirinya merupakan generasi kedua. Sebelumnya ponpes diasuk oleh ayahnya, Abah Syekh.  Sang ayah mulai dakwah sekitar tahun 1978. Namun ponpes baru resmi berdiri pada 1989.

“Awalnya hanya satu dua santri, itu pun anak jalanan, cah angon, dan lainnya. Dulu santri tinggal di rumah. Keluarga tinggal di lantai atas, bawahnya untuk ngaji,” cerita Gus E.

Saat ini santri yang mondok dibatasi 80 orang. Terbagi 40 putra dan 40 putri. Jika ada yang mau masuk, harus ada yang keluar dulu. Sedangkan santri yang melaju ada 500 hingga 600 orang. Santri laju kebanyakan dari Semarang, Demak, Ambarawa, Purwodadi, Kendal, Solo, dan lainnya. Bahkan setiap akhir pekan ada profesor, dan pejabat yang ikut mengaji.

"Kita di sini duduk bareng karena diajarkan Kanjeng Rosul dengan Uswatun Khasanah. Menggunakan bahasa Jawa, meskipun banyak dari Sunda, Kalimantan, Sulawesi awalnya kesulitan, tapi saya tanya, mereka paham. Inilah yang menyatukan bangsa dan tidak melihat pangkat," katanya.



Gus E mengimbau agar masyarakat yang mengaku hidup beragama itu tidak hanya sekadar salat, puasa, haji dan lainnya. Namun, bagaimana ilmu beragama itu diterapkan di kehidupan sehari-hari. "Maka semuanya ngaji, sampai saya memasang patok kuburan untuk mereka," katanya.

Beda dengan Ponpes lain yang mengacu pada tingkat pendidikan, Ponpes Az-Zuhri mengajak untuk mondok sampai mati. "Yang bermukim pun, setelah kuliah, kerja, dan berumah tangga mau tinggal di Ponpes monggo. Atau kalau sudah ada bekal mau cari rumah sekitar sini monggo, karena sistemnya berbeda," katanya.

Gus E berpesan agar mengaji tidak hanya mencari bekal untuk mati. Tetapi agama menjadi bekal untuk hidup lebih tertata. Di alam barzah bisa enak, di alam kubur bisa enak.

“Kanjeng Rosul mencontohkan bagaimana memiliki etos kerja bagus, bagaimana kehidupan sehari-hari, bagaimana cara berdagang dengan baik. Tak heran jika para auliya itu pintar-pintar dan ilmuan,” ujarnya.

Bahkan, lanjut Gus E, Wali Songo banyak keilmuannya. Seperti Sunan Kalijaga yang memiliki hubungan internasional dan kesenian yang sangat bagus.

"Islam itu banyak ilmiah, maka ayo bergerak, jangan bertanya bagaimana hukumnya membuka warung saat bulan puasa. Tapi berpikirlah lebih jauh tentang teknologi. Maka, di Ponpes Az-Zuhri kita ingin menunjukkan di dalam agama itu untuk menata kehidupan," jelasnya. (fgr/zal) Editor : Agus AP
#top #Ponpes Az-Zuhri #Ponpes Salafiyah Az-Zuhri